Rabu, 22 April 2026

Cerpen

Sebuah Danau di Tengah Hutan, Suatu Ketika

ILALANG meliuk-liuk mengikuti arah angin yang meniupnya

Editor: bakri

Karya Anjas Parsi

ILALANG meliuk-liuk mengikuti arah angin yang meniupnya. Tembakan senjata otomatis tiba-tiba menghempaskan ketenangan bebukitan. Beberapa burung terbang berhamburan meninggalkan sarangnya, mereka terkejut oleh bunyi senapan yang bergema di siang hari. Sekelompok pemberontak mengamuk, menembaki pasukan tentara dengan membabi-buta dari atas bukit.

Di hamparan bebukitan luas yang hanya ditumbuhi ilalang, seregu tentara panik dan tiarap seraya membalas tembakan ke arah musuh secara membabi-buta. Dua atau tiga dari tentara mulai tertembak. Jeritan, tangisan, dan teriakan bersatu dalam bunyi desingan timah. Keberuntungan dan takdir dari Tuhanlah yang mampu menyelamatkan mereka yang terkepung. Ketika itu, serangan pemberontak telah membuat seregu prajurit pemburu gugur di bukit ilalang, hanya Edi yang tersisa dari kesatuannya.

Dia begitu terguncang, ketakutan, dan bingung. Sekarang tak tahu di rimba mana keberadaan dirinya; rimba yang telah membuatnya tersesat. Tubuh Sertu Edi Purnomo yang tinggi dan berotot kelelahan mengitari hutan setelah tujuh hari tersesat, dan belum menemukan jalan keluar. Wajah perseginya yang selalu licin telah dipenuhi cambang dan kumis.

Hidungnya yang pesek seakan jenuh menghirup udara di hutan. Baju lorengnya telah kotor sehingga agak menyamarkan tanda pangkat di bahu lengan bajunya. Semangat patriotnya hampir sirna oleh waktu. Waktu yang seakan menuntunnya dalam keputusasaan di belantara yang tak berujung ini.

Seekor burung menukik di angkasa, suaranya terdengar seperti sebuah harapan; keinginan untuk pulang... Suara batu-batu kecil berjatuhan dari tebing mengusik Edi yang sedang duduk di pinggir danau. Matanya menoleh ke suara itu. Dia melihat sebuah senjata menyembul dari balik pohon. Perlahan dia menyatukan tubuh pada batu besar. Jarinya siaga di pelatuk M-16. Samsul, pemberontak bertubuh jangkung bersembunyi di balik pohon dan sedang mengarahkan senjatanya pada Edi. Tiba-tiba suara tembakan senjata AK-47 Samsul menyentakkan Edi, peluru-peluru mengenai batu besar tempatnya bersembunyi. Edi membalas tembakan tersebut dengan panik dan tak terarah.

Beberapa saat kemudian suasanakembali senyap. Tak ada suara tembakan senjata. Samsul telah pergi dari semak-semak tempat dia bersembunyi menuju arah belakang tempat persembunyian Edi. Dengan mengendap- endap Samsul melewati satu per satu batu-batu besar di pinggir danau untuk menyergap musuhnya. Edi mengintip ke pohon di atas tebing. Tidak ada apa pun di sana. Ujung senjata itu tidak terlihat lagi. Dia membalikkan badan, Samsul berdiri sekitar 15 meter darinya.

Seketika mereka saling mengarahkan senjata, lalu keduanya menembak sampai kehabisan peluru. Edi meloncat ke samping untuk berlindung di balik batu besar.Setelah mengganti magasin, Edi mengintip Samsul. Namun, Samsul telah hilang di balik batu besar. KakiEdi terasa sakit, darah membasahi celana lorengnya. Edi mengambil belati dan memotong lengan baju loreng, lalu diikatkan potongan baju pada kakinya yang tertembak. Sebuah teriakan tiba-tiba muncul. “Aduh, aduh...!” suara Samsul kental dengan logat Aceh.Edi tetap siaga dengan senjatanya.

“Aduh, aduh...! Bahu saya sakitsekali!” teriak Samsul sambil merintih. “Gimana kalau saya dan kamu tidak menembak ile!” lanjutnya. Aneh, ada apa dengannya? Apa dia berpura-pura tertembak? Apa itu taktiknya untuk mengelabuiku? Edi membatin. “Aku tidak percaya! Itu cuma alasanmu saja,” hardik Edi. “Bagaimana mungkin aku bisa percaya padamu, sedangkan kau itu musuhku,” bisik Edi. “Saya betul-betul kenak tembak... Kamu bisa bahasa Aceh? Saya susah bicara bahasa Indonesialah!” ujar Samsul.

Edi berpikir sejenak. Apa yang harus dilakukan? Pemberontak itubenar-benar membuatnya kalap dan bingung. “Aku tidak bisa,” cetus Edi. “Brengsek, apa yang sedang terjadi dengan pemberontak itu?” bisik Edi mengutuki Samsul. “Kamu harus ke sinilah untukbantu saya,” pinta Samsul. “Aku tidak mau ke tempatmu! Nanti kau akan menembakku!” bentak Edi. “Betoi, saya tidak tembak kamu! Kamu tolong saya sekarang!” sanggahSamsul bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

“Kamu punya teman di sana?” selidik Edi. “Tidak, saya tidak berteman lagi!” Aku merasa ada yang tidak beresdengannya. Dia ungguh-sungguh atau sedang menjebakku. Aku benar-benar bingung, apalagi bicaranya. Kenapa aku harus berjumpa dengannya? pikir Edi kesal.

“Baiklah, kalau kau ingin kutolong. Sekarang lemparkan senjatamu, dan keluar dari persembunyian!” teriak Edi memancingnya keluar supaya bisa menembaknya. “Saya akan lempar senjata saya! Tapi tidak keluarlah, karena saya tidak sanggup jalan lagi,” jawab Samsul. Sebuah senjata AK-47 dilempar dan jatuh di tanah. Edi terkejut dan sungguh tak menyangka Samsul akan melempar senjatanya.

“Apa kamu punya granat?” selidik Edi. “Na, saya punya granat...” “Kamu lemparkan granat itu didekat senjatamu!” pinta Edi. Edi menatap ke tempat persembunyian Samsul dan tetap waspada. Sebuah granat di lempar dan jatuh dekat senjata AK-47 milik Samsul—di tanah. Granat itu meledak, Edi tersungkur di tanah. Sebuah batu terbang kewajah Edi, jidatnya mengeluarkan darah. “Sialan pemberontak brengsek itu. Ia benar-benar ingin membunuhku,” bisik Edi kesal seraya mengusap jidat yang kesakitan.

Ledakan granat membuat Edi merasa ditipu oleh Samsul. Sekarang Edi betul-betul kebingungan dengan situasi yang sedang dihadapinya. Sementara Samsul sungguh tidak menyangka granat itu akan meledak, dia benar-benar tidak berniat untuk membunuh Edi dengan granatnya. Kepanikan dan ketidakpercayaan kembali menghantui mereka.

“Woi, saya sudah buang granatlah. Kenapa kamu tidak datang kemari? Darah saya sudah banyak keluar ini, tahu!” hardik Samsul. “Dasar pemberontak! Rupanya kau ingin membunuhku?” cerca Edi geram. “Tidak, saya tidak bunuh kamu! Saya cuma buang granat itu dan tidak saya tahu kenapa bisa beurutoh... “ ujar Samsul membela diri.

“Dasar gila, aku tidak percaya padamu! Sekarang aku akan membunuhmu,” maki Edi.“Kapaleh, jangan kamu bunuh saya! Saya sudah menyerah tadi,” teriak Samsul mengiba sambil merintih kesakitan. “Pokoknya aku tidak mau dengar apa pun alasanmu. Kamu itu musuhku...” “Kalau mau prang lagi, kamu lempar kembali senjata saya ke sini! Biar kita menembak lagi,” pinta Samsul setengah mengiba.

Setelah beberapa lama menunggu, Edi memberanikan diri untuk mendatangi Samsul. Edi berjalan tergopohgopoh ke tempat persembunyian Samsul dengan jantung yang berdebar. Pikirannya kalut ketika melihat Samsul bersandar pada batu sambil memegangi bahu yang terluka dan mengeluarkan banyak darah. Tidak terlihat senyuman di wajah Samsul. Tangannya memegang bahu ang terluka. Wajah tirusnya berkumisdan ditumbuhi cambang tebal. Rambutnya panjang tidak teratur, dan tubuhnya sangat kurus.

Edi membatin, aku benar-benar gugup. Haruskah aku membunuh pemberontak ini? Pikiranku benarbenar kacau sekarang ini!“Kalau mau bunuh saya, silahkan! Kalau tidak, tolonglah saya! Saya sakit sekalilah...” ratap Samsul mengiba dan putus asa.

***

Sore tiba, matahari sudah hilang di balik pepohonan lebat. Dingin mulai terasa. Beberapa burung bangau terbang melintasi kesunyian danau. Edi bersandar pada batang pohon yang tumbang ke danau. Sesekali dia memandang ke hutan untuk berjagajaga. Waspada adalah keharusan agar bisa bertahan dari kekacauan perang.

emua yang buruk bisa terjadi tanpa disadari. Sedikit lengah, timah panas kan menembus tempurung kepala. Dua arti dalam sebuah kata perang;
embunuh atau dibunuh. Sungguh menyedihkan! Samsul terdiam kaku. Edi menyesal karena telah melakukan kebodohan—tidak membunuh Samsul. Namun, hati kecilnya bahagia.

