Breaking News:

Cerpen

Pohon Hasan

SEKIRANYA itu tidak perlu, saya tidak akan mengenangnya,” tulisHayyan dalam sebuah catatan kecil

Editor: bakri

Karya Ikhsan Hasbi

SEKIRANYA itu tidak perlu, saya tidak akan mengenangnya,” tulisHayyan dalam sebuah catatan kecil yang kutemukan setelah ia meninggal. Aku melihat ada bentuk gumpalangumpalan awan mendung di buku itu. Kukira airmata. Tetesan itu semakin menggenapkan dugaanku tentang esedihannya, melihat apa yang terjadi setelah ia kembali lebih dari 20 tahun masa perantauannya.

Dulu, di depan gedung serbaguna, ada sebuah panggung yang tidak terlalu lebar, yang sering kami gunakan untuk bermain galah, dengan kerindangan di halaman yang luas, cukup menjadi tempat yang paling menyenangkan bagikami menghabiskan waktu sambil bermain, terutama saat bel jam istirahat di sekolah berbunyi. Panggung itu mengusung duagambar gajah yang saling berhadapan yang dikenal sebagai Meurah Duek. Aku dan teman-teman lainnya akan menggambar persegi seluas panggung itu, lalu kami bagi empat berbentukpersegi.

Membutuhkan dua kelompok untuk memainkan permainan itu. Butuh enam penjaga di tiap garis: masingmasing penjaga di garis horizontal yang searah dengan tangga panggung dan tiga penjaga di garis vertikal.

Penjaga bertugas untuk menghalau setiap orang yang ingin melewati garisgaris itu. Seolah garis horizontal yang berdekatan dengan tangga panggung menjadi pintu utama. Para penjaga ini boleh menyarangkan pukulan serupa membulatkan buku tangan, lalu menghantam punggung lawan, atau serupa tepisan, setidaknya mampu menyentuh lawan main. Marah dan malu sudah risiko, tapi sebisanya tidak boleh meluapkan perasaan itu.

Maka berjalanlah permainan sambil mengacak- ngacak langkah. Seorang penjaga akan mengangkat kedua tangan lebar-lebar untuk menjaga dua pintu yang saling membelah karena akan ada dua pemain yang hendak melewati garis. Jikakedua pemain berhasil menembus penjagaan itu hingga akhir, mereka dinyatakan menang dan diakui lihai menghindari pukulan penjaga.

Namun jika gagal, mereka harus tukar posisi menjadi penjaga. Maka tak urung dalam permainan itu akan terdengar, ‘buk’, disertai ucapan ‘aduh’ atau cacian yang tak jelas arahnya akibat pukulan si penjaga. Wajah mereka akan berubah getir, tersenyum getir, memasang tampang kuat, seolah sudah terbiasa dan sanggup menahan deraan.

Di saat seperti itu, selalu ada yang menertawakan. Entah kenapa pula dalam urusan tertawa, aku jadi berpikir, apakah memang sudah sifat anusia suka menertawakan penderitaan orang lain? Usai bermain, kami akan berkipaskipasan. Baju putih berkeringat melekat di badan. Keringat di jidat menemukan jalur ke dagu dan menetes satu dua. Mengingat sebentar lagi waktu istirahat akan habis dan kami harus masuk kelas, aku akan embasuh tangan dan muka ke kamar mandi yang terletak di luar sekolah, di sebuah bangunan kecil bersebelahan dengan pagar sekolah.

Sebuah sumur dengan cincin di atas permukaan setinggi kurang lebih 50 centi bergolak saat timba bocor kujatuhkan ke dalamnya. Cahaya seringkali mampu menembus celah yang berlubang. Cahaya itu jatuh ke dalam sumur, pantulannya akan jelas terlihat bening. Dan di dasar sumur aku bisa melihat, sapu dan kursi yang berlumut. Usai ritual basuh membasuh itu, aku akan bergegas masuk kelas sebelum guru mengayunkan penggaris kuning laksana ayunan pedang para Kesatria Templar. Setiap jam istirahat, selalu ada alasan bagi kami keluar dari area sekolah.

Sangking seringnya, banyak guru yang tidak sanggup lagi mengingatkan. Kami masih dengan prinsip dasar: makin dilarang makin melanggar. Sembari melingkari jarak untuk menghilangkan jejak akibat larangan jajan di luar sekolah, kami akan meloncati pagar sekolah, terus ke belakang bangunan kuning yang disesaki aliran comberan yang baunya minta ampun.

Bila musim padi menghijau tiba, aku sering merasakan sensasi kesenangan menyambut panorama alami i belakang bangunan kuning itu, palagi dihembus angin persawahan yang mengingatkanku betapa menyenangkan hidup di masa kecil dengan segala keluwesan dan mungkin ketertinggalan—menurut anggapan orang kota yang bagiku terkesan kolot dan tidak tahu menahu. Namun ganggang ang meruapkan bau bacin, sisa insang ikan yang terpotong, kotoran manusia yang ikut melarung di dalamnya dan sampah yang menggenang namun masih mampu bergerak dialirkan air got, menyisakan hal yang paling binal dalam ingatanku: kebiasan manusia adalah menumpuk kotorannyaada satu tempat, lalu dialirkan tanpa memikirkan ke mana muaranya!

Bersama-sama teman sekelas, kami menjadi kuat: kuat menanggung akibat, jika seandainya guru sekolah tahu kami cabut jam istirahat ke pasar; kuat menanggung ingatan, jika seandainya kenangan silam membuat kami sedih dan ingin berkumpul bersama lagi, meskipun di balik ingatan itu kami yakin, absurditas apalagi yang mesti dipertaruhkan untuk melanggengkan lintasan waktu agar abadi antara masa lalu, sekarang dan masa depan!

Dengan baju putih dan celana biru dongker panjang, kami melenggang, layaknya kesumat yang dibiarkan berkeliaran menata dan meluapkan balas dendamnya. Kerumunan orang di pasar membuat kami senang. Canda tawa antar sesama pedagang dan pembeli, menghidupkan kesemarakan yang tidak pernah kudapatkan lagi di masa sekarang.

Apalagi di hari Rabu. Pada hari pekan itu, penjual dan pembeli saling beradu: mulut, harga, harkat dan martabat. Lakon yang mampu menghidupi kesemarakan. Para penjual pernak-pernik hiasan, penjual baju, jilbab, baju dalam, celana dalam, tembikar, parang, pisau, panci, beulangong, dan tak urung jasa tambal barang rumahan itu.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved