Jumat, 17 April 2026

Sejarah G30S/PKI - Sarwo Edhie, Komandan RPKAD Penumpas Komunis

Sarwo Edhie Wibowo adalah ayah dari Kristiani Herrawati, ibu negara Republik Indonesia dan istri mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Penulis: Zainal Arifin M Nur | Editor: Zaenal
Google.com
Sarwo Edhie Wibowo 

Selain Soekarno, para jenderal korban penculikan, para tokoh PKI seperti Aidit dan Untung, ada satu sosok yang juga cukup menarik perhatian penikmat film tersebut.

Ia adalah Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang diberikan tugas oleh Pangkostrad Mayjen Soeharto, untuk merebut kembali stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) dari tangan pemberontak PKI.

Sarwo Edhie pula yang memimpin pasukan RPKAD untuk menumpas komunis di Tanah Air.

Siapa Sarwo Edhie? Dikutip dari Wikipedia.org, Sarwo Edhie Wibowo (terakhir menyandang pangkat Letnan Jenderal TNI) lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 25 Juli 1925 – meninggal di Jakarta, 9 November 1989 pada umur 64 tahun) adalah seorang tokoh militer Indonesia.

Ia adalah ayah dari Kristiani Herrawati, ibu negara Republik Indonesia dan istri mantan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

Ia juga ayah dari mantan KSAD, Pramono Edhie Wibowo.

Sarwo Edhie memiliki peran yang sangat besar dalam penumpasan Pemberontakan Gerakan 30 September dalam posisinya sebagai panglima RPKAD (atau disebut Kopassus pada saat ini).

Selain itu ia pernah menjabat juga sebagai Ketua BP-7 Pusat, Duta besar Indonesia untuk Korea Selatan serta menjadi Gubernur AKABRI.

Dorongan Ahmad Yani

Sarwo Edhie lahir di Purworejo, Jawa Tengah dari keluarga PNS yang bekerja untuk Pemerintah Kolonial Belanda.

Sebagai seorang anak, ia belajar silat sebagai bentuk pertahanan diri.

Saat ia tumbuh, Sarwo Edhie membentuk kekaguman terhadap Tentara Jepang dan kemenangan mereka melawan Pasukan Sekutu yang ditempatkan di Pasifik dan Asia.

Pada tahun 1942, ketika Jepang menguasai Indonesia, Sarwo Edhie pergi ke Surabaya untuk mendaftarkan diri sebagai prajurit Pembela Tanah Air (PETA), yang merupakan kekuatan tambahan Jepang yang terdiri dari tentara Indonesia.

Sarwo Edhie kecewa karena tugas-tugasnya selama periode ini sebagian besar hanya memotong rumput, membersihkan toilet, dan membuat tempat tidur bagi perwira Jepang.

Ketika dia berlatih, Sarwo Edhie harus menggunakan senjata kayu.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved