Malahayati Nyalakan Nasionalisme
Pasukan inong bale dalam balutan pakaian adat diarak di atas kapal perang berbendera Merah Putih, membelah barisan pria
“Saya tidak lagi di Aceh. Sejak 2008 saya ikut anak bungsu saya ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kami memang tak punya apa-apa lagi di Aceh,” kata Sultanah Putroe.
Ia tidak bersedia bercerita lebih banyak soal aset Kesultanan Aceh itu. Demi mendengar pernyataan tersebut, Gubernur Irwandi Yusuf sempat tercenung sejenak, sebelum kemudian menjawab dengan nada kelakar.
“Yang tersisa ya Lapangan Blangpadang. Atau di sana saja didirikan rumah kediaman bagi ahli waris,” Gubernur Irwandi Yusuf melanjutkan.
Tentu saja tak ada yang menjawab. Lapangan Blangpadang sendiri kini di bawah penguasaan Kodam Iskandar Muda. Pocut Meurah Neneng, putri bungsu Bunda Putroe mengusulkan agar Pemerintah Aceh menyediakan bagian dari Kompleks Makam Raja-raja Aceh Baperis sebagai rumah bagi sultanah dan keluarga. Tapi Irwandi menolaknya dan mengatakan tidak layak. Sejurus kemudian, Gubernur Irwandi sekonyong-konyong memperoleh ide, mempersilakan Bunda Putroe menggunakan salah satu ruangan di Meuligoe Gubernur Aceh sebagai tempat bagi keluarga Sultanah.
“Ya itu lebih mudah pengurusannya, karena berada di bawah kendali Gubernur Aceh. Oke, kalau nanti ke Banda Aceh pakai saja ruangan di Meuligoe,” kata Irwandi yang selama memimpin Aceh tak tinggal di meuligoe itu, melainkan di rumah pribadinya di Jalan Salam, Lampriek, Banda Aceh.
Sultanah Putroe lahir di Beureuneuen. Namanya diberikan langsung oleh sang kakek, Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah. Ia ditetapkan sebagai Sultanah pada usia 42 hari, tatkala ia masih bayi. Ia mengharapkan tanah Aceh bisa memperoleh kemuliaan dan
kejayaannya kembali di masa yang akan datang. Ia ingin menjenguk Linge, karena katanya pendiri Kerajaan Aceh Darussalam adalah Sultan Johansyah berasal dari Linge, Gayo.
“Kelak apabila ada langkah, saya ingin ke Linge,” tutur Sultanah Putroe. Safiatuddin.
Tak banyak yang tahu memang, Kesultanan Aceh yang masyhur dan dipuji dari generasi ke generasi, ternyata tak punya aset lagi. Miris. Semoga masih tersisa kesempatan mengumpulkan keping-keping sejarah yang terserak. (nurul hayati/ fikar w eda)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/laksamana-malahayati_20171109_171140.jpg)