Cerpen
Pembunuhan!
PEMBUNUHAN! Pembunuhan! Seorang ibu berteriaksaat melewati jembatan Jambong dengan motor matiknya. Lampu depan motor langsung enerabas hutan
Karya Ikhsan Hasbi
PEMBUNUHAN! Pembunuhan! Seorang ibu berteriaksaat melewati jembatan Jambong dengan motor matiknya. Lampu depan motor langsung enerabas hutan yang ditumbuhi pepohonan tinggi dan memapar dua orangbersebo. Salah satu dari mereka menusukkan sebilah belati ke tubuh seorang gadis dan membawa lari tasserta seluruh perhiasan di tubuhnya.
Si ibu ingat betul penampilan kedua orang bersebo itu. Seorang di antara mereka punya tato sepanjang lengan, tinggi dan agak tambun. Seorang lagi kurus, saat berlari terlihat kakinyapincang sebelah. Namun sayang, si ibu tidak bisa melihat wajah di baliksebo tersebut.
Saat itu seekor tupai sedang melompat di antara ranting pohonjambu klutuk. Angin sejuk tiba-tiba berembus dan lampu di ujung jembatan agak ergetar.
***
Aku pulang dari rumah seorang kerabat malam ini. Udaranya agak sejuk. Memang dari sore hari sudahterlihat mendung. Kukira malam ini akan ujan. Tadi aku mau minta suamiku mengantar, tapi ia lagi sibuk.Ada tugas yang mesti disiapkan buat acara di kantor besok, katanya. Aku tak mau engganggu. Kalau sudah dipercaya, jangan setengah-setengah,kataku. Aku ingin suamiku fokus bekerja dan profesional. Aku sering melewati embatanJambong, yang menghubungkan beberapa kampung dari sungai yang lebar dan kerap memakan korban. Jembatan itu bisa menjadi alternatif, daripada harus memutar melaluijembatan lain meski teraspal.
Tapi memang di daerah ini rawan. Terlebih suasana hutan dan gelap. Untung, sudah setahun ini, aparatur desa punya inisiatif untuk memasang lampu di ujung jembatan. embatan ini kira-kira sudah lebihdari setengah abad dibangun. Aku belum lahir saat itu. Katanya sejak dibangun, jembatan ini dihuni roh-roh makhluk halus yang jahat. Tapi aku sama sekali tak percaya. Malah kulihat, orang-orang kampung justrusering buat hajat tengah alam atau pagi-pagi sekali.
Dulunya ujung jembatan itu jadi tempat preman mangkal. Di sanagubuk tempat mereka tidur-tiduran dan bermalas-malasan. Karena sangat mengganggu, tetua kampung meminta bantu polisi untuk mengusir mereka dan mencabut arus listrik di ujungjembatan. Jadilah jembatan ini gelap ejak saat itu.
Sejak masa konflik, sudah jarang orang yang mempergunakan jembatan ni. Lebih-lebih di malam hari. Kontak senjata. Cerita-cerita konyol tentang korban tembakan. Resiko diculik atau ditembus peluru nyasar, membuat banyak warga memilih jalur lain yang lebih ramai dan lebih terang dibandingjembatan ini.
Malam ini, saat hendak melewati jembatan, aku terkejut. Seorang gadis terlihat berlari sambil meminta tolong. Kupercepat sedikit laju motorku, meski agak oleng karena jembatannya goyang. Di belakang gadis itu tiba-tiba muncul dua orang bersebo. Dari postur dan gerak mereka, aku tahu keduanya lelaki. Di tangan si kurus ada sebilah belati. Aku berteriak, Pembunuhan! Akan ada pembunuhan!”
Suasana terasa mencekam, apalagi angin sejuk merayap senyap. Membuat bulu kudukku meremang. Cecaran lampu motor membuat kedua lelaki itu silau. Aku mulai mengingat serinci mungkin penampilan mereka. Tapi sebelum sampai ke tempat, gadis itu telah ditusuk. Keduanya berusaha melepaskan cincin dari jari gadis itu, gelangnya, alung sampai anting. Gadis itu tampak mencepuk-cepuk udara.Kedua lelaki itu lalu melarikan diri, meninggalkan si gadis yang sekarat.
Tolong! Tolong!” Bagaimana mungkin ada pertolongandi sini. Ini hutan. Aku agak gemetaran menggenggam ponsel dan sebisa mungkin menenangkan diri, llu menelepon adikku yang bertugas di polsek setempat dan beberapakenalan yang bekerja di rumah sakit.
***
Sudah sedari tadi aku mendengar ada manusia yang meminta tolong. Iaberlari menjauh dari dua lelaki yang mengikutinya. Aku ingin tahu. Aku terus melompat dari ranting ke ranting. Selagi lapar yang tampaknya abadi ini, aku menggigit buah jambuklutuk yang menyatu dengan ranting. Ingin sekali ku membantu gadis itu.
Namun dengan tubuh kecilku ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi bahasa kami berbeda. Aku cuma bisa melihat dan mendengar. Lalu entah bagaimana, inisiatif itu tumbuh. Aku berusaha melempar beberapa jambu yang bisa kuangkat dan meluruhkan ke bawah. Kulihatorang bersebo itu ejenak berhenti dan memperhatikan ke sekeliling. Tiba-tiba dari ujung seberangjembatan, muncul cahaya. Kukira itu malaikat. Cahaya itu semakin endekat, ketika dekat, ternyata aku salah lihat. Seorang ibu muncul denganmotornya, berkali-kali ia berteriak dan membunyikan klakkson.
Tapi malang bagi gadis itu. Sebelum si ibu sampai, salahseorang dari lelaki bersebo itu telah menusuknya. Tampak sekali raut ketakutan kentara di wajah gadis itu. Gadis itu terlihat sulit bernapas. Matanya setengah terpejam. Barangkali menahan sakit yangserasa dahsyat. Aku juga pernah mengalaminya saat para pemburu suka mengincar bangsaku. Merekamembidik dan melepaskan tembakan, aku yang tidak tahu, tiba-tiba terkejut mendengar bunyi letusan.
Sebelum aku sadar, sebutir peluru menembus ekorku. Untung saja saatitu aku tidak langsung jatuh ke tanah. Aku tersangkut di ranting dan cepat-cepat berlari, melompat,menyelamatkan diri. Kedua orang bersebo itu panik dan cepat-cepat pergi setelah mengambil perhiasaan milik si gadis.Begitu si ibu sampai di tempat, kelihatan ia panik sekali.
***
Sejak seharian aku bertugas. Mengantar mendung ke langit-langit kota negeri ini. Tugasku hanya membuat udara sejuk, lalu bermainmainke pelosok, ke segala sudut, ke segala tempat. Orang-orang terus merapatkan baju. Banyak orang yang mengangkat wajah melihat langit dan bertanya-tanya, apakah hari ini akan hujan. Ibu-ibu menyelipkan mantel ke bawah jok motor. Anak-anak pergi ke sekolah dengan jaket.Malam itu, saat aku bermain e kampung Bronjong, tepatnya di mbatan Jombang, aku menyaksikan dua lelaki mengejar seorang gadis.
Gadis itu kesulitan berlari karena alas kakinya tinggi. Bajunya yang merah tampak menguning, barangkali karena efek lampujembatan. Kedua lelaki yang mengejarnya tampak tertatih dan lamban. Tapi pada akhirnya kedua lelaki itu berhasil menghampiri si gadis. Lalu menyiksanya.Aku sempat mendengar, saat lelaki kurus itu menodongkan belati ke wajah gadis itu, “Kamu kasihsemua yang ada di badanmu, termasuk tas itu.
“Tanpa enunggu persetujuan,lelaki tambun itu merampas tas si gadis. Sedang si lelaki kurus memperhatikan gadis itu dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. “Boleh juga ini cewek,” tampaknya lelaki kurus itu sedang dipenuhi fantasi birahi. Keduanya sesaat terkekeh. Mereka tak peduli bunyi klakson dari belakang. Melihat ada yang datang, si gadis merasa punya kesempatan. Ia terus berteriak dan berusaha merampas kembali tasnya. Tapi belati itu terlanjur bersarang di perutnya. Si ibu yang tiba-tiba muncul dari ujung jembatan memburu motornyadan berteriak meminta tolong.
***
Tegak. Kaku. Terpancang. Bukanlah keinginanku. Sejak dipasang kembali setahun terakhir, telah banyak yang kulihat. Mulai dari orangpacaran, preman teler, pemeras, perampok, orang-orang yang menungging di tepi, membiarkan sungai melihat lubang pantatnya yangmencemplungkan otoran—membuatku merasa cabul—dan yang terakhir ini adalah upaya pembunuhan.
Sialnya, nasibku mentok, tak bisaberbuat apa-apa. Paling-paling, jika ada angin macam malam ini, aku akan sedikit bergoyang, melenturkan sedikit badan. Jika masuk waktumagrib, aku akan menyala sendiri secara otomatis.
Melihat kejadian ini, aku takut, nantinya hari-hariku terus dibayangi tragedi mencekam ini. Bagaimanamungkin manusia sanggup berbuat demikian. Tega sekali! Andai saja aku diberi kesempatan bicara dan setidaknya berubah menjadi sesuatu yang menakutkan, aku ingin menjadi sesuatu yang bisa membuat orang-orang bersebo itu menjauhi si gadis. Untung sekali, angin malam ini memang sedikit membantu. Saat ia berhembus, tubuhku bergoyang, lampu di wajahku ikut bergetar dan berkerlip.
Kedua orang bersebo memperhatikan ke sekitar. Barangkali mereka agak takut dan berpikir ada roh jahat di sekitar sini.
***
Betapa sialnya aku malam itu. Pria yang sudah kupacari tiga tahunternyata selingkuh. Aku minta turun dari mobilnya. Amarahku meletupletup. Akal ehatku ikut gagu. Betapa selama ini aku telah dibohongi. Tak kuperhatikan tempat aku turun ternyata jalan gelap menuju hutan,meski tembus ke empat tinggalku, tapi itu jauh.
Tadinya aku berpikir, biar ia mengantarku sampai ke rumah. Demikulihat tampangnya tersenyum bangga, tak menyesal, ngin kutimpuk wajahnya pakai tas. Tapi sayang, ini tas pemberiaannya juga. Sepanjang perjalanan, ia terus berkilah. Ia tidak tahu, aku memergokinya dengan mata kepalaku sendiri, ia jalan bergandengan dengan gadis kurang ajar itu. Lagi-lagi ia tersenyum, sambil meminta maaf. Ah, jijik. Aku seperti sedang berduaan dengan binatang laknat. Sangking marahnya, kusuruh dia berhenti.
Aku turun dari mobilnya, lalu menyusuri jalur berbatu serta becek. Udara begitu dingin. Baru 10 meter aku berjalan, aku mendengar ada orang yang berbisik dan rantingranting patah terinjak. Aku melirik ke belakang, melihat gerak-gerik dua orang yang terus mengikutiku. Wajah mereka tak erlihat. Gelap. Kupercepat langkah. Keduanya pun mempercepat. Lalu aku berlari.
Mereka punmengejar. Aku terengah-engah, mereka juga terengah-engah. Sampai kakiku terganjal batu dan sol sepatu hak tinggiku patah, kedua lelaki itu telah menodongkan belati ke wajahku. “Aku tak punya apa-apa.” Terdengar ada sesuatu yang jatuh dari pohon tempat aku tersudut. Bulu di sekujur tubuhku meremang, entah karena dinginnya atau karena takut. Lelaki kurus bersebo itu mengancamku. Temannya satu lagi merampas tasku.
Begitu kulihat ada orang datang. Aku berteriak minta tolong. Tapi sialnya, belati itu telah menghujam perutku. Aku tercekat. Sakit pun cepat menyebar. Mereka mengambil apa saja yang ada di tubuhku. Aku bagai kehabisan napas. Saat itu yang kupikirkan, apakah secepat ini aku akan mati. Samarsamar kudengar orang yang datang itu berteriak dan kedua orang yang merampokku entah lari kemana. Aku nyaris tenggelam dan adam. Entah berapa lama kemudian, aku bisa mendengar sirene. Aku tak sanggup membuka mata. Tapi aku masih yakin, nyawaku masih melekat.
***
Kami memang tak punya niatan apapun malam itu. Kami hanya ingin menghisap ganja. Kalau di kampung, takutnya ada polisi atau intel. Begitu tercium bau, kami akan dicari dan ditangkap.
Tapi saat melihat ada seorang ewek turun dari mobil dan menyusuri jalan ini, niat itupun muncul. Kamimengintip, apa yang dibawa cewek itu. Dan emperhatikan suasana di sekeliling. Begitu terasa aman dan tenang, kukira inilah kesempatannya. Awalnya kami mengikuti cewek ituhanya untuk erampok, bukan yang lain.
Tapi cewek itu tahu kami menguntitnya. Ia pun berlari sambil meminta tolong. Ini memang beresiko. Tiba-tiba cewek itu terjatuh dan mengaduh. Kesempatan semakin terbuka. Kutodongkan belati. Cewek itu ketakutan. Aduhai, ternyata cewek ini cantik! Ah, aku jadi pingin. Temanku erampas apapun yang bisa dirampas. Dari belakang kudengar derum motor, cahaya dari lampu depannya menyilaukan.
Kami mempercepat aksi. Tapi cewek ni sepertinya menemukan cara. Ia berteriak minta tolong. Tentu saja temanku ini panik. Tubuhnya yang tambun berbalik sana berbalik sini. Ia mundur, aku terdorong. Belati yang masih kuarahkan pada cewek itu tiba-tiba menusuk perutnya. Cewek itu meringis. Aku panik. Seumur-umur belum pernah aku membunuh orang. Setelah mengambil apapun yang ada di tubuh cewek itu, kami pun larisecepat ungkin, semampu mungkin. Tak lama lagi, polisi pasti akan datang mencari. Saat itu, aku tak tahu, entahbagaimana pikiran tentang Tuhan tibatiba saja muncul di benakku. Oh Tuhan! Meureudu, 07 Agustus, 2016