KUPI BEUNGOH
Matangkuli Al Munawwarah
Di sini, barangkali, tidak salah jika saya ingin memberi julukan tambahan untuk kecamatan Matangkuli, yaitu sebagai "Matangkuli Al Munawwarah"
SEBUTAN teladan di sini hanya inisiatif pribadi penulis, itu sebab, sebutan kecamatan teladan diberi tanda petik. Dan dengan tulisan ini, saya ingin membuktikan bahwa Matangkuli sangat layak menyandang gelar sebagai Kecamatan Teladan di Kabupaten Aceh Utara, sebuah kabupaten mantan penghasil dolar di Aceh.
Kecamatan Matangkuli tidak jauh dari Lhoksukon, ibukota Kabupaten Aceh Utara. Saat konflik dulu, Matangkuli adalah salah satu kecamatan yang paling aman. Rahasianya, barangkali karena di masjid Al-Khalifah Ibrahim yang terletak tepat di tengah-tengah pusat kecamatan Matangkuli, shalat berjamaahnya selalu hidup.
Itulah cerita yang saya ingat saat dulu belajar di Dayah Babussalam yang lokasinya juga pas di pusat kecamatan Matangkuli sebelum pada tahun 2005 keluar dari Matangkuli untuk meneruskan proses belajar di tempat lain.
Selain hadits yang menjelaskan pahala shalat berjamaah 27 derajat, juga terdapat sebuah hadis Muttafaq ‘Alaih yang menjelaskan, orang yang shalat berjamaah di masjid masih mendapat bonus pahala, yaitu setiap langkah kakinya ke masjid dapat menghapus satu kesalahan.
Bahkan, selama menunggu datangnya shalat, dia tetap memperoleh pahala shalat. Setelah itu, selesai shalat, selama ia berada di masjid dan belum batal wudhu, para malaikat berdoa untuknya, "Ya Allah, berkahilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia!”.
Barangkali, tidak aneh jika dari jauh seringkali saya mendengar “kabar baik”, fulan bin fulan warga Matangkuli telah meninggal dunia saat shalat berjama’ah di dalam mesjid. Atau, fulan bin fulan telah meninggal di bulan ramadhan.
Saya ingat, sejak dahulu, bila kita shalat di masjid Al Khalifah Ibrahim, kita akan menemukan banyak tokoh masyarakat dan pedagang Matangkuli yang rutin shalat berjamaah. Seingat saya, hampir semua tokoh Matangkuli yang saya kenal selalu shalat berjamaah di Masjid.
Dari rutinitas shalat berjama’ah ini, mengawali perjalanan Matangkuli sebagai ini sebagai kecamatan yang semakin religius.
Sejak tahun 2003, saat saya masih sekolah di MAN Matangkuli, di Desa Mee Matangkuli yang lokasinya tidak jauh dari pusat Kecamatan Matangkuli, telah berjalan pengajian Asy-Syifa setiap malam Sabtu yang diasuh oleh Tgk H. Abubakar Usman, yang akrab disapa Abon Buni, seorang ulama kharismatik alumnus Dayah MUDI Mesra Samalanga.
Pengajian ini dihadiri oleh ribuan jama’ah. Pengajian ini masih berlangsung sampai saat ini, dan dengan jama’ah pengajian yang terus bertahan dan bahkan bertambah.
Bila kita menghadiri pengajian mingguan Abon Buni ini, kita pasti akan melihat seribuan jamaah mengahdiri pengajian tersebut. Dan yang luar biasa, kita akan dengan mudah menemukan tokoh-tokoh kecamatan ini berada di Shaf terdepan dalam majlis ilmu tersebut, baik camatnya, ketua remaja masjid, para keuchik, para guru, dan sebagainya. Luar biasa bukan?
Sulaiman, seorang jamaah rutin pengajian Asy-Syifa, pemilik Bengkel Federal Servis di Kecamatan Matangkuli mengatakan, “Kini setiap kali Abon Buni menyeru jamaah pengajian untuk puasa sunat, maka kita akan malu jika tidak berpuasa saat berjumpa jamaah lainnya”.
Tentu saja, ini adalah sebuah gambaran betapa Abon Buni kini semakin mudah mengarahkan jamaahnya untuk menambah amal-amal kebaikan di dunia sebagai bekal untuk kebaikan abadi kelak di akhirat.
Di samping itu, banyak alasan lainnya untuk membenarkan bahwa Matangkuli layak mendapat sebutan sebagai “Kecamatan Teladan”. Antara lain, Masyarakat Matangkuli selalu bersatu dan berlomba-lomba memberi santunan untuk anak yatim tiap tahun.
Jika ada muallaf, warganya pun bersatu untuk membantu secara berkelanjutan. Di banyak rumah orang kaya, juga terdapat majlis ilmu yang mengundang Ustaz-Ustaz atau Teungku di Pesantren/Dayah untuk mengajari anak-anak usia dini untuk belajar Iqra’, Alquran atau kitab-kitab dasar, suatu proses pendidikan yang sangat penting sebelum anak-anak mereka belajar ke jenjang selanjutnya.
Di pusat kecamatan Matangkuli ini, juga terdapat Balai Pengajian yang dipimpin Tgk H. Kabir dimana remaja-remaja sekitar kecamatan Matangkuli memenuhi ramai-ramai Balai Pengajian ini untuk belajar, suatu pemandangan yang membahagiakan saat di sisi lain kita menyaksikan banyak remaja Aceh yang menghabiskan waktu malam hari bukan untuk belajar, atau malah hanya menghabiskan waktu di warung kopi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/zulkhairi_20160322_093344.jpg)