Penebangan Pinus Marak di Bener Meriah
Aksi penebangan pohon pinus di pinggir jalan nasional, dari beberapa kecamatan di Bener Meriah sampai perbatasan Bireuen
· Plang Larangan Hanya Pajangan
BANDA ACEH - Aksi penebangan pohon pinus di pinggir jalan nasional, dari beberapa kecamatan di Bener Meriah sampai perbatasan Bireuen, termasuk di kawasan peternankan Blang Rakal, Kecamatan Pintu Rime Gayo mulai marak. Sejumlah warga terlihat di antara pepohonan pinus sedang memotong pohon pinus dengan mesin chainsaw dan tampak tempat hunian darurat yang dijadikan sebagai tempat peristirahatan mereka.
Pemandangan itu terlihat saat Serambi kembali dari Takengon ke Banda Aceh pada Minggu (20/3) siang. “Bekas potongan pohon pinus masih tampak jelas dari pinggir jalan, padahal di antara pepohonan terdapat plang larangan yang bertuliskan:” Dilarang Mengelola Hutan atau Diancam Pidana atau juga “Jaga Hutan untuk Anak Cucu Kita.”
Tetapi, plang itu tampaknya hanya sebagai pajangan. Kabag Humas Pemkab Bener Meriah, Imansyah yang dimintai tanggapannya pada Senin (28/3) belum mengetahui persoalan itu. Dia juga tidak bersedia memberi penjelasan lebih lanjut.
Persoalan penebangan pohon pinus sebenarnya sudah tidak terbendung lagi, sehingga kawasan Dataran Tinggi Gayo, yang awalnya dikenal sebagai kota dingin, diperkirakan dalam beberapa tahun lagi akan menjadi kenangan, kecuali hembusan angin yang masih terasa dingin. Alasan pemanasan global atau global warming yang digaungkan selama ini, sebenarnya makin diperparah dengan aksi penebangan pohon, baik untuk pembukaan lahan pertanian atau kebun baru, pemukiman atau lainnya.
Di salah satu kawasan Gayo, juga mulai tumbuh pohon kurma dan durian, padahal dua jenis tanaman keras ini hidup di daerah tropis atau panas, bukan kawasan berhawa sejuk. Itu menjadi pertanda, pemanasan global bersama dengan penebangan pohon kian mengancam para petani itu sendiri.
Salah seorang pedagang di Pasar Paya Ilang, Kecamatan Bebesan, Aceh Tengah mengaku hasil produksi sayur-sayuran mulai berkurang, akibat cuaca mulai panas. Dia sempat memberi contoh, buah sirsak yang tumbuh terbatas, juga tanaman cabai merah keriting telah membuat harga melambung.
Disebutkan, harga buah sirsak mencapai Rp 15.000/kg, padahal biasanya hanya Rp 5.000/kg, demikian dengan cabai merah keriting yang sudah mencapai Rp 50.000/kg, padahal biasanya hanya Rp 25.000/kg. Pedagang wanita paruh baya itu mengaku hasil produksi pertanian lainnya juga terus berkurang akibat cuaca tidak lagi berhawa dingin dan sejuk.
Hal itu juga didukung oleh salah seorang warga Jagong Jeget, dimana petani di kawasan itu mulai kewalahan dengan cuaca yang tidak sedingin dulu lagi. Tetapi, sebutnya, kehidupan para petani tetap makmur, walau hasil produksi pertanian, seperti sayur-sayuran, kopi dan tanaman keras lainnya mulai turun.
Belum ada data yang konkrit tentang hasil pertanian, terutama sayur-sayuran, selain kopi yang tetap menjadi primadona dan dikatakan mampu memberi kontribusi ke negara sebesar Rp 5 triliun per tahun. Terlepas dari itu semua, aksi penebangan hutan, apapun jenis pohonnya harus dihentikan segera, sebelum bencana demi bencana terus menimpa masyarakat yang menyandarkan hidupnya dari bersahabatnya alam.
Berdasarkan pantauan dari satelit Google, sejumlah kawasan hutan di Aceh Tengah dan Bener Meriah sudah gundul. Padahal, moratorium penghentian penebangan hutan oleh pemimpin Aceh sudah dikeluarkan, sehingga siapa saja yang melanggarnya harus ditindak tegas dan generasi penerus negeri ini akan dapat juga merasakan: “Betapa hijaunya kawasan Dataran Tinggi Gayo yang berhawa sejuk dan dingin seperti Eropa.”(muh)