Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Puasa 20 Jam di Finlandia

TAHUN ini umat Islam di Tampere, Finlandia, berpuasa lebih dari 20 jam atau hampir sehari-semalam

Tayang:
Editor: bakri
Sahlan Hanafiah 

OLEH SAHLAN HANAFIAH, Staf Pengajar Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Finlandia

TAHUN ini umat Islam di Tampere, Finlandia, berpuasa lebih dari 20 jam atau hampir sehari-semalam. Ini terjadi karena Ramadhan bertepatan dengan musim panas (summer). Meski disebut musim panas, tapi suhu udara di sana sebenarnya tetap dingin, sedingin Kota Blangkejeren, Gayo Lues, berkisar 20 derajat pada siang hari dan 10 derajat di malam hari. Suhu udara yang lumayan dingin di musim panas itu membuat aktivitas puasa umat Islam sedikit lebih ringan.

Ramadhan tahun ini yang jatuh pada musim panas, matahari baru tenggelam berkisar pukul 11 malam yang menjadi tanda berbuka puasa dan shalat Magrib. Itu pun matahari sebenarnya tidak benar-benar tenggelam karena masih menyisakan kilauan cahaya merah jingga di garis batas antara langit dan bumi sepanjang tengah malam.

Pukul 03.40 pagi matahari sudah terbit kembali dan semua wilayah Tampere disirami cahaya matahari terang. Sementara waktu fajar berdasarkan imsakiah Ramadhan yang dikeluarkan Pengurus Masjid Kota Tampere berkisar pukul 02.40. Artinya, umat Islam sudah harus berhenti makan sebelum pukul 02.40 atau pas ketika waktu imsak masuk pada pukul 02.30 pagi. Dengan durasi waktu yang sangat singkat seperti itu, praktis umat Islam di Finlandia tak punya waktu nongkrong di warung kopi selepas shalat Tarawih seperti kita di Aceh.

Pukul 00.00 atau lewat umat Islam menjalankan ibadah shalat Isya dan Tarawih. Biasanya berakhir pukul 01.30 pagi atau menghabiskan waktu sekitar 1 jam 30 menit. Setelah itu harus bergegas siapkan santapan sahur sebelum waktu imsak tiba pukul 02.30 pagi.

Umat Islam di Tampere menjalankan ibadah shalat lima waktu dan shalat Tarawih secara berjamaah di masjid. Hingga saat ini terdapat empat masjid di Kota Tampere dengan jumlah populasi umat Islam yang terdaftar secara resmi 1.200 orang. Namun, dari empat masjid tersebut hanya dua yang aktif dan buka 24 jam, sedangkan dua masjid lagi buka ketika waktu shalat lima waktu saja.

Masjid yang buka dan aktif 24 jam itu terletak di jantung Kota Tampere, tak jauh dari Kampus Universitas Tampere tempat saya mengikuti kuliah singkat. Awalnya, umat Islam menyewa satu ruangan yang dijadikan masjid, namun tahun 2016 ruangan itu berhasil dibeli dengan dana sumbangan umat Islam di Finlandia.

Meski ruangan yang dibeli lumayan besar, namun saat shalat Jumat jamaah tumpah ruah hingga ke lorong-lorong gedung. Sementara masjid satu lagi yang terletak di Hervata masih berstatus sewa. Hervanta terletak di pinggiran Kota Tampere, kurang lebih 15 km jaraknya dari pusat Kota Tampere. Daerah ini dikenal sebagai daerah imigran yang datang dari Afrika dan Timur Tengah sejak tahun 1990-an. Masjid Hervanta juga selalu dipenuhi jamaah saat shalat Jumat.

Saat bulan puasa seperti saat ini, Masjid Kota Tampere dan Masjid Hervanta juga menggelar iftar atau buka puasa bersama. Menu berbuka sangat bervariasi, karena sesuai dengan latar belakang penyumbang yang berasal dari berbagai negara seperti Somalia, Turki, Irak, dan Afganistan. Namun, jumlah umat Islam yang berbuka puasa di masjid tak terlalu ramai karena jadwal berbuka yang terlalu malam. Biasanya hanya mahasiswa yang tinggal di sekitar kampus, pencari suaka dan sebagian pekerja lepas yang buka puasa di masjid.

Mahasiswa dan sebagian pekerja lepas memanfaatkan waktu berbuka di masjid untuk berhemat. Maklum, Finlandia merupakan negara dengan biaya hidup paling tinggi di Eropa. Sebagai pembanding, kopi biasa satu gelas 2 euro atau setara 30.000 rupiah, sedangkan segelas kopi expresso dihargakan 4 euro, setara 60.000 rupiah. Biaya pangkas rambut paling murah 15 euro atau setara dengan 225.000 rupiah.

Jamaah shalat Tarawih di masjid juga tak begitu ramai karena selain waktunya terlalu larut malam, juga karena jadwalnya terlalu dekat dengan waktu sahur. Karena itu, umat Islam di sini melakukan beberapa penyesuaian dalam menjalankan ibadah selama Ramadhan yang jatuh pada musim panas seperti berbuka dan shalat Tarawih berjamaah di rumah masing-masing bersama keluarga.

Persoalan waktu berpuasa yang terlalu lama di beberapa negara Eropa seperti Finlandia, Norwegia, Islandia, dan Swedia selama musim panas memang menjadi masalah tersendiri bagi umat Islam. Apalagi rata-rata umat Islam yang menetap di negara ini merupakan imigran atau bukan penduduk asli, di mana sebelumnya mereka hanya berpuasa di bawah 15 jam di negara asal. Karena itu, banyak di antara imigran yang memaksakan diri berpuasa hingga 20 jam jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit karena dehidrasi.

Atas dasar kasus seperti itu, sebagian ulama Eropa membolehkan umat Islam di Eropa yang mataharinya tak pernah terbenam mengikuti waktu berpuasa di negara moderat terdekat seperti Arab Saudi (12-13 jam).

Namun, komunitas umat Islam di Tampere, Finlandia, tetap memilih berpuasa sesuai dengan perintah Allah yang tersurat dalam Albaqarah ayat 187 di mana umat Islam diwajibkan berpuasa mulai fajar dan berbuka ketika malam. Mereka percaya Allah telah menghitung dengan sangat cermat kemampuan hamba-Nya dalam menjalankan ibadah meski tinggal di wilayah dengan cuaca ekstrem seperti Finlandia. Mereka juga percaya bahwa selalu ada hikmah di balik perintah-Nya.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved