Puisi

Tambora

tambora muntah darah malam hari moyang kami bercerita; ketika bulan luruh

Editor: bakri

Karya Muhammad Subhan

tambora muntah darah malam hari
moyang kami bercerita; ketika bulan luruh
dibalut debu.api memercik kembang di langit
orang-orang mengungsi ke dompu

semenanjung sanggar yang sangar
sisa lahar menjadi peta buta

kami ingat letusan tambora dari jauh
seperti tembakan meriam bajak laut
menggelegar api halilintar

nyawa bertaruh di kejaran batu
dan muntahan lahar

tubuh-tubuh memfosil di kota itu
dikutuk ibu malinkundang

tapi berabad setelah waktu yang rumit
tambora menjadi tanah subur
anak-anak leluhur memanen uang
di gembur tanahnya

asa yang hilang
terjemput sudah.

2016

Sinabung

bertahun-tahun lamanya kami menabung harap
membujukmu agar tidak merajuk
sebab tangismu yang pecah
telah menjadi airmata kami

apakah kami berdosa
telah berladang di punggungmu?

kami ingin dekat padamu, sedekat-lekat debu
yang mencumbu; daun kol, cabai, seledri,
kentang dan bawang, yang kami tanam dan panen
setiap waktu dan musim

tapi mengapa,
kedekatan itu tak kausambut mesra?

2016

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved