Sabtu, 30 Mei 2026

Selebrasi Lokal 2026

Warga Jeulingke Residen I Sambut Piala Dunia 2026 dengan Mie Suree, Ikan Bakar, dan Kuah Beulangong

Bagi warga Jeulingke Residen I, Piala Dunia bukan sekadar pertandingan sepakbola. Momentum itu juga menjadi ruang berkumpul

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Bukhari Ali | Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
Warga Jeulingke Residen I, Banda Aceh, berkumpul di area komplek sambil menikmati suasana malam jelang Piala Dunia 2026. Tradisi nonton bareng dengan hidangan khas Aceh seperti ikan bakar, mie suree, dan kuah beulangong menjadi cara warga mempererat kebersamaan dan silaturahmi antartetangga, Jumat (29/5/2026). 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Bukhari M Ali

SERAMBINEWS, BANDA ACEH - Aroma ikan bakar, mie suree hangat, dan kuah beulangong tampaknya akan menjadi bagian dari suasana malam-malam Piala Dunia 2026 di Komplek Jeulingke Residen I, Kota Banda Aceh.

Meski pesta sepakbola terbesar di dunia itu baru akan bergulir beberapa hari lagi, gaungnya sudah mulai terasa di lingkungan perumahan yang berada di kawasan belakang Kantor Gubernur Aceh tersebut. 

Warga bahkan mulai membicarakan jadwal pertandingan, negara unggulan, hingga persiapan nonton bareng yang telah menjadi tradisi mereka setiap ada even sepakbola dunia.

Di salah satu sudut komplek, sejumlah warga tampak mulai merencanakan pemasangan layar besar yang nantinya akan ditempatkan di area terbuka lingkungan perumahan. 

Anak-anak muda hingga para orang tua ikut antusias menyambut momentum empat tahunan tersebut.

Bagi warga Jeulingke Residen I, Piala Dunia bukan sekadar pertandingan sepakbola. Momentum itu juga menjadi ruang berkumpul, bercengkerama, dan memperkuat silaturahmi antartetangga.

Baca juga: 25 Link Twibbon Hari Lahir Pancasila 2026, Desain Nasionalis Dominan Merah Putih Lagi Banyak Dicari

Salah seorang warga komplek, Arif Pribadi ST MT, mengatakan tradisi nonton bareng sudah berlangsung sejak lama di lingkungan mereka. Bahkan, suasananya selalu terasa khas Aceh karena diwarnai berbagai hidangan tradisional yang dimasak bersama-sama.

“Nonton dengan layar besar sudah menjadi kebiasaan kami di sini. Biasanya sambil bakar ikan, masak mie suree, dan ngopi bersama warga,” ujar Arif kepada Serambinews.com, Jumat (29/5/2026).

Menurut Arif, khusus pada malam final Piala Dunia nanti, warga berencana memasak kuah beulangong, kuliner khas Aceh yang identik dengan suasana kebersamaan dan kenduri.

“Insya Allah malam final nanti mungkin kami akan masak kuah beulangong. Jadi suasananya lebih meriah dan lebih terasa kekeluargaannya,” katanya sambil tersenyum.

Saat pertandingan berlangsung hingga larut malam, suasana komplek biasanya berubah menjadi lebih hidup. Warga duduk berjejer di kursi-kursi plastik, sebagian lagi lesehan sambil menikmati kopi panas dan makanan ringan. Sorak-sorai akan pecah setiap kali tim favorit mencetak gol.

Tidak jarang pula terjadi perdebatan kecil penuh canda mengenai tim unggulan, pemain terbaik, hingga prediksi juara dunia. Namun semuanya berlangsung dalam suasana hangat dan akrab khas kehidupan masyarakat Aceh.

Baca juga: Dapat Daging Kurban Banyak saat Idul Adha, Bolehkah Dijual? Buya Yahya Beri Penjelasan

Menurut Arif, warga Jeulingke Residen I yang dihuni sekitar 70 kepala keluarga dengan beragam latar belakang profesi memang memiliki tradisi sosial yang cukup kuat. 

Berbagai kegiatan kebersamaan rutin dilakukan, mulai dari perayaan maulid, kurban, gotong-royong lingkungan, hingga kegiatan olahraga dan nonton bareng.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved