Para Dokter Hebat Kebanggaan Indonesia Pada Masa Penjajahan Belanda
Jurnal ini awalnya hanya menerbitkan artikel-artikel dari dokter asal Eropa. Namun pada abad ke-20, sejumlah dokter lulusan dari STOVIA
Pada Mei 1945, ia dihukum mati oleh Jepang, yang melemparkan tuduhan salah kepada Mochtar tentang tindakannya menyiapkan sejumlah vaksin tetanus yang sudah terkontaminasi. Sebagai konsekuensi, Indonesia kehilangan salah satu peneliti medis yang paling berbakat.
Para pendiri lembaga kesehatan dan penelitian
Para dokter Indonesia ini, seperti rekan mereka dari Belanda, telah menerbitkan banyak artikel pada Jurnal Kedokteran Hindia Belanda.
Hasil penelitian mereka telah memberikan sumbangsih terhadap upaya pengembangan ilmu kedokteran. Mereka juga menjadi arsitek terpenting fakultas kedokteran, rumah sakit, dan lembaga pelayanan kesehatan di Indonesia.
Ketika kita memikirkan tentang ribuan dokter lulus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ribuan pasien dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, ribuan mahasiswa belajar ilmu medis di Universitas Gadjah Mada, kita harus ingat warisan dari para ilmuwan hebat Indonesia ini.
Begitu juga saat kita melihat saat ini peran LIPI, PKBI memajukan kesehatan reproduksi, dan lembaga riset biologi molekular kelas dunia Institut Eijkman, kita perlu ingat bahwa lembaga tersebut adalah warisan dari para dokter sekaligus peneliti andal pada era itu yang menginginkan rakyat Indonesia sehat dan cerdas.
Oleh Hans Pols, Associate Professor sejarah dan Filsafat sains, Universitas Sydney
Artikel ini telah ditayangkan pada national geographic Indonesia dengan judul : "Kisah Dokter-Dokter Kebanggaan Indonesia Pada Masa Penjajahan Belanda"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/stovia_20171203_212352.jpg)