Puluhan Nisan Kesultanan Aceh Ditemukan Usai Terkubur Tsunami
Jejak kemasyhuran Aceh tempo dulu di bawah kerajaan Aceh Darussalam masih bisa dilihat dari peninggalannya. Sebut saja kompleks makam raja diraja..
Penulis: Nurul Hayati | Editor: Yusmadi
Laporan Mawaddatul Husna dan Nurul Hayati
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Wisata budaya (heritage) adalah salah satu cara untuk mengenal lebih dalam asal muasal dan kearifan lokal warga yang berdiam di dalamnya.
Jika anda melancong ke Banda Aceh, tersebutlah nama sebuah tempat yaitu, Gampong Pande.
Tempat ini dikenal sebagai titik nol Banda Aceh.

Gampong diambil dari bahasa lokal yang bermakna desa, sedangkan kata pande bermakna pandai.
Konon penamaan yang demikian dikarenakan di tempat itulah berhimpunnya pandai besi.
Gampong Pande yang terletak di Kecamatan Kutaraja ini masuk dalam kawasan cagar budaya.
Jejak kemasyhuran Aceh tempo dulu di bawah kerajaan Aceh Darussalam masih bisa dilihat dari peninggalannya.
Sebut saja kompleks makam raja diraja Aceh, pedang VOC, dan temuan koin emas.

Untuk menggali dan merawat warisan sejarah itu, Masyarakat Peduli Sejarah (Mapesa) Aceh berhasil mengangkat 30 nisan dari 120 nisan yang terdapat pada 60 makam tokoh intelektual kesultanan Aceh.
Nisan itu terbenam di rawa-rawa Gampong Pande dan berhasil diangkat dalam kegiatan gotong royong atau yang dalam bahasa lokal disebut meuseuraya, Minggu (25/9/2016).
Meuseuraya merupakan salah satu kegiatan Mapesa untuk mencari dan menata serta melakukan kajian pada situs-situs sejarah Aceh Darussalam.
Ketua Mapesa Aceh, Mizuar Mahdi didampingi Dewan Pembina Mapesa, Tarmizi A Hamid kepada Tribun Travel mengatakan, berdasarkan pengamatan Arkeolog Aceh, Dedi Satria sebelum musibah tsunami pada Desember 2004 lalu terdeteksi ada 60 makam di rawa-rawa Gampong Pande ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/temuan-mapesa1_20160928_184027.jpg)