Bahasa dalam Konseling
Keberadaan bahasa dapat dilihat dan dibaca dari beragam perspektif keilmuan
Oleh Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I. Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh.
Keberadaan bahasa dapat dilihat dan dibaca dari beragam perspektif keilmuan. Ini disebabkan oleh keberadaan bahasa yang berkorelasi berhubungan) dengan multi-ilmu, semisal bahasa dalam politik, Alquran, sosiologi, antropologi, dan dalam konseling. Kajian-kajian bahasa dalam ragam perspektif keilmuan tersebut tentu akan menambah perkembangan khazanahbahasa baik secara akademik maupun praktik di masyarakat.
Keberadaan bahasa dalam dunia konseling laksanakeberadaan air bagi ikan. Ikan tidak akan mampu bertahan hidup tanpa air. Begitu pula kedudukan bahasa dalam konseling, bahasa menjadi indikator penentu dalamproses kegiatan konseling. Bahasa seperti pisau bermata dua dalam konseling, dengan bahasa dapat menyukseskan egiatan konseling.
Pun, bahasa juga dapat menghambat dan menggagalkan kegiatan konseling. Artinya, tatkala konselor menggunakan bahasa yangmencerminkan kesantunan, kemuliaan, keluhuran, keindahan, dan persahabatan dalamproses konseling, maka akan mempermudah danmempercepat suksesnya kegiatan konseling.
Namun, tatkala konselor menggunakanbahasa yang mencerminkan intimidasi, pelecehan, menuduh, menghardik, penghinaan, kasar, atau kosa-kata yang tidak bersahabat lainnya akan menghambat proses konseling.Kemampuan konselor dalam berbahasa sangat mempengaruhi sukses tidaknya proses konseling. Banyakkonselor yang gagal melaksanakan kegiatan konseling hanya disebabkan ketidakmampuannya dalam berbahasa.
Sebab itu, dalam kajiankonseling kemampuan berbahasa dengan baik merupakan satu ketrampilan yang harus Dosen Prodi Bimbingan Konseling slam (BKI) IAIN Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh.dimiliki konselor, semisal bahasa menyapa, bertanya dan menjawab, dan menyimpulkan dari setiap proses konseling. Artinya, ketika konselor tidak mampuberbahasa dengan baik dalam proses konseling menjadi satu indikator kegagalan konseling terjadi.
Berikut beberapa ketrampilan berbahasa dalam kegiatan konseling. Pertama, carabertanya dalam konseling. (a) Konselor harus menghindari bertanya dengan kalimat terlalupanjang dan bertele-tele. Sehingga dapat membingungkan dan menyulitkan serta memecahkan konsentrasi konseli dalam menjawab. (b) Konselor harus menghindari pertanyaan ‘mengapa’ dalam kegiatankonseling. Sebab, pertanyaan ‘mengapa’ akan sulit dijawab oleh konseli karena memerlukan analisis. Sehingga terkadang pertanyaan ‘mengapa’ dapatmenghambat proses konseling. Semisal, ‘mengapa anda enggangguteman?, mengapa anda merokok?, mengapa anda berbuat itu?, mengapa anda berperilaku demikian?’, dan lainnya.
(c) Bahasa yang digunakankonselor harus diungkapkan dengan nada dan intonasi yang netral, walaupun konseli sedang dalam emosi yang tinggi, misalkan tidak memojokkan dan enuduh. Semisal ungkapan, ‘mengaku saja memang anda yang mengambil uang teman anda, sebab hanya anda yang berada di kelas waktu itu’.
Ungkapan ini tentu menunjukkan sikap konselor yang menuduh, memojokkan, dan tidak netral.Apalagi ketika kalimat tersebut diungkapkan dengan isertaibahasa non-verbal, semisal gerak tangan, kontak mata, kerutan kening dan lainnya. Kedua, gaya bertanya dalam konseling. (a) Konselor hendaknya tidak menggunakanbahasa-bahasa bergaya interogasi atau menuduh yang dapat membuat konseli tertekan.
Sebab, ketika konseli merasatertekan maka konseli akan takut mengatakan sesuatu dengan sejujurnya. Sehinggamengakibatkan terhambatnya proses konseling. Semisal, ‘cuma anda siswa yang paling nakal di sekolah ini, anda memang pencuri, memang anda yang tidak pernah piket di kelas’, dan lainnya. (b) Konselor hendaknya tidak menggunakan bahasabahasa bergaya menggurui, sehingga merasa paling pintar, paling mengerti masalah dan lainnya. Semisal, ‘masalah anda gampang diselesaikan, asalah anda itu kecil, masalah anda itu tidak seberapa, asalah anda hanya butuh waktu satu menit untukdiselesaikan, masalah hanya terletak pada diri anda’, dan lainnya. Selain itu, (c) dalam konseling, walaupun dengan menggunakan bahasa terbaik, namun tidak harus dengan gaya formal, sebab akanmembuat jarak antara konselor dan konseli.
Ketiga, cara menjawabdalam konseling. (a) Konselor hendaknya tidak langsung menjawab pertanyaan sehingga terasa menyelesaikanmasalah ecara instan.Semisal, ketika konseli mengakui sedang sakit perut,konselor tidak langsung memberinya obat, namun ditanyakan terlebih dahulu.
Sebab, jangan-jangan konseli hanya beralasan sakit perutdisebabkan tidak nyaman belajar di kelas atau ada masalah lain. Selain itu, (b) sebelum melaksanakan kegiatan konseling, hendaknyakonselor sudah mengidentifikasi latar belakang konseli, minimal motivasi dan karakter konseli. Dan juga, (c) konselor harus menempatkan konseli sebagai manusia yang mampuberpikir, sehingga perlu dilibatkan dan diaktifkan dalam proses konseling dirinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/bahasa-asing_20151109_102738.jpg)