Rabu, 3 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

Ali dan Apa yang Kita Ingat Darinya

Selamat jalan Ali. Menarilah di surga, seperti engkau menari di atas ring di hadapan tatapan mata lawan-lawan mu dan di hadapan hati para pengagummu.

Tayang:
Editor: Amirullah
Ali dan Apa yang Kita Ingat Darinya - muhammad-ali_20160605_090048.jpg
MIRROR
Ali dan Apa yang Kita Ingat Darinya - alkaf2_20160505_102623.jpg
Muhammad Alkaf

TIDAK untuk Tyson, Holyfield, Lewis, Bowe, Bruno, Holmes. Juga tidak untuk Dempsey, Joe Lewis, Frazier, Norton, Liston dan Foreman.

Hanya Muhammad Ali, di dalam segala hal, yang telah berada sendiri di atas puncak singgasananya. Ali tidak dapat dibandingkan sama sekali dengan petinju lainnya di sepanjang sejarah.

Kepalan tinjunya tidak hanya menghancurkan lawan-lawannya di atas ring. Namun juga menghancurkan kesombongan dunia.

Ali sadar, hidup sebagai pria berkulit hitam di zaman rasisme di Amerika, membuatnya harus bergerak lebih cepat. Dia-pun masuk Islam, dan mengganti “nama budak-nya”, Casius Clay menjadi Muhammad Ali. Nama yang agung. Seperti cita-citanya yang agung pula.

 

Islam bagi Ali adalah pembebasan. Yang disimbolkan dengan nama Islamnya itu. Sehingga dia sangat marah kepada Ernie Terrel, lawan yang dihukumnya di atas ring, karena tidak memanggil nya sebagai “Ali.” melainkan “Clay” Setiap kali pukulannya mendarat di wajah Terrel, Ali bertanya dengan suara lantang “Siapa nama ku!?”

Ali menjadi besar, pun karena lawan-lawannya adalah petinju besar juga. Dia memiliki lawan yang saling membunuh dengannya. Pertandingan mereka berkali-kali dan saling mengalahkan. Joe Frazier salah satunya.

Joe Frazier menjadi juara dunia kelas berat tanpa mengalahkan Ali. Sehingga dia tidak dianggap juara karena Ali, sekali lagi, Ali, harus kehilangan gelarnya itu akibat membela kemanusiaannya.

“Mengapa aku harus berperang dengan Vietcong? Mereka tidak pernah memanggilku negro,” teriak Ali. Penolakan yang berakibat fatal. Gelarnya dicabut dan dia dilarang bertinju.

Frazierlah yang ikut membantu agar Ali dapat bertinju kembali. Jelas, Frazier membutuhkan Ali supaya juaranya diakui. Dari sini drama keduanya dimulai.

Bukan Ali namanya, kalau bukan membuat panas telinga calon lawannya. Sonny Liston saja, juara dunia yang dikalahkan Ali sebanyak dua kali pernah frustasi, sampai harus menembak pistol dengan peluru angin karena tidak mampu meladeni provokasi Ali.

Tiga kali mereka bertarung, Ali memenangkan dua diantaranya. Frazier vs Ali I menimbulkan drama yang menggoncang ketika sebelum pertandingan keduanya saling memprovokasi. Sampai Ali menggelari Frazier sebagai Uncle Tom. Sebuah gelar yang buruk sekali.

Nama itu adalah cerita tentang laki-laki kulit hitam yang menjadi Judas di hadapan majikannya yang berkulit putih pada masa perbudakan di masa lalu di Amerika.

Frazier kecewa akan hal itu. Sampa, anaknya, Marvis Hagler, yang pernah dikalahkan oleh Mike Tyson mengatakan dalam sebuah wawancara “Ayah ku kecewa dengan sikap Ali itu, karena mengingat bantuannya sehingga Ali dapat kembali bertinju.”

Kesan mendalam yang membekas diantara keduanya itu dapat dilihat misalnya dari reaksi Frazier melihat Ali dengan penyakit parkinsonnya, gemetar ketika hendak menyalakan api Olimpiade Atlanta 1996. “Rasanya ingin aku mendorongnya,”kata Frazier.

Pada pertarungan mereka yang pertama, dengan tajuk Fight of the Century, 2 Agustus 1971, Frazier menang, bahkan dengan memukul jatuh Ali. Namun bukan Ali namanya kalau tidak memenangkan pertarungan di luar ring.

“Lihat wajah ku. Aku baik-baik saja. Frazier setelah pertandingan ini harus dirawat di rumah sakit,” katanya dengan tenang dalam satu wawancara

 

Dan memang benar, Ali hampir-hampir tidak mengalami luka di wajahnya, hampir sepanjang karirnya, lawan tidak mampu membuat wajah Ali babak belur. Bahkan dalam dua pertandingan terakhirnya ketika sudah memasuki usia senja, baik melawan Larry Holmes dan Trevor Berbick.

Pada pertandingan ketiga, yang bertajuk Thrilla in Manila, 10 Januari 1975, mereka menunjukkan sebuah pertarungan yang paling dikenang dalam sejarah tinju dunia. Pertandingan yang memiliki bobot melebihi pertarungan antara Joe Lois vs Max Schmeling, ataupun Trevor Berbick vs Mike Tyson.

Dalam sebuah film dokumenter yang berjudul serupa dengan tajuk pertandingan, drama tercipta dari ronde ke ronde. Keduanya seperti hendak saling membunuh. “Keduanya bertinju sudah melebihi batas kemampuan manusia,”sergah seorang pengamat tentang pertandingan itu.

Puncaknya setelah selesai rounde ke 14. Ali kelelahan dan Frazier tidak dapat lagi menggunakan matanya lagi dalam beberapa ronde trakhir. Pelatih Frazier, Eddie Futch pun menyadari. Lalu meminta pertandingan dihentikan.

Frazier menolak. Namun pertandingan tetap dihentikan. Frazier pun kalah. Padahal di sudut lainnya, Ali sudah meminta kepada pelatihnya, Angelo Dundee, untuk menghentikan pertandingan, “hentikan pertandingan, aku sudah kekelahan,” kata Ali.

Setelah pertandingan, kekakuan yang ada diantara mereka pun mencair. Terutama dari Ali. Bagi Ali, Frazier telah mendapatkan penghormatan darinya dan juga dari dunia.

Ali adalah petinju yang telah memberikan inspirasi.”Olahraga ini sudah akan mati, sebelum Ali membuatnya kembali bergairah,” kata Bill Clinton, presiden termuda dalam sejarah Amerika Serikat.

Inspirasi darinya juga yang membuat seorang Larry Holmes menangis karena telah memukul Ali dalam sebuah pertandingan perebutan gelar di tanggal 2 Oktober 1980.

Holmes menangis karena dia telah menyakiti orang yang telah membesarkannya di dunia tinju. Holmes adalah sparing partner Ali, karena melihat bakatnya, maka Ali meminta dia menapaki karir tinjunya secara profesional.

Inspirasi dari Ali pula yang kemudian dunia mengenal Mike Tyson. Bahkan sampai kapan pun, Tyson selalu menempatkan Ali di atas dirinya.

Walau berkali-kali muncul pertanyaan, siapa yang lebih diantara mereka berdua. Maka Tyson selalu dengan mantap menjawab; Ali.

Ali telah meninggal dunia, 4 Juni 2016, di usia 74 tahun. Dunia sedang berduka. Sebab yang pergi bukan sembarang manusia. Dia adalah orang yang menggunakan kepalan tinjunya untuk menghancurkan kesombongan dan membangun kemanusiaan.

Dia yang selalu berteriak bersama teman di sisi ringnya, Drew ‘Bundini’ Brown “Float like a butterfly, sting like a bee,” telah mengajarkan kepada kita tentang hidup yang tidak sekadar hidup, namun memperjuangkan tentang apa yang kita yakini.

Selamat jalan Ali. Menarilah di surga, seperti engkau menari di atas ring di hadapan tatapan mata lawan-lawan mu dan di hadapan hati para pengagummu. [MUHAMMAD ALKAF adalah Wakil Majelis Pemuda Indonesia (MPI) Kota Banda Aceh]

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved