Sabtu, 9 Mei 2026

Opini

Mengenal Ideologi Komunis

BUKAN tidak mungkin paham komunis atau lazim disebut komunisme itu masih ada dan bergentayangan

Tayang:
Editor: bakri
WAKIL Bupati Aceh Besar, Tgk H Husaini A Wahab berbincang dengan Danrindam IM, Kolonel Inf Niko Fahrizal sebelum acara nonton bareng film Partai Komunis Indonesia (PKI) bersama warga di halaman Dodik Bela Negara, Mata Ie, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Minggu (24/9) malam. 

Oleh Sahlan Hanafiah

BUKAN tidak mungkin paham komunis atau lazim disebut komunisme itu masih ada dan bergentayangan di mana-mana, termasuk di Indonesia, bahkan jangan-jangan di Aceh. Ini terjadi karena sebuah paham atau ideologi pada hakikatnya merupakan kombinasi dari pemikiran, pengalaman, dan kenyakinan manusia.

Sepanjang manusia masih mampu berpikir, maka sejauh itu pula paham komunis masih tetap ada dan tidak akan pernah mati.

Sebenarnya bukan hanya paham komunis, paham-paham yang lain juga terus ada dan berkembang sejauh manusia masih bisa berpikir, mengalami dan berkenyakinan. Sebab, unsur dasar sebuah paham atau ideologi adalah pemikiran, pengalaman dan kenyakinan manusia.

Jika ditelusuri lebih jauh lagi, maka sebenarnya pemikiran, pengalaman dan kenyakinan yang kemudian melahirkan sebuah ideologi dibentuk oleh dan dari kehidupan manusia sehari-hari, yaitu melalui proses hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan.

Interaksi manusia dengan Tuhan melahirkan agama yang dipeluk oleh sebagian besar umat manusia hari ini. Bahkan dalam setiap agama oleh pemeluknya melahirkan lagi paham-paham kecil akibat perbedaan pemikiran, pemahaman dan pengalaman yang berujung pada lahirnya kenyakinan baru. Namun sebagian pihak tidak setuju jika agama diposisikan sebagai ideologi, karena agama dipandang bukan produk manusia.

Sementara interaksi manusia dengan alam melahirkan faham ekologisme dan segala macam turunannya yang sangat banyak. Mereka menyakini bahwa alam lebih penting, lebih berharga dari yang lain, sehingga muncul pejuang-pejuang lingkungan hidup yang rela mati demi mempertahankan habitat alam agar tetap terjaga dan lestari.

Interaksi manusia dengan manusia yang lain juga tidak kalah banyak melahirkan beragam paham dalam kehidupan ini, mulai dari paham kapitalisme, komunisme, sosialisme, nasionalisme, modernisme, post-modernisme, dan ratusan bahkan ribuan paham-paham yang lain.

Paham-paham tersebut sebenarnya merupakan bentuk tawaran jalan keluar dari setiap persoalan yang dihadapi oleh umat manusia.

Apa itu komunisme?
Komunisme misalnya, adalah salah satu paham yang ditawarkan oleh Karl Marx (1818-1883) dan Friedrich Engels (1820-1895) sebagai jalan keluar terhadap persoalan ekonomi politik masyarakat Eropa pada pertengahan abad ke-19.

Komunis lahir dari sebuah kenyataan sosial ekonomi yang tidak adil dalam masyarakat Eropa, di mana buruh yang jumlahnya lebih banyak, dengan beban kerja lebih berat mendapat upah lebih rendah dari pemilik modal yang jumlahnya lebih sedikit dengan beban kerja yang sedikit pula, tapi mendapat gaji lebih besar.

Menurut Karl Marx dan Friedrich Engels selaku pencetus awal paham komunisme, sistem ekonomi seperti itu dinilai zalim, tidak adil dan merugikan kelompok buruh. Karena itu mereka berdua menawarkan sistem komunal di mana tidak ada lagi pembagian kelas sosial dalam bentuk pemilik modal dan buruh.

Namun perdebatan muncul kemudian, siapa yang akan membagi rata penghasilan komunal, jika tidak ada pihak yang menguasai (pemilik modal) dan dikuasai (buruh). Karl Marx dan Engels menawarkan negara yang dikelola oleh orang-orang bijak. Karena itu, negara harus memiliki kekuasaan mutlak tanpa batas.

Karl Marx percaya bahwa sistem ekonomi komunal lebih adil dibanding sistem ekonomi kapitalis atau sistem-sistem lainnya. Karl Marx juga percaya bahwa negara yang diurus secara mutlak oleh orang bijak mampu bersikap adil terhadap rakyatnya.

Basis kepercayaan ini seperti telah disebutkan di atas dibangun berdasarkan pengalaman hidup, penderitaan, dan pemikiran utopia (ideal) manusia, terutama ketika menjadi korban ketidakadilan ekonomi. Karena itu tidak ada yang sempurna, selalu ada kelemahannya.

Kelemahan Komunis
Kelemahan komunis paling nyata dapat dilihat pada sistem politik absolut, di mana negara dominan dalam segala bidang. Dengan sistem politik seperti itu, pemimpin yang tadinya diisi oleh orang-orang bijak cenderung menjadi diktator dan tidak bisa dikontrol. Kelemahan ini bisa dilihat di Korea Utara dan beberapa negara komunis lainnya.

Karenanya militer menjadi bagian yang paling penting dalam sistem ekonomi politik komunis dalam menjaga kestabilan negara. Tanpa dukungan militer dan kekuatan bersenjata, mustahil negara komunis bisa berdiri tegak. Oleh karena itu, agak aneh ketika di sebuah negara militernya sangat anti dengan komunis, karena sikap itu bertolak belakang dengan karakteristik dasar militer yang cenderung otoritarian.

Selain itu, setiap ideologi juga memiliki keterbatasan karena terikat dengan ruang dan waktu. Artinya, sebuah ideologi sangat tergantung dengan kondisi dan situasi di mana ia lahir. Komunisme misalnya, barangkali hanya cocok dalam konteks masyarakat Eropa abad ke-19, namun tidak lagi cocok di abad ke-20.

Begitu pula dengan sistem yang lain, seperti demokrasi yang hari ini diagungkan sebagai sistem politik terbaik di dunia, barangkali tidak lagi dianggap terbaik di abad ke-25 nanti, karena kompleksitas persoalannya sudah berbeda.

Etnonasionalisme contoh lain yang sangat dekat dengan Aceh. Ideologi ini biasanya mudah berkembang disaat etnis dalam sebuah negara didiskriminasikan oleh etnis dominan lainnya. Namun ideologi ini tidak lagi relevan ketika negara memberi hak yang sama kepada semua etnis.

Di Aceh misalnya, etnonasionalisme sempat mekar dan menjadi primadona, terutama pada saat rakyat Aceh menderita akibat kekerasan dan perlakuan diskrimintif rezim Orde Baru dalam menumpas Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pada saat itu dapat dikatakan hampir semua rakyat Aceh membayangkan sebuah negara tersendiri, yang berbasis etnis Aceh, terpisah dari Indonesia.

Namun setelah perjanjian damai disepakati, kemudian semua “mantan pejuang” terintegrasi dalam sistem politik Indonesia serta menduduki jabatan penting seperti gubernur, bupati, wali kota dan anggota legislatif, etnonasionalisme atau nasionalisme keacehan pelan-pelan redup dan menjadi layu. Sekarang tidak ada lagi yang bicara tentang nasionalisme keacehan itu dalam konteks ideologi, karena dianggap sudah tidak lagi relevan.

Begitulah narasi sebuah ideologi dalam kehidupan manusia. Ia muncul, berkembang dan redup kembali. Dimulai dari krisis, penderitaan, mimpi indah dan diakhiri dengan kerakusan. Siklus itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia.

Karena itu, tidak ada yang perlu ditakuti sepanjang kita mengenal ideologi-ideologi itu dengan cara mempelajarinya secara kritis dan mendalam. Sikap menjaga jarak justru membuat kita mudah dihantui, bahkan dibodohi seperti yang kita alami setiap tahun menjelang peringatan G30S/PKI. Nah!

* Sahlan Hanafiah, staf pengajar Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar Raniry Darussalam, Banda Aceh. Email: sahlan.hanafiah@gmail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved