Opini
Ahlan wa Sahlan Dhuyufurrahman
SETELAH 40 hari menjadi Tamu Allah (Dhuyufurrahman), para jamaah haji Aceh pun mulai pulang
(Setelah 40 Hari Jadi Tamu Allah)
Oleh Muhammad Yakub Yahya
SETELAH 40 hari menjadi Tamu Allah (Dhuyufurrahman), para jamaah haji Aceh pun mulai pulang dan tiba kembali di Tanah Air. Setelah 30 hari di Mekkah dan 10 di Madinah, jamaah yang berpisah dengan suami/istri, ahli famili, karib, jiran tetangga, mitra, rekan dan rival, rindu dan kangen moga pulih kembali. Kita yang kali ini tak ke sana, sebelum terima oleh-oleh dan zam zam, moga masih ingat satu pesan tim medis dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Jika mau peluk cium jamaah, hati-hati dan waspada. Baik kita gunakan masker dan sarung tangan juga.
Jamaah yang lelah pun, jangan mau cepat-cepat disalami dan tuah pipi kanan dan kiri, sebelum diperiksa kondisi kesehatan oleh tim medis di debarkasi. Dalam pos medis Asrama Haji. Bahwa gejala MERS (Middle East Respiratory Syndrome) masih ada di Arab Saudi. Virus coroana MERS, penyerang organ pernafasan. Virus luar negeri masih ada di sana, coroana dan lainnya. Bisa saja tas, koper, dan badan jamaah ada yang terpapar kuman. Juga mungkin ada jamaah masih diikuti setan dari lembah Mina, saat lempar jumrah, saat lebaran lalu.
Menurut perhitungan Prof Dr H Hasballah Thaib MA, Ketua Pembina Yayasan Misbahul Ulum Muara Satu Paloh Lhokseumawe, dalam khutbah ‘id tahun lalu di Blang Padang, bahwa ibadah haji dan umrah, masuk ritual paling banyak membutuhkan biaya. Tahun ini saja, sebut satu Pengurus Fatih School Aceh ini, jika jamaah haji dan umrah Aceh 2017 dihitung kasar, ada lebih dari enam ribu orang. Per orang mengeluarkan biaya sekitar Rp 35 juta, maka yang harus dikeluarkan dari Aceh ke Arab Saudi, lebih dari Rp 200 miliar.
Angka itu belum lagi ditambah dengan biaya qurban, dan pembelian oleh-oleh per jamaah. Juga konsumsi jamaah kita di pasar Arab, dari wakaf Baitul Asyi itu. Ajak putra Aceh yang juga sahabat Dr ‘Aidh Al-Qarni dan Prof Dr Naguib Al-Attas itu lagi, jika jamaah terfokus dalam melempar jamarah, agar batu bisa masuk ke lobang yang disediakan, maka fokus pula melempar setan (syaithan) dalam dada ini. Jangan akhirnya jamaah kita pulang ke Aceh dengan menyertakan pulang bersama setan Mina.
Di airport, setan itu keluar dan bergabung dengan setan lainnya, serta menyebar ke seluruh Aceh. Betapa sulitnya membangun Aceh jika digoda terus oleh setan yang dibawa serta jamaah dari Arab itu tiap tahun. Sambung Guru Besar UIN Sumut dan dosen di Medan dan kampus lainnya itu, bertamsil, bahwa dirinya sering katakan pada jamaah haji Aceh yang mau berangkat supaya banyak-banyak membawa setan Aceh ke Mina, supaya dilempar oleh Tamu-tamu Allah di sana. Lempar jumrah atau lontar jumrah adalah sebuah kegiatan yang merupakan bagian dari ibadah haji tahunan ke Kota Suci Mekkah. Para jamaah haji, juga dari Aceh, melemparkan batu-batu kecil ke tiga tiang (jumrah, jamarat) yang berada dalam satu tempat bernama kompleks Jembatan Jumrah, di Kota Mina yang terletak dekat Mekkah.
Para jamaah mengumpulkan batu-batuan tersebut dari tanah di hamparan Muzdalifah dan meleparkannya. Syiar ini, adalah kegiatan kesembilan dalam rangkaian kegiatan-kegiatan ritual yang harus dilakukan pada saat melaksanakan ibadah haji, dan umumnya menarik jumlah peserta yang sangat besar.Sebagian orang beranggapan bahwa melempar jumrah sama dengan melempar setan yang sedang diikat di tugu jamrah. Saking yakinnya dengan keyakinan ini, sampai-sampai mencari batu yang besar untuk melontar jumrah. Bahkan sampai ada yang melempar dengan sendal, sepatu, botol dan yang lainnya.
‘Ahlan wa sahlan’
Tahapan dan rukun haji usai sudah. Ibadah di Baitullah dan arba’in (shalat jamaah 40 waktu) di Masjid Nabi sudah cukup. “Ahlan wa sahlan, selamat datang Tamu Allah, semoga menjadi haji yang mabrur,” di antara isi baliho di depan debarkasi, UPT Asrama Haji Aceh, atau lokasi lainnya, yang diapit dua gambar Menag RI, H Lukman Hakim Saifuddin dan Gubernur Aceh H Irwandi Yusuf. Jamaah kembali, lengkap sudah rasanya hidup di dunia ini, meski tanpa titel akademik dan darah biru, jika nama kita diawali dengan H atau Hj. Sekali atau berkali-kali naik haji, sama saja tulisan kita tetap satu H. Misalnya H Abdullah bin Adam dan Hj Shafa bin Hawa. Selama 10 hari kepulangan, orang kampung dan kota, akan kembali bersukacita, menambah jadwal pertamuannya, menyambut anggota warga turun haji, dalam 12 kloter, baik malam maupun siang.
Sampai kedatangan kloter perdana, Selasa (5 Muharram) lalu, ada empat kloter lagi jamaah asal Aceh yang masih di Makkah, menuju Madinah. Lantas 10 hari di Madinah, jamaah Aceh dalam 12 kloter semua ucapkan selamat tinggal Tanah Suci, kami kembali ke tanah air. Selamat tinggal juga bagi saudaranya yang musim haji 1438/1439 Hijriah ini, meninggal di negara Nabi, dan dimakamkan di Bani Malik Jeddah, Syaraya (Soraya) dan Syara’i Mekkah, serta Baqi’ Madinah.
Berbeda dengan di Aceh, yang kuburan kita sepi dan terkesan angker, makam di Arab Saudi bisa saja. Komplek dan kuburan tidak diberi nisan. Hanya ditandai dengan bongkahan batu. Makam raja juga sama. Setiap liang lahat yang sudah berusia tiga tahun akan ditambah lagi dengan jenazah baru. Sebab di sana keterbatasan lahan untuk pemakaman. Komplek pemakaman Syaraya misalnya, berada di pinggiran Kota Mekkah. Sekitar 4 km ke arah Masjid Ja’ronah atau sekitar 20 km utara Mekkah.
Tamu Allah ada yang berpulang ke Rahmatullah. Seluruh Indonesia saja, angkanya sudah lebih 500 jamaah. Hampir mencapai dua pesawat. Salah satu penyebab kian ramainya jamaah, Tamu Allah, yang meninggal, selain cuaca dan kondisi badan, adalah usia jamaah yang risiko tinggi (risti). Penyakit orang Aceh macam ragam, di antaranya jantung. Saat pembimbingan, selalu dibilang dokter, di Tanah Nabi itu, kesempatan kita berhenti menjadi ahli hisap. Mestinya memang selama di sana, bisa belajar untuk stop merokok. Sekembali dari Tanah Suci, mengikuti sunnah Rasul yang tidak merokok, diwariskan oleh ulama besar yang bukan perokok, mestinya haji dan hajjah, bisa membuang rokok. Rupanya merokok dan perokok tidak kenal haji. Di sini, ia juga penyebab kemiskinan dan inflasi.
Akhir dua bulan lalu, diinformasikan, satu sasaran kemarahan pada pemerintah kita, yang mayoritas Islam, dan kaum muslimin terbanyak di dunia ialah mengapa tidak melarang warga dan jemaah agar tidak doyan merokok. Menkes ungkapkan data, jamaah kita yang perokoknya tinggi. Menkes mendampingi jamaah yang senam jantung sehat, dan 8 di antara 10 orang laki-laki adalah merokok. Jamaah yang naik haji sebanyak 60% risti. Apa arti senam jantung sehat, baik di sini maupun di sana, baik bagi haji atau bukan, jika makanan tidak sehat, telat bangun, dan masih merokok. Perokok seringkali, sebagiannya, bangun pagi bukan wudhuk, dan nikmati udara pagi, tapi mengepulkan asap. Apalagi bangun kesiangan, baik telah kawin maupun belum kawin. Bangun tengah malam pun, bukan tahajud terus, tapi ambil korek. Sungguh sangat jahat efek rokok, dari bibir hitam perokok, udara Allah beri bersih, apalagi pagi, dia cemarkan.
Dosanya pada orang sekitar, anak cucu, karena asap rokok, kapan sempat perokok itu mohon maaf pada yang dizaliminya. Apalagi merokok di area no smoking. Meskipun dihisap perbatang (sibak-bak), penghambat bagi kemakmuran kita. Rumah tangga tak siap-siap, jika asap di mulut terus dihembuskan. Ada perokok, yang harapan umat, yang mungkin sedang hilang jati diri, jadi teladan, tapi sesekali dilihat warga dan muridnya, di media dan langsung, beliau makan minum, sambil berdiri, sambil bicara tertawa terbahak sama rekan rapatnya, dan ia perokok.
Sebagian pengemudi mobil halus dan mewah pun, kadang menjatuhkannya sepanjang jalan, bukannya diplastikkan dan dibuang ke bak sampah dekat rumah, atau di perisimpangan jalan. Pengemudi dan pengguna mobil itu pun, perokok yang merusak interior mobil. Sesampaikan di kantor dan rumah juga sama, pembawa bau busuk, hingga ke lemari pakaian anak istri. Sebagian yang begituan, kita yang sudah haji. Jantung, rokok, usia yang sangat sepuh, tanpa pola makan yang baik, dan kurang olah raga, hanya penyebab kita di Aceh hari ini meninggal dunia pelan-pelan. Atau wafat di sana, musim haji.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/jamaah-haji-aceh-korban-crane-masjidil-haram_20170914_103949.jpg)