Selasa, 19 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Apa Karya Memang Beda!

Apa Karya adalah bagian dari pada sosok sekaligus tokoh Aceh, apapun latar belakang dan tujuan yang ingin ia raih.

Tayang:
Editor: Amirullah
FACEBOOK
Ichsan Maulana 

“Beungoh hana keunong kupi, perseh lage koran hana berita tentang Apa Karya.
Kureung meukeutam meunan!”.

Apa Karya, begitu sebutan yang akrab kita dapati dari lelaki bernama lengkap Zakaria Saman. Kehadirannya dalam konstelasi dunia perpolitikan Aceh menjadi warna baru, unik, sekaligus menarik.

Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Aceh tahun 2017 nanti, Apa Karya sudah memutuskan untuk ikut berkompetisi didalamnya dengan mengandeng T. Alaidinsyah sebagai wakilnya. [VIDEO Apa Karya Terisak Menangis Saat Serahkan KTP Dukungan Ke KIP]

Saat ini, Apa Karya sedang merajut narasi politik tersendiri dengan warna dan pendekatan yang hanya Apa Karya seorang yang memilikinya.

Sebelum tulisan ini terlalu jauh, perlu saya sampaikan yang bahwa tulisan ini hanyalah sebatas merekam dan mengemukakan pendapat mengenai sosok Apa Karya yang menjadi fenomena di tengah-tengah masyarakat.

Terutama yang kerap membaca koran. Penulis tidak pernah bertemu langsung dengan Apa Karya, dan jelas Apa Karya tidak mengenal saya. Terlebih lagi, saya bukanlah timsesnya.

Hal ini perlu diperjelas demi menjaga kesan mengkampanyekan seseorang ataupun dianggap bagian dari padanya. Sederhananya, mengurangi syakwasangka yang tidak perlu dan demi menjaga netralitas.

Sebagai salah seorang pentolan eks elit GAM, nama besar dan rekam jejak Apa Karya merupakan modal tersendiri yang melekat padanya. [BACA: Apa Karya Lebih Perjuangkan Perut Rakyat Ketimbang Bendera Aceh]

Tetapi, ada hal lain yang membuat Apa Karya beda dan cukup menjual, apa itu? Sikap dan bicaranya yang terkesan ‘lage na aju’.

Dengan kata lain, ceplas-ceplos. Kerap kali komentar Apa Karya menjadi sesuatu yang mengundang gelak tawa sekaligus membuat kita geleng-geleng kepala.

Masih segar dalam ingatan kita manakala salah satu komentar Apa Karya yang menjadi headline di halaman utama harian Serambi tempo hari, Apa Karya berseloroh: “kalau tidak percaya, tanyak saja Telkomsel”.

Tentu, kalimat tersebut membuat masyarakat yang sedang membaca koran sambil minum kopi, menghentikan sejenak tangganya dari mengaduk gula dalam cangkir kopi, guna larut dalam senyum simpul atau gelak tawa.

Bahkan kemarin, tindakan Apa Karya kala mengantarkan KTP sebagai salah satu syarat untuk maju melalui jalur independen ke KIP menggunakan Truk, menjadi tranding di banyak media online juga viral di ranah media sosial.

Juga pernyataanya yang mengatakan bahwa salah satu partai lokal telah menipu rakyat Aceh, membuat banyak orang mengelus dada sekaligus heran, gawat that Apa Karya troeh beuhe geuh. 

Hal ini kontroversi lantaran semua orang tau, bahwa partai tersebut adalah partai yang telah membesarkan namanya, juga sebaliknya, partai tersebut besar hingga seperti hari ini tidak terlepas dari kontribusinya yang notabene orang berpengaruh di tubuh partai tersebut.

Hanya saja, perbedaan pandangan dan lain-lain memaksa antara keduanya pisah ranjang. Jadi, bukan sesuatu yang mengherankan bila antara keduanya saling sindir. Dinamika politik di tubuh partai dan orang-orang di dalamnya (apapu partainya) sudah begitu lumrahnya.

Begitulah Apa Karya, keunikannya yang terkesan kram-krum dan branding dirinya yang seolah-olah boco haloh menjadi modal lain bagi Apa Karya guna mendongkrak popularitas yang ada.

Membaca Apa Karya adalah membaca antithesis tokoh politik Aceh yang mainstream, di saat yang lainnya nyaman dengan kewibawaan, kesan intelek, ataupun aura garang, Apa Karya malah seakan melabrak kekakuan tersebut dengan keunikannya yang nyentrik lagi humoris.

Hal ini bukan tanpa alasan, realitas membuktikan, bukankan satu statmen saja Apa Karya mengemukakan pendapat atau sepotong komentar yang keluar dari mulutnya, menjadi sebuah kehebohan? Walaupun memang lebih kepada kehebohan yang humoris.

Nyatanya, kehadiran Apa Karya telah berhasil menjadi brand baru yang Apa Karya banget-meminjam istilah anak muda. Ketika wajah perpolitikan Aceh terkesan horor, Apa Karya datang sebagai oase humor untuk mencairkan suasana yang terlanjur kaku, bahkan sering beku.

Apa Karya tidak bisa menyepelekan brand yang telah melekat padanya dengan segala hal-hal nyeleneh yang melekat pada dirinya dan telah membantu mengangkat popularitas Apa Karya itu sendiri.

Jika Apa Karya abai, dan tidak memanfaatkan modal ini, modal yang tidak kandidat lain miliki, maka sungguh Apa Karya telah menghianati langgamnya sendiri, sekaligus megecewakan fans-fans Apa Karya yang senantiasa setia menunggu gebrakan unik apa lagi yang akan keluar dari komentar ataupun sikap Apa Karya.

Apa Karya harus melihat peta politik jangka panjang, dengan kalkulasi yang taktis dan dinamis. Panggung calon Aceh 1 bukanlah satu-satunya panggung yang bisa dijadikan arena tempur.

Tentu Apa Karya paham, sejauh mana peluangnya untuk menang dan betapa ketatnya persaingan dengan kotestan lainnya. Apa Karya jika mampu terus merawat image, branding, dan popularitas yang khas sekali dan cuma Apa Karya seorang yang punya, terlalu banyak jalan dan cenderung mulus baginya untuk melanggang ke arena lainya, semisal menjadi DPD ataupun DPR-RI.

Mestinya Apa Karya paham, bagaimana kemudian ia harus merajut narasi ketokohannya dalam tenun politik yang saban hari makin tak menentu saja.

Jika mau jujur, sulit rasa-rasanya menafikkan bahwa Apa Karya memang beda!, bahkan jikapun orang-orang bersebrangan denganya, berat untuk menyangsikan kepopuleran yang Apa Karya miliki.

Bicaranya yang kerap menggunakan bahasa Aceh, hampir selalu ditulis oleh media-media sebagaimana apa yang Apa Karya sampaikan dengan bahasa Aceh pula, tanpa diubah ke dalam bahasa Indonesia.

Komentarnya hampir bisa dipastikan senantiasa menjadi tranding. Bahkan, kerap kali, kami terutama yang muda-muda berseloroh seraya bercanda: “sang ateuh nama na Apa Karya bak Koran, Koran-koran tiga lagot”. Tidak terlalu berlebihan rasanya, bila kita sebut fenomena ini dengan istilah “Apa Karya Efek”.

Kontroversi, humoris, blak-blakan, serta ke-Aceh-an yang kental adalah hal-hal yang merumuskan image, mengkontruksikan branding Apa Karya, yang kesemua itu bermuara pada tingkat popularitas yang kian hari kian menanjak.

Namun, patut diingat, jika Apa Karya abai, lalai dan tidak mampu memanfaatkan apa yang telah ia bangun dan miliki, serta keluar dari koridor yang ada, maka semua itu hanya akan menjadi bumenrang bagi Apa Karya sendiri.

Apa karya patut bersyukur dengan ia yang memang beda dari yang lain, bukankah ia tidak harus repot-repot memasang advertorial untuk menjual dirinya guna melambungkan namanya? Toh, tanpa itupun, dengan ke-unikan yang ia punya, hampir selalu hal-hal mengenainya menjadi headline utama.

Tidakkah fakta ini cukup menjelaskan bahwa sosok Apa Karya memang sangat menjual? Ia popular? Atau, media-darling lah.

Kenapa Apa Karya bisa seperti ini? Penjelasan di atas cukup menjelaskan dan jawaban untuk itu. Dan tentu saja, Apa Karya memang beda.

Sebagai penutup, kini Apa Karya adalah bagian dari pada sosok sekaligus tokoh Aceh, apapun latar belakang dan tujuan yang ingin ia raih.

Kiranya, untuk Apa Karya, penting untuk menjaga sekaligus merawat apa yang telah ada dan menjadi nilai lain dan lebih baginya juga dilirik banyak orang.

Satu hal yang pasti, belajar dari Apa Karya Efek, bahwa menjadi tokoh tidak melulu harus formal, baku, lagi kaku.

Banyak kelebihan yang setiap orang punya, namun hanya karena tidak percaya diri menjadi takut, malah mengikuti style orang lain.

Berbeda itu menguntungkan, selama berbeda tersebut mampu dipertanggung jawabkan.

Berbedanya Apa Karya dengan keunikan serta humoris yang ia miliki telah menghibur banyak orang, beruntung kita dapat menikmati hal tersebut dalam dan dengan kadar maupun porsi masing-masing. Akhirnya, Apa Karya Memang Beda. Homhai!

[ICHSAN MAULANA, adalah Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan, Universitas Syiah Kuala. Email: Ichsanmaulana.icm@gmail.com]

***

[Redaksi menerima tulisan Kupi Beungoh. SETIAP KONTEN YANG DIBUAT MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS. Kirim ke email: kupibeungoh@serambinews.com]

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved