Opini
Malahayati Jaman Now
PENGANUGERAHAN gelar Pahlawan Nasional kepada Laksamana Malahayati oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi)
Oleh Hayatullah Pasee
PENGANUGERAHAN gelar Pahlawan Nasional kepada Laksamana Malahayati oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta, pada 9 November 2017, tentunya merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Aceh, yang memang sudah lama mengidamkannya.
Selain almarhumah Laksamana Malahayati dari Provinsi Aceh, ada tiga tokoh lain yang juga menerima gelar serupa, yaitu almarhum Sultan Mahmud Riayat Syah dari Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), almarhum TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dan almarhum Lafran Pane dari DI Yogyakarta (Detik.com, 9/11/2017).
Dari catatan sejarah yang ada, dokumen dan cerita ahli waris keluarga, Keumalahayati atau lebih dikenal dengan Laksamana Malahayati sangat layak dijadikan satu Pahlawan Nasional. Kiprahnya sangat terkenal saat memimpin armada perang yang didominasi para inong balee (janda) dalam melawan kolonial.
Bagi generasi muda Indonesia, khususnya Aceh wajib mengenal siapa sebenarnya sosok perempuan yang semangatnya bak batu karang itu. Adalah Laksmana Malahayati, wanita pertama di dunia menjadi Panglima Angkatan Perang kerajaan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Al Mukammil (1589-1604).
Dari beberapa catatan sejarah, Malahayati berasal dari keturunan Sultan Mahmud Syah, yang juga seorang laksamana Aceh. Kakeknya dari garis ayahnya, juga seorang laksamana bernama Muhammad Said Syah, putra Sultan Salahuddin Syah yang memerintah pada 1530-1539. Sultan Salahhuddin sendiri putra Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530) pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.
Darah pejuang
Dari silsilah keturunannya, Malahayati mengalir darah militer dari kakeknya, sehingga darah pejuang mengalir dalam setiap hela napasnya. Tak mengherankan bila kemudian Malahayati akrab dengan dunia angkatan laut. Sebelum memimpin peperangan, ia sempat mengenyam pendidikan akademi militer dan memperdalam ilmu kelautan di Baital Makdis atau Pusat Pendidikan Tentara Aceh.
Kemudian, Malahayati bertemu dengan seorang perwira muda dan menjadi pendamping hidupnya. Perang melawan Portugal di Teluk Haru, armada Aceh sukses menghancurkan para prajurit bangsa Portugis. Namun banyak juga yang syahid termasuk suaminya Malahayati.
Lalu Malahayati membentuk armada yang terdiri dari para janda yang suaminya gugur dalam pertempuran melawan Portugis. Armada pasukannya diberi nama Inong Balee (Armada Perempuan Janda).
Pangkalannya berada di Teluk Lamreh, Krueng Raya, Aceh. Ada 100 kapal perang dengan kapasitas 400-500 orang. Tiap kapal perang dilengkapi dengan meriam. Bahkan, kapal paling besar dilengkapi lima meriam.
Kehebatan Malahayati masih dikenang hingga sekarang, bahkan Panglima TNI Gatot Nurmantyo pernah berwacana ingin memfilmkannya, sehingga sejarah Panglima Perang Wanita tertanam dalam generasi Indonesia. Selain itu Iwan Fals, seorang penyanyi papan atas juga secara khusus menciptakan sebuah lagu berjudul “Mahalayati”.
Nah, bagi Aceh sejatinya ini menjadi spirit baru untuk menanamkan ke dalam jiwa-jiwa generasi muda khususnya wanita seperti semangat yang dimiliki Malahayati. Selain semangat perang yang ditanamkan, juga perang dalam melawan berbagai bentuk kezaliman di sekelilingnya.
Perempuan Aceh punya martabat yang tinggi di mata dunia. Belum ada di belahan dunia manapun sehebat perempuan Aceh yang begitu tangguh. Aceh pada hakikat komplit, mulai dari panglima perang hingga ada yang menjadi sultanah.
Namun, realita hari ini setelah wafatnya perempuan-perempuan hebat itu, sulit ada yang menggantikannya. Generasi perempuan sekarang tidak sedikit menghabiskan waktunya di warung kopi hingga larut malam. Juga banyak dari mereka menghabiskan waktunya bersama pacar berboncengan di atas sepeda motor ke pantai.
Sepatutnya kita berbangga punya mantan Walikota Banda Aceh perempuan, Illiza Sa’aduddin Djamal, yang kepemimpinannya tak kalah dibandingkan pemimpin laki-laki. Namun sayangnya, ia dibenturkan dengan hasutan kepentingan politik dengan isu yang dikembangkan tidak boleh perempuan menjadi pemimpin.
Padahal perdebatan soal pemimpin perempuan di Aceh sudah selesai beberapa abad silam. Ketika masa Sultanah Safiatuddin memimpin Aceh, di masa itu juga ada seorang ulama yang tak diragukan lagi keilmuannya di bidang agama baik di tingkat nasional maupun internasional yaitu Abdul Rauf As-Singkily atau dikenal sebagai Syiah Kuala yang kini namanya ditabalkan pada sebuah universitas jantong hate rakyat Aceh.
Dalam satu mukadimahnya menjelaskan, Abdur-Rauf As-Singkily menjunjung tinggi titah sultanah untuk mengarang kitab-kitab fiqh dan sebagainya. Ia juga tak lupa mengutip ayat-ayat Quran yang menjelaskan tentang menaati Allah, Rasul dan ulil amri (pemimpin). Walaupun wanita yang menjadi ulil amri, maka tetap wajib ditaati dan Abdul Rauf As-Singkily sendiri menaatinya.
Memang masalahnya tidak sederhana. Seorang raja dalam pengertian sekarang adalah seorang eksekutif, namun ia bukan penguasa mutlak, karena di di atasnya ada badan legistatif yang sudah dibentuk masa Sultan Iskandar Muda. Badan ini terus berfungsi hingga masa Tajul Alam. (Aceh Sepanjang Abad, Muhammad Said, jilid 1).
Harus didukung
Nah, selayaknya perempuan-perempuan yang mau bangkit untuk lebih maju harus didukung, bukan dipatahkan semangat mereka dengan kepentingan-kepentingan politik. Penulis melihat ada beberapa perempuan yang mencoba berpikir lebih maju dan berbuat mulia.
Seperti Ratna Eliza dengan komunitasnya yang concern membantu bocah-bocah penderita penyakit tumor dan kanker. Pemerintah perlu memberi penghargaan kepada mereka yang telah mengulurkan tangan menolong anak-anak bangsa.
Terakhir, penulis ingin menyampaikan, bahwa Aceh masih memiliki kesempatan untuk melahirkan Malahayati-Malahayati jaman now yang modern. Malahayati yang berjiwa tegar dalam menuntut ilmu, Malahayati yang berjuang demi agama dan bangsa, Malahayati yang mengajak kepada amar makruf nahi munkar, serta Malahayati yang tahu diri dan tahu siapa moyang mereka yang gagah perkasa seperti Cut Nyak Dhien (1848-1908), Cut Meutia (1870-1910) dan “singa-singa” medan perang lainnya.
Itu semua kembali kepada kita, khususnya orang tua dalam mendidik kids jaman now istilah bahasa anak gaul sekarang. Belajarlah pada ayahnya Salahuddin Al-Ayyubi dalam mendidik Salahuddin hingga menjadi sang penakluk konstantinopel. Semasa kecil Saluhuddin sempat jatuh terjerembab ke tanah, ia pun menangis dengan sekeras-kerasnya. Lalu, ayahnya berkata, “Wahai pejuang, mengapa kamu menangis? Ayo bangun, bangkit, kamu seorang pejuang, bangun nak!”.
Hayatullah Pasee, peminat isu sosial politik, anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), mahasiswa magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: hayatullahjurnalis@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/penganugerahan-gelar-pahlawan-nasional-laksamana-malahayati_20171109_220454.jpg)