Bertaruh Nyali Membelah Ganasnya Sungai Lae Cinendang
Sesekali dayung berpindah ke kiri dan kanan mengikuti haluan sampan yang melawan arus sungai
* Kisah Getir Murid SD dari Pedalaman Aceh Singkil
Sesekali dayung berpindah ke kiri dan kanan mengikuti haluan sampan yang melawan arus sungai. Peluh tampak membasahi wajah mereka. Namun semangat mencapai tepian terus bergelora meski napas para bocah tangguh itu nyaris kehabisan. Setiba di tepian sungai mereka kembali harus berjuang saling berpegang tangan merangkak naik melewati curamnya dinding sungai, sebelum akhirnya berjalan kaki menuju sekolah.
Rutinitas menyeberang sungai selebar 100 meter menggunakan perahu kayu (bongki) itu adalah pemandangan rutin setiap pagi yang dilakukan belasan anak Desa Ujung Limus, sebuah desa pedalaman Aceh Singkil. Demi mengejar angan dan cita-cita untuk belajar di SD Negeri 1 Lipat Kajang, anak-anak ini harus berjuang keras menyeberang sungai agar tidak terlambat ke sekolah. Rutinitas tersebut berlangsung lantaran di Desa Ujung Limus belum ada SD. Sehingga murid sekolah di desa itu harus menyeberang sungai menuju sekolah terdekat di Lipat Kajang Bawah. Sebetulnya di Desa Silatong juga terdapat SD. Namun jarak tempuhnya terbilang jauh. Hanya orang tua yang memiliki sepeda motor yang dapat menyekolahkan anak mereka di sana.
Satu perahu dengan panjang 3 meter dan lebar sekitar 50 centimeter ditumpangi dua sampai lima bocah. Salah satu di antaranya bertugas sebagai pendayung sampan. Mendayung bukan hanya tugas bocah laki-laki. Eka, gadis cilik kelas III SD Negeri 1 Lipat Kajang, sambil memanggul sepulang sekolah siang itu kebagian tugas mendayung sampan yang ditumpangi tiga anak lain.
Sebelum sampan berlabuh, Safri siswa kelas IV berteriak memanggil teman-temanya agar tidak ketinggalan. Dengan mengenakan seragam pramuka ia memutar haluan walau sampan sudah berada di tengah sungai saat mengetahui dua temannya tertinggal. “Ikut kau? Cepat naik,” teriaknya sambil terus memainkan dayung menjaga keseimbangan.
Tertempa keadaan alam membuat anak-anak itu kurang dari sepuluh menit sudah bisa menyeberang dan sampai ke tepian. Dari wajah polos mereka tidak terlihat rasa khawatir terbawa arus Sungai Lae Cinendang. Saat tiba di sekolah justru mereka tertawa ceria. Mereka juga tidak mengeluh lelah. Kecerian baru sirna manakala banjir datang. Itu pertanda alam tidak bersahabat dan mereka tidak dapat hadir ke sekolah.
Walau masih anak-anak, bocah asal Desa Ujung Limus ini begitu menguasai alam. Hanya saja saat banjir mereka tidak boleh menyeberang. Pengalaman turun temurun sejak puluhan tahun itu mampu menghindarkan anak-anak dari keganasan Sungai Cinendang yang kerap memakan korban. “Alhamdulillah setahu saya belum ada anak-anak yang hanyut ketika menyeberang. Sebab saat banjir anak-anak dari Ujung Limus tidak bisa sekolah,” kata Unah, guru SD Negeri 1 Lipat Kajang.
Ibu guru ramah itu mengatakan siswa asal Ujung Limus sudah memiliki perahu sendiri untuk menyeberang sungai. Sebelumnya pihak sekolah dengan menggunakan dana biaya operasional sekolah (BOS) membayar perahu warga yang bersedia menyeberangkan anak-anak. “Dulu ada warga yang menyeberangkan ongkosnya dibayar pakai dana BOS. Tapi sekarang sudah punya perahu sendiri,” imbuh Amir, guru lainnya.
Amir yang merupakan alumni SD 1 Lipat Kajang mengatakan, menyeberang sungai menggunakan perahu merupakan pilihan yang bisa dilakukan anak-anak menuju sekolah lantaran dapat memperpendek jarak menuju ke sekolah. Jika anak-anak harus memutar lewat jalan raya Singkil-Subulussalam sangat jauh. “Kalau lewat jalan raya jauh, harus menggunakan kendaraan,” ujarnya.
Tengah hari itu lonceng tanda waktu pulang berdentang kencang. Azri, Safri, Budi dan Eka berjalan cepat menuju tambatan perahu di tepi sungai belakang rumah penduduk. Mereka harus sampai lebih dulu lantaran kebagian tugas mendayung. Anak-anak Ujung Limus, tentu tidak ingin selamanya mendayung perahu menuju sekolah. Mereka bermimpi suatu saat kelak di kampung itu berdiri sebuah sekolah dasar tempat mereka menimba ilmu.(dede rosadi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/bocah-perempuan-asal-desa-ujung-limus_20160301_092236.jpg)