Kebodohan ini membuatnya merasa mendapatkan kemenangan—tidak embunuh musuh yang tidak berdaya. Ya, kemenangan yang sulit di dapatdalam sebuah perang. Aku menyelamatkan musuh yang menembak phaku. Bukankah itu konyol? Ketika bertemu dengannya aku merasa telah menemukan seseorang yang bisa menunjukkanku jalan pulang, tapi ternyata dia juga tidak engetahui jalan keluar dari rimba ini.

Dia telah tersesat sebulan lebih. Sungguh membingungkan, aku dan pemberontak duduk bersama memikirkan jalan pulang setelah kami berperang untuk membunuh satu sama lain. Seakan kami sahabat yang telah lama berpisah dan waktu mempertemukan ami di belantara rimba ini. Sungguh menggelikan...Edi membatin. “Kamu itu berasal dari mana, sih?” tanya Samsul untuk basa-basi. “Aku dari Semarang,” jawab Edi. Lalu terdiam sesaat. “Aku jadi rindu keluarga...Kamu sudah kawin?” lanjutnya. “Sudahlah. Saya kawin dua buah istri,” cetus Samsul penuh semangat.

“Kamu tahu kenapa saya kawin dua?” lanjutnya. Edi menggeleng kepala. “Karena istri pertama saya tidak beranak dia... Terpaksalah saya kawin satu buah lagi, biar saya bisa punya anak,” ujar Samsul dengan mimik wajah serius. “Apa sama istrimu yang kedua amu punya anak?” tanya Edi “Dia belum beranak juga...” Mereka kembali terdiam. Aku sangat rindu sama anakku Raisa. Tiba-tiba Aku sangat ingin mendengar suara merduna, Edi membatin. “Kamu ada telepon genggam?” tanya Edi. “Telepon?” jawab Samsul penasaran.

Edi mengangguk. Sepertinya Samsul lagi memikirkan sesuatu, tangannya menggaruk-garuk kepala. “Kamu mau telpun teman tentra kamu?” hardik Samsul. “Bukan, aku mau menelepon anakku,” Edi mencoba menyakinkan pemberontak. Samsul terdiam sejenak. “Saya tidak punya telepon! Tapi saya ada telepon satelit....,tidak tahulah apakah elepon ini bisa telpun?” cetusnya.

“Boleh aku pinjam?” pinta Edi. “Aku cuma ingin menelepon anakku. Tolonglah! Tolonglah aku, seperti aku enolongmu,” Edi mengiba. “Ya, tapi hanya untuk telpun anakmu sajalah!” Samsul mengingatkan. Tangan Samsul meraba-raba dalam tas ransel miliknya. Edi menghubungi telepon genggam istrinya.

Namun, istrinya belum menjawab panggilan teleponnya yang sudah beberapa kali. Akhirnya telepon satelit kehabisan baterai dan dengan cemberut ia mengembalikan telepon itu ada Samsul. “Kenapa aku tidak bisa keluar dari rimba ini?” teriak Edi lantang. Edi mengambil senjata dan ditembakkan ke danau hingga pelurunya habis. Dengan sekuat tenaga ia melempar M-16 ke danau. “Aku ingin pulang untuk memeluk anakku!” hardik Edi lalu terisak.

Beberapa pemberontak muncul dari balik hutan setelah mendengarkan suara tembakan. Mereka menodongkan senjata pada Edi dan Samsul. eorang pemberontak langsung memukul tubuh Edi dan menghantam wajahnya dengan gagang senjata AK-47. Edi terkapar di tanah dan tak berdaya.
Salah satu dari mereka—pemberontak— bertubuh gempal, sedang berdebat dengan Samsul. Lelaki gempal itu memperlihatkan telepon satelit dan bertanya lantang, memukul wajah tirus Samsul berkali-kali. Pemberontak itu terus memaki-maki Samsul, “Cuwak, publo bangsa, lamit gop, goen tentra.” Tangan kiri Edi diborgol, disatukan dengan borgol tangan kanan Samsul. Kaki Edi dan Samsul juga diikat menyatu. Mereka didudukkan enghadap danau.

Wajah mereka berlumuran darah. Beberapa gigi Edi tanggal oleh hantaman gagang AK-47, mata besar Samsul kini telah menyipit oleh hantaman telepon satelit. “Siapa namamu, Tentra?” bisik Samsul. “Edi Purnomo...” Keduanya terdiam sesaat. “Siapa namamu, Pemberontaklah?” esah Edi dengan memakai kebiasaan ucap Samsul. “Samsul Bahrilah...”

Rentetan letusan senjata para pemberontak memecahkan kesunyian. peluru-peluru dari senjata pemberontak enerjang tubuh Edi dan Samsul, lalu keduanya rubuh tersungkur di pinggir danau. Darah mereka mengubah air danau yang jernih menjadi merah.

* Anjas Parsi, anggota Komunitas Sastra Lhokseumawe (KSL) di Dewan Kesenian Aceh Lhokseumawe.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved