Rabu, 13 Mei 2026

Cerpen

Bila Bulan Bundar Benar

NYAKNI hanya mematung. Menopang tubuhnya dengan menggenggam erat langkan berkisi padamulut

Tayang:
Editor: bakri

Mengajaknya berbicara. Sodah hendak berkisah perihal Dekgam yang akan mengawininya. Tadi petang kala mencuci di sungai, Dekgam diam-diam keluar dari elukar. Membisikinya dengan mesra. Ia dilamar. Sodah masih berbungabunga sampai sekarang.

Namunperihal tersebut urung iceritakannya. Ia menunggu waktu yang tepat untuk meminta restu Nyakni. Tapi tidak malam ini, tidak saat tuannya sedang bersusah hati.

***

Toke Kaoy tidak pulang-pulang lagi. Katanya pada orang-orang, Nyakni gila. Namun Sodah mengetahui karena Dekgam memberi tahu, sebenarnya Toke Kaoy naik gunung. Suatu kali diceritakan pada Nyakni perihal bisikan itu, “Usai perang pura-pura itu, kalau tidak mati ya akan ambah bini lagi.” Nyakni menjawab singkat. Pun begitu, hati Nyakni begitu enggelora. Lebih baik Toke Kaoy tidak pulang-pulang lagi. Selama purnama masih akan merangkak naik, selama itu pula dadanya akan membara oleh api cinta. Ia tetap menanti Manyak kembali. Dari bagian teratas tangga depan rumah ini Nyakni setia menanti saban purnama.

Tersenyum melihat Manyak yang mengendap-endap menepis duri-duri tajam perdu bambu. Untuk berdiri di into roet halaman rumah mereka. Itu sudah cukup. Nanti mereka sepuasnya bercengkerama dalam mimpi. Tetapi, kali ini Manyak harus menepati janji. Membawa pulang sepasang angkai hatinya. Untuk sekejap saja. Andai tidak, maka purnama depan, sebelum bulan epiring itu merangkak ke atas atap, Nyakni bertekad akan enyusul Manyak. Kemana pun. Termasuk menjumpai Tuhan untuk menanyai sesiapa yang tega menyeret-nyeret ketiga mereka. “Bayi itu sebaiknya titipkan saja pada bini pertama. Kedua juga boleh.” Ucap Nyakni pada Sodah bak erwasiat.

Perihal tidak perlu menanti Manyak lagi, itu yang tidak pernah isarankan oleh Sodah pada Nyakni. Seperti Dekgam utarakan, dia dan kawan-kawan dipaksa menggali lobang besar, mereka menanam berbelas jasad besar dan kecil di bukit seberang sungai. Dan Sodah pun yakin, apabila Nyakni ahu, Toke Kaoy tak sempat lagi gagah-gagahan memanggul bedil memberontak lagi. asti rencong bermata setengah jengkal yang saban waktu terselip di sela kisi-kisi langkan, bakal menghujam jantung, tepat pada malam pertama ia pulang sebagai suami kedua Nyakni. Sebab, dialah yang menggelimpangkan satu per satu orang-orang di bukit seberang sungai itu. Termasuk Manyak. ireuen, Februari 2016

* Nazar Djeumpa, kelahiran Bireuen 26 Februari 1981. Bekerja sebagai tukang jagal di rumah potong hewan di kota kelahirannya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved