Senin, 18 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Belajar Kelistrikan di PLN Nusantara Power UP Arun

Secara administrasi, semuanya berjalan baik. Namun, sebagai guru, saya sering merasa ada sesuatu yang tertinggal.

Tayang:
Editor: mufti
IST
ZAWAHIR, S.Pd. Gr., Guru Fisika SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, melaporkan dari Lhokseumawe 

ZAWAHIR, S.Pd., Gr., Guru Fisika SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, melaporkan dari Kota Lhokseumawe

Ada kegelisahan yang kerap muncul setiap kali saya menutup pelajaran di kelas. Materi tersampaikan, siswa mengikuti pembelajaran dengan baik, waktu tak terasa berlalu begitu cepat, pembelajaran pun selesai, dan siswa kembali pada rutinitas mereka.

Secara administrasi, semuanya berjalan baik. Namun, sebagai guru, saya sering merasa ada sesuatu yang tertinggal.

Siswa mampu mengerjakan soal, menghafal rumus, bahkan menjelaskan ulang definisi materi. Namun, ketika ditanya lebih jauh tentang makna dari apa yang telah mereka pelajari, kelas justru sunyi.

Fisika sering dikaitkan dengan simbol dan persamaan. Geografi terjebak pada peta dan batas wilayah. Begitu pun ekonomi larut dalam grafik dan angka. Semua penting, tetapi terasa jauh dari kehidupan nyata.

Listrik misalnya, setiap hari ada, mengalir arus ke rumah-rumah, sekolah, dan fasilitas umum. Namun, di kelas, listrik kerap kehilangan konteksnya. Ia hanya dipelajari sebagai konsep, bukan sebagai sistem yang menyeluruh melibatkan alam, teknologi, kebijakan, dan manusia.

Keresahan ini membuat saya berpikir bahwa mungkin persoalannya bukan pada kemampuan siswa semata, melainkan pada ruang belajar yang terlalu sempit. Sekolah seolah-olah yakin bahwa pemahaman yang didapatkan siswa bisa selesai di balik dinding kelas semata. Padahal, banyak sekali ilmu yang perlu siswa eksplore lebih jauh, bisa didapatkan dari luar sekolah, industri, bahkan di lingkungan sekitarnya.

Koneksi mata pelajaran

Sekolah perlu menghadirkan beragam pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa supaya dapat membentuk kompetensi secara utuh. Pengalaman belajar dapat diperoleh melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. Oleh karena itu, kegiatan kokurikuler menjadi bagian penting dan tidak dapat dipisahkan dari proses intrakurikuler untuk memperkuat pemahaman, karakter, dan kemampuan berpikir kontesktual yang dapat menunjang pemahaman siswa.

Sehubungan dengan itu, SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe telah melakukan kunjungan

ke PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan (UP)  Arun di Blang Panyang, Kota Lhokseumawe.

Kegiatan ini dirancang sebagai kegiatean kokurikuler lintas mata pelajaran fisika, ekonomi, geografi, dan biologi.

Pada mata pelajaran fisika siswa mengetahui proses pembangkit listrik dan cara pendistribusian arus listrik ke rumah-rumah, sekolah, dan perkantoran.

Melalui geografi, siswa mengetahui dampak sosial dari keberadaan pembangkit listrik terhadap lingkungan sekitar. Pada materi biologi siswa mengetahui proses pengolahan limbah dari sisa proses pembangkitan yang dapat meemengaruhi ekosistem. Sedangkan dari mapel ekonomi siswa mengetahui ketersediaan listrik dengan kegiatan produksi dan konsumsi.

Beranjak dari tujuan tersebut siswa sangat penasaran bagaimana pembangkit tersebut beroperasi.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved