Breaking News:

Citizen Reporter

Belajar Gaya Hidup dari Rakyat Tiongkok

INI merupakan tahun kedua saya berada di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok

OLEH HELMI SUARDI, Mahasiswa Program Master Jurusan Developmental and Educational Psychology di Huazhong University of Science and Technology, melaporkan dari Tiongkok

INI merupakan tahun kedua saya berada di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Banyak hal yang saya dapatkan dari kehidupan rakyat di sini. Sambil menyelam minum air, mungkin inilah yang saya lakukan: terus-menerus belajar di Negeri Tirai Bambu ini untuk mengenali kehidupan dan keseharian rakyatnya.

Saat melangkah ke sana-kemari tentu saja secara tak langsung saya telah diajarkan oleh alam dan kehidupan sekitar tentang bagaimana cara melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda-beda, baik itu positif maupun negatif. Namun, hakikatnya kita sebagai manusia yang telah dianugerahi akal, maka sisi kebaikan (positif)-lah yang harus kita ikuti dan menjauhkan sisi negatif.

Kali ini saya ingin menyampaikan sesuatu yang menarik tentang rakyat Tiongkok. Dengan berada di sini hampir dua tahun, saya menjadi lebih mengerti mengapa Rasulullah saw menganjurkan kita supaya mencari ilmu hingga ke Negeri Cina.

Dalam kesehariannya, kehidupan rakyat Tiongkok ini terbilang cukup unik, baik itu secara sosial maupun pribadi. Warga Tiongkok sangat berdisiplin, baik itu dalam hal yang kecil maupun hal besar.

Jika kita lihat dari segi ekonomi, Cina ini adalah bangsa yang mempunyai etos kerja tinggi dan tipe pekerja keras. Dalam sehari, orang Cina mampu bekerja 12 jam. Bayangkan, kita saja yang bekerja delapan jam sehari, sudah merasa berat.

Di samping sebagai pekerja keras, orang Cina adalah pekerja cerdas. Sekarang, tak ada satu barang pun di dunia ini yang tidak ditiru oleh Cina, lalu dia jual lebih murah. Boleh kita katakana Cina adalah macan ekonomi di Asia kini.

Ekonomi Cina booming dan berkembang sangat pesat. Kenapa? Karena bangsa Cina itu tidak suka hidup mewah, di samping karena budaya, juga karena faktor politik komunisme yang mereka anut. Cina itu dari komunis bergeser ke arah sosialis yang agak longgar, bahkan sekarang menjadi kapitalis, namun bukan “dikapitalisi” oleh orang lain.

Hidup bangsa Cina tetap sederhana, karena budaya mereka mengacu pada filsafat Konghucu, sekalipun mereka komunis yang menganut ajaran tidak bertuhan (ateisme).

Saya melihat bangsa Cina ini memang aneh. Mereka lebih mendahulukan bekerja daripada makan. Porsi yang dimakan harus di bawah hasil kerja. Sebenarnya, porsi makan orang Cina itu banyak, sama banyaknya dengan orang Arab, akan tetapi karena mereka berolahraga terus, sehingga jarang ada yang gemuk.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved