Senin, 11 Mei 2026

Citizen Reporter

Relawan Menjadi Hobi Pemuda di Amerika

AMERIKA Serikat (AS) merupakan negara adidaya yang cukup disegani dunia. Pembangunan sosial di AS

Tayang:
Editor: bakri

OLEH NANDA MARISKA, alumnus Prodi Kesejahteraan Sosial pada Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Amerika Serikat

AMERIKA Serikat (AS) merupakan negara adidaya yang cukup disegani dunia. Pembangunan sosial di AS tidak terlepas dari peran volunteer (relawan) yang secara sukarela meluangkan waktu dan tenaga untuk melakukan berbagai perubahan di sekitarnya. Itulah yang

saya rasakan saat berkunjung ke AS untuk mengikuti program kursus singkat YSEALI baru-baru ini.

Young South East Asian Leaders Initiative (YSEALI) Academic Fellowship Program merupakan kursus singkat lima minggu ke AS yang diresmikan Barack Obama tahun 2013. Program ini bertujuan memberikan kesempatan bagi pemimpin muda di negara-negara ASEAN untuk belajar mengenai tiga hal utama, yaitu civic engagement (pemberdayaan masyarakat), social entrepreneur and economic development (wirausaha sosial dan pembangunan ekonomi), serta environmental issues (isu lingkungan).

Saya memilih program civic engagement karena latar belakang pendidikan saya dari Prodi Kesejahteraan Sosial Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, di UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Selain itu, saya juga bekerja di WWF dan aktif di beberapa komunitas lokal terkait isu sosial lingkungan. Jadi, semuanya saling berkaitan.

Saya ditempatkan di Kennesaw State University, Georgia, USA. Saya belajar di Kennesaw tiga minggu. Satu minggu berikutnya saya diajak berkunjung ke Tennesse dan Alabama untuk belajar mengenai hak asasi manusia (HAM), dan minggu terakhir ke Washington DC untuk mempresentasikan desain program di US Department of State (Kementrian Luar Negeri Amerika Serikat).

Selama di kampus, saya dan 20 peserta lainnya dari sepuluh negara ASEAN didampingi untuk menyusun program yang akan diterapkan ketika kembali ke negara masing-masing. Sistem belajar selama di AS tidak hanya di kelas. Kami juga diajak mengunjungi beberapa NGO untuk terlibat langsung dalam kegiatan mereka dan di situlah saya memahami konsep volunteerism.

Hal penting yang saya pelajari di beberapa NGO lokal tersebut adalah pentingnya peran relawan dalam pembangunan sosial di AS. Relawan yang umumnya pemuda dan mahasiswa datang sukarela untuk membantu berbagai kegiatan tanpa berharap balasan (pamrih). Mereka bahkan menjadikan kegiatan sukarela ini sebagai agenda rutin bulanan, mingguan, hingga harian.

Mereka merancang semua kegiatan sendiri, bahkan secara profesional. Perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi sangat terukur. Pembagian tugas diberikan sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman. Mereka juga merangkul pemuda dan mahasiswa dari berbagai latar belakang dan mengajak mereka untuk sama-sama membuat perubahan. Mereka sangat menyadari bahwa perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal sekecil apa pun.

Mereka melakukan berbagai hal untuk perubahan skala kecil hingga skala besar. Mulai dari pembersihan sungai, edukasi, packing bantuan, dan aksi sosial lainnya. Pekerjaan mereka sangat teliti.

Kebanyakan lembaga sosial di AS berawal dari gerakan relawan dan mulai dari hal-hal simpel. Misalnya, seperti global soap project. Mereka bertekad meningkatkan kualitas kesehatan global. Idenya dimulai dengan cuci tangan pakai sabun dalam kehidupan sehari-hari. Latar belakang mereka mengangkat isu ini adalah karena banyak orang yang tidak sadar pentingnya kebersihan untuk menjaga kesehatan dan itu dimulai dengan cuci tangan pakai sabun.

Dalam menjalankan program ini, mereka menemukan tantangan bahwa mereka butuh banyak sabun untuk bisa didistribusikan ke berbagai daerah. Untuk menjawab tantangan tersebut, mereka bekerja sama dengan hotel-hotel, agar dapat menyumbangkan sabunnya untuk didistribusikan ke berbagai daerah. Dimulai dengan penyimpanan stok beberapa batang sabun, kemudian berkembang dengan penyimpanan di garasi rumah, dan akhirnya punya gudang besar dan kantor sendiri.

Saat ini, lembaga mereka telah menjangkau berbagai belahan dunia dengan gerakan cuci tangan pakai sabun dan memiliki jaringan kerja sama dengan berbagai hotel, termasuk hotel bintang lima di AS dan negara lainnya. Mereka yakin bahwa untuk mencapai perubahan, perlu adanya langkah kecil untuk memberikan dampak positif yang besar.

Hal ini mengingatkan saya pada Aceh. Aceh memiliki latar belakang konflik dan tsunami telah didatangi oleh relawan dan ekspatriat dari berbagai belahan dunia. Saat ini, Aceh sudah bangkit dan pembangunan infrastruktur telah menjadi lebih baik.

Peran relawan muda di Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi juga menjadi poin penting pembangunan. Keterlibatan pemuda memberikan ide-ide cerdas, kreatif, dan inovatif dalam berbagai program kerja sama dengan pemerintah. Bagaimanapun, tidak dapat dipungkiri juga bahwa masih ada pemuda dengan pola pikir “saya dapat berapa” jika diajak untuk mengikuti kegiatan sosial, seminar, dan workshop.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved