Citizen Reporter
Mengunjungi Rumah Maher Zain di Stockholm
ALHAMDULILLAH, untuk suatu lawatan silaturahmi dan pengembangan bisnis Elhanief Group
Pengalaman lain yang saya pelajari di Swedia adalah pendidikan kemandirian yang ditanamkan di dalam keluarga di negara ini. Jika di Indonesia, termasuk di Aceh, orang tua kerap memanjakan anak-anaknya dalam hal biaya hidup dan pendidikan hingga ke bangku kuliah, maka sangat berbeda dengan Swedia. Saat seorang anak sudah memasuki usia 16 tahun, mereka mulai diajarkan ilmu kemandirian dan dibekali keterampilan untuk terjun ke dunia kerja. Selanjutnya, menginjak usia 18 tahun keluarga di Swedia sudah mulai melepaskan tanggung jawab kepada anak tersebut untuk mandiri dalam hal keuangan.
Pemuda Swedia akan diarahkan untuk mencari pekerjaan, guna memenuhi kebutuhan hidup sendiri, baik kebutuhan uang jajan dan biaya pendidikan. Tidak mengherankan jika angka pengangguran di Swedia sangatlah kecil.
Jika pemuda Swedia akan menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan memerlukan biaya, mereka dapat meminjam dari pemerintah. Pembayarannya bisa dilakukan secara cicilan, dipotong dari gaji atau upah hasil dari kerja pemuda tersebut.
Jika hal ini dapat diterapkan oleh keluarga di Indonesia, khususnya di Aceh, insya Allah akan menjadikan masyarakat kita lebih mandiri, mengurangi beban keluarga, dan membantu pemerintah dalam menekan angka pengangguran. Semoga.
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/akmal-hanif-lc_20161005_092408.jpg)