Cerpen

Hari-Hari yang Mencemaskan Yan

KABAR tentang maraknya penculikan anak akhir-akhir ini turut membuat kepala Yan puyeng

Hari-Hari yang Mencemaskan Yan

Yan sebenarnya mulai merasa tak enak hati pada Sam dan Bram. Yan juga merasakan seperti ada kedongkolan di hati dua orang itu. Meski Yan memiliki jabatan lebih tinggi dari mereka, tapi Yan adalahlelaki yang memiliki kepekaan di atas rata-rata. Yan perasa, perasaannya cepat sekali tersentuh.Tapi Yan tidak suka marah-marah dan membenci orang.

Dan hati Yan juga mulai tersentuh oleh kabar tentang penculikan anak itu. Yansering membayangkan seandainya Sri menjadi korban penculikan. Yan sangat takut jika penculikan terjadi pada Sri. Kabar penculikan anak itu benar-nenar meracuni perasaan Yan. Apalagi koran di kotanya sering kali mengkabarkan tentang anak-anak yang sempat lolos dari bujukan orang-orang yang takdikenal.Walikota pun sudah mengimbau agar para orang tua selalu mengawasi anak-anaknya. Yan semakin digerus rasa cemas terhadap keselamatan Sri.

Yan tiba-tiba terkenang pada masa lalunya, berpuluh-puluh tahun yang silam, di saat ia masih anak-anak, ibunya kerap menakutinya agar jangan sendirian berpergian jauh dari rumah. Kata ibunya ada orang rantai yang suka menculik kepala anak-anak untuk di jadikan tumbal pembangunan jembatan. Kepala itu akan di etakkan di bawah jembatan, kata ibunya dengan membesarkan bola mata. Dan Yan sangat ketakutan sekali setiap ibunya menyebut nama orang rantai itu.

Yan juga dapat mengingat bagaimana ketakutan menggurat di wajah para orang tua ditempat Sri sekolah. Yan seperti melihat sekumpulan wajahmayat-mayat yang bergerak. Mereka seperti dikepung kecemasan, seperti penculik anak itu sedang mengintai anak mereka dengan buas.

***

Tiga hari kemudian Yan menelepon kakaknya di kampung. Yanmengabarkan tentang maraknya kabar penculikan anak kecil di kota tempat tinggalnya.Yan mengungkapkan kecemasanya dan tentang pekerjaannya yang kini sedang terganggu karena kerepotan mengantarkan Sri ke sekolah.Kakak perempuannya itu hanya terpaku mendengar cerita Yan. Tapi diakhir pembicaraan, kakaknya menawarkan agar anaknya yang bernamaDika, yang berusia dua puluh empat tahun, yang kebetulan baru selesai dari pondok pesantren agar tinggal sementara bersama Yan. Tanpa pikir panjang Yan menyetujui saran kakaknya itu.

Dua hari kemudian anak kakaknya itu sudah sampai di rumah. Yan dan istrinya menyambut kedatangannya dengan senang.

“Kamu tak usah malu-malu di sini Dika, anggap seperti di rumah sendiri,” ujar istrinya.

“Kamarmu sudah disiapkan, di sebelah sana. Kalau mau istirahat kamu boleh tidur dulu,” sambung Yan pula.

Anaklaki-laki itu hanya menganguk-angguk saja.

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved