Selasa, 19 Mei 2026

Opini

Pemimpin dan Kepemimpinan

SEJARAH pemimpin dan kepemimpinan muncul bersama-sama dengan adanya peradaban manusia, yaitu sejak zaman Nabi-nabi dan nenek moyang

Tayang:
Editor: hasyim
SUASANA Debat Publik Pilkada Aceh yang diikuti oleh enam pasangan cagub/cawagub Aceh dalam siaran langsung pada salah satu televisi swasta nasional di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Kamis (22/12) malam. 

Oleh Sri Rahmi

SEJARAH pemimpin dan kepemimpinan muncul bersama-sama dengan adanya peradaban manusia, yaitu sejak zaman Nabi-nabi dan nenek moyang manusia yang berkumpul bersama, lalu bekerja sama untuk mempertahankan eksistensi hidupnya menantang kebuasan binatang dan alam sekitarnya. Sejak itulah terjadi kerja sama antarmanusia, dan di dalamnya ada unsur kepemimpinan. Pada saat itu pribadi yang ditunjuk sebagai pemimpin ialah orang-orang yang paling kuat, paling cerdas dan paling berani. Pada masa itu muncul suatu teori yang dinamakan Physical Characteristic theory.

W.H. Sheldon, dalam penelitiannya menemukan 76 tipe struktur tubuh manusia yang berhubungan dengan perbedaan temperamen dan kepribadian, antara lain; sehat jasmani dan rohani, kuat, besar, extrovert, disegani, percaya diri dan lain-lain. Namun realita yang ada adalah banyak dijumpai bahwa terdapat berjuta-juta manusia memiliki kualifikasi tersebut ternyata tidak pernah menduduki jabatan pemimpin, sebaliknya terdapat sejumlah orang yang berhasil menduduki jabatan pemimpin tanpa memiliki ciri-ciri yang dianggap sebagai pemimpin.

Selanjutnya tuntutan akan syarat seseorang ditunjuk sebagai pemimpinmengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan kebutuhan hidup dan perkembangan peradapan manusia. Hingga saat ini terjadi banyak pendekatan tentang asal usul seorang pemimpin yang efektif di kalangan ilmuwan yang mendalami masalah-masalah kepemimpinan dan di kalangan para praktisi, hampir sebagian besar sepakat bahwa pemimpin merupakan ujung tombak sebuah kesuksesan.

Pemimpin seyogyanya adalah orang yang berperan penting dalam menakhodai bangsa dan negara ini. Jika diumpamakan negara sebagai sebuah kapal laut, maka pemimpin itu adalah nakhodanya dan rakyat itu adalah penumpang kapal. Mampukah sang nakhoda membawa kapal berikut penumpangnya ke daratan, atau akan menabrak bongkahan gunung es atau batu karang yang ada di tengah lautan yang membuat kapal tersebut karam?

Menjadi seorang pemimpin mempunyai tugas dan tanggung jawab yang teramat besar, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Pemimpin hendaknya mempunyai kesiapan untuk mempengaruhi, membimbing, dan mengarahkan atau mengelola orang lain agar mau berbuat sesuatu demi tercapainya tujuan bersama. Selain itu, yang juga harus dipahami bahwa, memilih pemimpin seyogyanya adalah orang yang mampu mengeluarkan dan membebaskan rakyatnya dari kegelapan. Jika itu kontek sebuah negara, maka kegelapan yang dimaksud adalah kegelapan ekonomi, pendidikan, sosial, budaya dan lain sebagainya.

Hakikat kepemimpinan
Dalam ajaran Islam sendiri banyak ayat dan hadis-hadis baik secara langsung maupun tidak langsung yang menjelaskan hakikat dari kepemimpinan. Di antaranya seperti dijelaskan dalam Alquran, “Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaqut itu.” (QS. An-Nahl: 36). Ayat tersebut mempertegas hakikat diutusnya seorang pemimpin kepada manusia sebenarnya hanyalah untuk memimpin umat dan mengeluarkannya dari kegelapan.

Figur yang beraneka ragam dan partai politik yang sangat banyak menjadi kebingungan tersendiri bagi sebagian masyarakat awam dalam menentukan pilihannya. Sebenarnya, dilema memilih pemimpin dalam menghadapi Pilkada Aceh 2017 ini tidak perlu terjadi, jika masyarakat memahami pemimpin seperti apa yang dibutuhkan daerah ini.

Setelah konflik yang berkepanjangan, musibah gempa dan tsunami melanda Aceh, masyarakat hanya mengharapkan enam hal kepada pemimpin Aceh mendatang: Pertama, air. Siapapun yang jadi pemimpin, sediakan air yang bersih, layak dan mudah diperoleh oleh semua masyarakat. Pilihlah orang yang ahli untuk ditempatkan di PDAM, karena air merupakan sumber kehidupan yang paling utama; Kedua, listrik. Siapapun yang jadi pemimpin, berpikirlah untuk pengadaan listrik di Aceh, sehingga pemadaman listrik tidak terjadi lagi. Karena hampir semua rakyat Aceh bekerja menggunakan listrik;

Ketiga, pendidikan. Siapapun yang jadi pemimpin, berpikirlah untuk menciptakan pendidikan yang lebih berkualitas dan bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Hilangkan persepsi orang bahwa mutu pendidikan di Aceh masih tertinggal dari daerah lain. Karena pendidikan adalah modal bagi pemuda pewaris kepemimpinan. Majunya pendidikan membuktikan berhasilnya sebuah rezim kepemimpinan; Keempat, kesehatan. Siapapun yang jadi pemimpin, sediakan sarana kesehatan yang layak, murah dan ramah bagi masyarakat. Kesehatan merupakan modal penting bagi setiap masyarakat, karena dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Dengan kesehatan yang bagus masyarakat akan mampu bekerja dan berpikir membantu pemimpin memajukan Aceh;

Kelima, keamanan. Siapapun yang jadi pemimpin, ciptakan rasa aman untuk hidup dan bekerja bagi masyarakat. Jangan terjadi lagi hukum rimba di Aceh (siapa yang kuat dia yang menang). Beri jaminan keamanan bagi semua lapisan masyarakat, dan; Keenam, lapangan kerja. Siapapun yang jadi pemimpin; ciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya di Aceh. Jangan hanya bisa mengimport tenaga kerja dari luar Aceh. Masih sangat banyak SDM yang berkualitas yang belum dimanfaatkan di Aceh.

Untuk bisa mewujudkan keenam harapan masyarakat Aceh di atas, maka ada syarat yang harus dipenuhi oleh calon pemimpin kedepan. Aceh merupakan daerah yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam, sehingga secara otomatis masyarakat Aceh membutuhkan seorang pemimpin yang benar-benar Islami (bukan hanya KTP-nya yang Islam).

Pemimpin ideal
Ada beberapa syarat pemimpin yang ideal di dalam Islam, yang dapat ditransformasikan dalam memimpin Aceh ke depan, di antaranya: Pertama, ketaatan. Seorang pemimpin yang ideal haruslah benar-benar orang yang taat dan takut kepada Allah. Satu indikatornya adalah lulus mengaji yang menjadi prasyarat bagi setiap kandidat untuk bisa maju sebagai calon pemimpin daerah. Tapi mengaji saja belum cukup, karena orang yang taat adalah orang yang meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah dan mengerjakan segala yang diperintahkan oleh Allah. Dengan ketaatan dari seorang pemimpin, yakinlah bahwa korupsi dan berbagai ketimpangan lainnya dalam memimpin tidak akan ada lagi di Aceh;

Kedua, mempunyai ilmu. Seorang pemimpin ideal hendaknya memiliki Ilmu yang luas. Ilmu yang dimiliki oleh setiap pemimpin itu diantaranya adalah ilmu agama, ilmu pemerintahan, ilmu manajemen, ilmu social masyarakat dan berbagai ilmu lainnya yang mensupport tugasnya sebagai pemimpin. Dalam Islam sudah tegas Allah melarang memilih pemimpin yang jahil (bodoh), karena pemimpin itu adalah orang yang akan diikuti dan ditaati oleh rakyatnya. Dengan adanya ilmu, pemimpin tidak akan memberikan suatu pekerjaan kepada yang bukan ahlinya. Sehingga nepotisme di dalam pemerintahan tidak akan terjadi lagi;

Ketiga, kejujuran. Seorang pemimpin yang ideal adalah yang memiliki kejujuran tinggi. Dalam menjalankan kepemimpinannya berani berkata salah kalau itu salah walaupun kepada teman, kolega atau kelompoknya sendiri, dan berani berkata benar kalau itu benar walaupun kepada lawannya sendiri; Keempat, keiklasan. Seorang pemimpin yang ideal adalah yang memiliki keiklasan di dalam bekerja. Pemimpin tidak boleh mengharapkan imbalan apapun dari rakyatnya. Hanya kepada Allah lah mengharapkan pahala dan ridhanya. Dengan adanya keiklasan maka pemimpin akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan rakyat, bukan hanya memikirkan diri sendiri, keluarga dan golongannya saja;

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved