Banjir Rusak 75 Rumah di Tangse
Kecamatan Tangse, Pidie, kembali diterjang banjir luapan dari sungai di kawasan itu pada Sabtu (25/2) pukul 20.00 WIB
* Lintas Meulaboh-Geumpang Longsor
SIGLI - Kecamatan Tangse, Pidie, kembali diterjang banjir luapan dari sungai di kawasan itu pada Sabtu (25/2) pukul 20.00 WIB. Akibatnya, 75 rumah rusak, pipa air bersih sepanjang 100 meter juga rusak total, dan sekira 40 jiwa (6 KK) warga Gampong Ranto Panyang mengungsi ke Dayah Subulussalam di Dusun Pantee Druem, Ranto Panyang, Kecamatan Tangse.
Sementara itu, juga akibat hujan deras, terjadi longsor di lintas Meulaboh (Aceh Barat) Geumpang (Pidie), sehingga arus transportasi darat di lintasan tersebut lumpuh total sejak dua hari terakhir. Badan jalan yang longsor itu persisnya di kawasan Kubu Aneuk Manyak, Kecamatan Sungaimas, Aceh Barat, setelah diguyur hujan lebat sejak Sabtu (25/2).
Banjir luapan yang melanda dataran tinggi Tangse, Pidie, itu dilaporkan berlangsung singkat. Terjadi pukul 20.00 WIB Sabtu, tapi menjelang subuh pukul 04.00 WIB, Minggu (26/2), mulai surut.
Begitupun, sedikitnya 75 rumah rusak akibat banjir. Rinciannya: enam unit rusak berat di Gampong Ranto Panyang, 69 rumah rusak ringan, masing-masing di Ranto Panyang 22 unit, Blang Dhot 16, dan Pulo Seunong 31 unit.
Data ini dihimpun Serambi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie dan Camat Tangse, Minggu (26/2). “Data ini bersifat sementara. Kemungkinan bisa bertambah lagi atau berubah kategori rusaknya,” ujar Camat Tangse, Ir Jakfar.
Menurut Camat Tangse, ekses banjir luapan sungai itu dirasakan di lima desa, yakni Ranto Panyang, Blang Dhot, Blang Bungong, Pulo Seunong, dan Kebun Nilam.
Camat menyebutkan bahwa banjir luapan itu juga menyebabkan jaringan pipa air bersih di Gampong Pulo Seunong rusak total sepanjang 100 meter, sehingga masyarakat harus minum air sungai.
Keuchik Pulo Seunong, Nur Islah didampingi tokoh pemuda, Yusaini, kepada Serambi kemarin mengatakan, pipa air yang rusak itu sangat mendesak ditangani supaya warga tidak berlama-lama mengalami krisis air bersih.
Keuchik Nur Islah juga mengatakan, lumpur ikut menutupi tanaman padi di desa itu yang baru berumur 15 hari, seluas 25 hektare. Ia berharap, padi tersebut perlu diganti bibitnya oleh Dinas Pertanian Pidie.
Jalan menuju ke kebun dan jembatan juga rusak diterjang banjir. Keuchik Nur Islah berharap kerusakan itu segera ditangani oleh BPBD Pidie.
Masih menurut Keuchik Nur Islah, sarana publik yang rusak akibat banjir di Tangse kali ini berupa tiga unit jembatan, jalan Pulo Seunong Paya Guci rusak berat sepanjang 100 meter, tanggul Krueng Seunong 50 meter patah, dan badan jalan poros tengah Pulo Seunong juga rusak berat 500 meter.
Selain itu, saluran pertanian rusak berat sepanjang 110 meter dan pagar Masjid Al Ikhlas rubuh sepanjang 30 meter.
Sementara itu, Keuchik Ranto Panyang, Hamdani kepada Serambi, Minggu (26/2) menyebutkan, rumah yang rusak di desanya itu seluruhnya berkonstruksi kayu. Rusak saat banjir melanda pukul 20.00 WIB Sabtu (25/2).
“Air bah datang begitu cepat, sehingga rumah dinding kayu copot satu per satu. Warga berlarian ke luar rumah, mencari tempat yang lebih tinggi,” tutur Hamdani, Keuchik Ranto Panyang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/membersihkan-sisa-lumpur-banjir-di-gampong-ranto-panyang_20170227_105627.jpg)