Komunitas Muslim AS Bersatu untuk Hillary demi Kalahkan Trump
Kampanye Hillary dan Trump merupakan salah satu yang terpanas dalam sejarah pemilu AS.
SERAMBINEWS.COM - Seruan untuk umat Muslim di Amerika Serikat untuk "solid" dalam memberi suara kepada calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton muncul menjelang pemilihan presiden A, 8 November 2016.
Seruan itu berkumandang, karena muncul kekhawatiran bahwa calon dari Partai Republik Donald Trump bakal terpilih menjadi Presiden baru AS.
Informasi ini diungkapkan oleh imam masjid Indonesia di New York dan Washington DC, seperti dilansir laman BBC Indonesia, Senin (7/11/2016).
Imam masjid Indonesia di New York, Shamsi Ali, menyebut proses pemilu 2016 ini sebagai pemilihan presiden yang 'luar biasa'.
Sebelumnya, kampanye kedua calon ini diwarnai dengan debat panas dan saling tuduh terkait sejumlah isu.
"Pemilu kali ini luar biasa. Saya melihat masing-masing komunitas kampanye besar-besaran," kata dia.
"Komunitas Muslim misalnya bekerja sama dengan perusahaan mobil di beberapa tempat untuk memberikan fasilitas gratis kepada Muslim yang ingin berangkat dan memilih," kata Shamsi Ali.
"Pemilu ini dipertaruhkan dalam situasi yang harus diantisipasi karena adanya kandidat yang kurang bersahabat terhadap Muslim, sehingga komunitas Muslim dan inter faith partners yang punya concern yang sama, bekerja sama agar hal ini tak terjadi," tambahnya.
Sementara itu, imam di Imam Centre, Washington DC, Fahmi Zubir mengatakan, dalam beberapa bulan terakhir, banyak organisasi Muslim dan juga lintas agama menyerukan kepada komunitas masing-masing untuk memilih.
"Banyak aktivitas, seperti seminar dan aktivitas pemuda Muslim lain mengangkat bagaimana pentingnya kita vote dan antisipasi Islamofobia yang penting kita vote dan yang penting bukan Trump," kata Fahmi.
Fahmi pun mengatakan, yang juga khawatir adalah komunitas agama lain seperti Yahudi. Mereka khawatir Islamofobia akan merambat ke kekerasan terhadap pemeluk agama lain.
Kerjasama dengan perusahaan transportasi
Kampanye Hillary dan Trump merupakan salah satu yang terpanas dalam sejarah pemilu AS.
Selain suara terbanyak, pemilihan presiden AS menggunakan sistem yang disebut electoral college, atau sekelompok orang yang disusun berdasarkan jumlah penduduk.
Secara total terdapat 538 kelompok dan untuk menang, seorang calon harus mendapatkan 270.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/amerika_20161108_100349.jpg)