KUPI BEUNGOH
Matangkuli Al Munawwarah
Di sini, barangkali, tidak salah jika saya ingin memberi julukan tambahan untuk kecamatan Matangkuli, yaitu sebagai "Matangkuli Al Munawwarah"
Bukan hanya itu, Dayah Babussalam Matangkuli yang dipimpin guru kami Tgk H Sirajuddin Hanafi juga semakin membludak santrinya. Bahkan, kondisi terakhir yang penulis saksikan, para santri sudah berdesak-desakan di kamar/bilek mereka, karena tempat yang ada hampir tidak mampu menampung jumlah santri yang berdatangan. Ada antusiasme besar remaja-remaja Aceh dewasa ini untuk belajar di dayah.
Keberadaan dayah Babussalam di pusat Kecamatan Matangkuli semakin membuat Matangkuli layak disebut sebagai Kota Santri yang religius. Di Dayah ini, para santri ini bukan hanya berasal dari Aceh, tapi juga dari berbagai Provinsi lainnya, seperti Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Padang, Jambi dan Riau.
Banyak alumnus Dayah Babussalam Matangkuli yang kini telah kembali ke kampung masing-masing atau merantau ke tempat lainnya. Dan di sana mereka kembali membangun majlis ilmu untuk meneruskan perjuangan Islam dalam mencerdaskan ummat di bidang pengetahuan Islam.
Di sini, barangkali, tidak salah jika saya ingin memberi julukan tambahan untuk kecamatan Matangkuli, yaitu sebagai "Matangkuli Al Munawwarah", atau Matangkuli yang memberi cahaya, yaitu cahaya keilmuan dan keshalehan kepada tempat lainnya. [TEUKU ZULKHAIRI, Pegawai Kantor Kementrian Agama Provinsi Aceh]
**
[Redaksi menerima tulisan Kupi Beungoh. SETIAP KONTEN YANG DIBUAT MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS. Kirim ke email: kupibeungoh@serambinews.com]
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/zulkhairi_20160322_093344.jpg)