Sejarah G30S/PKI - Dua Versi Kematian DN Aidit, Pentolan PKI yang Pernah Ganti Nama
Karena dia sebagai Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) kala ini dianggap dalang dari penculikan dan pembunuh para jenderal.
Menjelang dewasa, Achmad Aidit mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit.
Baca: Sejarah G30S/PKI – Nanti Malam, Ada Nonton Bareng Film Pengkhianatan PKI di Kantor KNPI Aceh
Ia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang menyetujuinya begitu saja.
Dari Belitung, Aidit berangkat ke Jakarta, dan pada 1940, ia mendirikan perpustakaan "Antara" di daerah Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat.
Kemudian ia masuk ke Sekolah Dagang ("Handelsschool").
Ia belajar teori politik Marxis melalui Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda (yang belakangan berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia).
Dalam aktivitas politiknya itu pula ia mulai berkenalan dengan orang-orang yang kelak memainkan peranan penting dalam politik Indonesia, seperti Adam Malik, Chaerul Saleh, Bung Karno, Bung Hatta, dan Mohammad Yamin.
Baca: Sejarah G30S/PKI - Kisah Sukitman, Polisi yang Lolos dari Lubang Buaya
Menurut sejumlah temannya, Hatta mulanya menaruh banyak harapan dan kepercayaan kepadanya, dan Achmad menjadi anak didik kesayangan Hatta.
Namun belakangan mereka berseberangan jalan dari segi ideologi politiknya.
Meskipun ia seorang Marxis dan anggota Komunis Internasional (Komintern).
Aidit menunjukkan dukungan terhadap paham Marhaenisme Sukarno.
Ia membiarkan partainya berkembang tanpa menunjukkan keinginan untuk merebut kekuasaan.
Sebagai balasan atas dukungannya terhadap Sukarno, ia berhasil menjadi Sekjen PKI, dan belakangan Ketua.
Baca: Fraksi PKS Gelar Nonton Bareng Film G30S/PKI dan Galang Dana untuk Rohingya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dn-aidit_20170930_133602.jpg)