Senin, 20 April 2026

Kupi Beungoh

Peringatan Tsunami jangan Hanya Sebatas Seremoni, Mari Bermuhasabah

Sudah saatnya kita saling mengoreksi diri masing-masing dan memperabaiki “kerusakan” yang telah kita perbuat di tanah Serambi Mekkah

Editor: Zaenal
IST
Rahim Rivari 

Oleh Rahim Rivari

Peristiwa yang sangat memilukan terjadi di bumi Serambi Mekkah 13 tahun silam. Gempa bumi dan gelombang tsunami menerjang dari perairan Aceh, Minggu pagi, 26 Desember 2004.

Hanya dalam hitungan jam, musibah itu merenggut ratusan ribu nyawa manusia, menghancurkan bangunan-bangunan kokoh hasil karya manusia.

Tragedi yang sangat dahsyat di abad ke-21 masehi tersebut meninggalkan luka yang mendalam, terutama di benak sanubari rakyat Aceh.

26 Desember 2017, 13 tahun telah berlalu. Rakyat Aceh berzikir dan mengenang kembali musibah tersebut.

Setiap tahun tanggal 26 Desember, pemerintah dan rakyat Aceh selalu memperingati tragedi tsunami yang telah menelan banyak korban tersebut.

Tidak hanya di Banda Aceh yang merupakan ibukota Provinsi Aceh, peringatan tsunami juga dilaksanakan di berbagai kabupaten/kota.

Karena, seluruh kabupaten/kota di Aceh, kehilangan orang-orang terbaiknya dalam bencana tersebut. 

Maksiat dan bencana

Peringatan tsunami yang dilaksanakan setiap tanggal 26 Desember hendaknya tidak hanya sekadar acara seremonial belaka.

Zikir bersama pada malam hari, ziarah ke perkuburan massal pada pagi hari, dan kegiatan seremonial lainnya, haruslah memberi dampak positif bagi kehidupan kita yang masih diberi umur oleh Allah.

Peringatan bencana tersebut haruslah memberi dampak pada meningkatnya semangat kita dalam menjalankan perintah Allah subhanahu wa ta’ala.

Bencana yang diperlihatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada rakyat Aceh harus menjadikan kita sadar bahwa sudah terlalu banyak dosa yang kita perbuat di tanah Serambi Mekkah ini.

(Baca: Mengenang Tsunami Aceh, 4 Lagu Ini Ingatkan Betapa Dahsyatnya Bencana 13 Tahun Lalu)

Air bah yang sangat besar  dan gempa bumi yang Allah kirimkan 13 tahun yang lalu, seharusnya membuat rakyat Aceh lebih semangat dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi  maksiat.

Musibah itu datang karena dosa dan kesalahan manusia itu sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu alayhi wa salam;

 “Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87).

Kita melihat dengan mata kepala kita sendiri, begitu banyak masksiat yang terjadi pada hari ini di tengah-tengah kita.

Masjid-masjid di Aceh, termasuk di Kota Banda Aceh, sepi dari jamaah  pemuda. Kalau di daerah pedalaman, masih ada masjid yang tidak ada jamaah dan tidak terdengar kumandang azan.

Padahal meninggalkan shalat secara sengaja adalah maksiat yang paling besar di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Lalu kita melihat  di lingkungan sekitar kita, para pemuda dan pemudi Aceh,  seakan telah hilang rasa malu dari dalam dirinya. Berboncengan dengan pasangan yang bukan mahram sambil mengumbar kemesraan di depan umum.

Begitu banyak sekarang anak terlahir di luar pernikahan, pemerkosaan, dan pelecehan-pelecehan terhadap syariat Islam di Aceh.

Maka, jadikanlah peringatan tsunami sebagai sarana bermuhasabah (mengevaluasi atau introspeksi diri), bukan hanya sebatas seremoni.   

Jangan sampai bencana yang Allah Swt berikan kepada kita tidak bisa menyadarkan kita dari banyaknya dosa yang kita perbuat.

(Baca: Air Mata Para Tamu Berlinang Kala Video Singkat Tentang Tsunami Diputar)

Momentum Taubatan Nasuha

Allah Subhanahu wa ta’ala sangat mencintai hamba-Nya yang bertaubat dari dosa-dosa yang telah diperbuat.

Allah Subhanahu wa ta’ala juga menyukai apabila seorang hamba bergegas mengharapkan ampunan Allah setelah jatuh ke dalam dosa dan maksiat.

Sebagaimana Allah berfirman “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Albaqarah : ayat 222)

Peringatan 13 tahun tragedi tsunami Aceh hari ini, Selasa 26 Desember 2018 harus menjadi momentum taubatan nasuha (taubat yang sebenarnya) bagi seluruh rakyat Aceh.

Bukan hanya acara seremonial belaka yang membuat rakyat Aceh tersadar dalam satu hari saja.

Momen peringatan 13 tahun tsunami Aceh ini harus benar-benar membuat rakyat Aceh sadar dan takut kejadian yang sama akan terulang, karena banyaknya maksiat yang terjadi sekarang.

Sudah saatnya kita saling mengoreksi diri masing-masing dan memperabaiki “kerusakan” yang telah kita perbuat di tanah Serambi Mekkah dengan dosa-dosa kita.

Mulai meramaikan rumah-rumah Allah dengan shalat berjamaah, mengahdiri majelis-majelis ilmu dan kegiatan keagamaan lainnya.

Semoga rakyat Aceh selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wa ta’ala dan dijauhi dari segala bentuk macam musibah dan malapetaka.

Rajin dalam beribadah kepada Allah sehingga mendatangkan rahmat dan kecintaan dari-Nya.

* Penulis, Rahim Rivari adalah Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Prodi Komunikasi Penyiaran Isalm, Universitas Islam Negeri Ar Raniry Banda Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved