Selasa, 12 Mei 2026

Para Dokter Hebat Kebanggaan Indonesia Pada Masa Penjajahan Belanda

Jurnal ini awalnya hanya menerbitkan artikel-artikel dari dokter asal Eropa. Namun pada abad ke-20, sejumlah dokter lulusan dari STOVIA

Tayang:
Editor: Fatimah
Wikipedia

Pada 1950, ia ditetapkan sebagai profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Pada tahun yang sama, ia menjadi salah satu anggota komite yang mengatur Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan menjadi ketua komite pada 1952-1953.

Sutomo Tjokronegoro

Sutomo Tjokronegoro adalah profesor patologi pertama di FKUI pada 1950. Ia dikenal sebagai Bapak Patologi di Indonesia. Di FKUI, ia meneliti penyakit kanker.

Sutomo menerima gelar kedokteran di Batavia Medical School pada 1935. Ia mengajar di sana dan spesialis di bidang patologi, kedokteran forensik, dan penyakit dalam.

Sutomo menerbitkan artikel di jurnal tersebut tentang kedokteran forensik, kanker, borok, dan tuberkulosis. Pada 1942, ia menjadi editor jurnal tersebut.

Sutomo juga menulis sebuah buku berpengaruh tentang sifat dasar dan karakteristik bahasa Indonesia.

Raden Djenal Asikin Widjaja Koesoema

Asikin lulus dari STOVIA pada 1914 dan meraih gelar kedokteran di Universitas Amsterdam pada 1925. Dia terlibat dengan beberapa laboratorium kedokteran di Eropa sebelum kembali ke Indonesia.

Ia menulis tentang berbagai metode analisa sampel darah dan kegunaannya dalam hasil diagnosa.

Asikin menjadi asisten pengajar di Batavia Medical School dan wakil kepala divisi penyakit dalam di rumah sakit yang bersebelahan dengan sekolah tersebut (sekarang adalah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo). Ia ditetapkan sebagai profesor di FKUI pada 1950.

Achmad Mochtar

Achmad Mochtar adalah Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman pada masa pendudukan Jepang di Indonesia.

Mochtar lulus dari STOVIA pada 1916, menerima gelar kedokteran dari Universitas Amsterdam pada 1927 dan menyelesaikan skripsi tentang leptospirosis di tahun yang sama.

Setelah kembali ke Hindia Belanda, ia meneliti tentang malaria dan kusta di beragam lokasi.

Mochtar kemungkinan adalah peneliti kedokteran Indonesia yang paling hebat di masa itu. Ia menulis 25 makalah di Jurnal Kedokteran Hindia Belanda dan jurnal internasional, melaporkan penelitiannya tentang leptospirosis, malaria, kusta, tuberkulosis, dan bakteriologi secara umum.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved