KUPI BEUNGOH
Ketika Mati Rasa: Profesional Berperikebinatangan
Masalah terbesar kita hari ini bukan korupsi, manipulasi, atau ketidakadilan—melainkan hilangnya kemarahan terhadap kejahatan.
Oleh: M. Shabri Abd. Majid*)
Masalah terbesar kita hari ini bukan korupsi, manipulasi, atau ketidakadilan—melainkan hilangnya kemarahan terhadap kejahatan.
Skandal datang silih berganti, namun reaksi kita mengecil—lalu lupa. Kita tahu, tetapi tetap diam. Di situlah mati rasa bermula. Yang rusak bukan sekadar sistem, tetapi rasa kita terhadap kerusakan itu sendiri.
Manusia punya hati, mata, dan telinga—namun tidak digunakan; mereka seperti ternak, bahkan lebih sesat (QS. Al-A‘raf: 179).
Saat kesadaran tumpul, manusia tak lagi dipandu nilai, tetapi dorongan. Al-Qur’an menggambarkan kondisi itu melalui sekitar 27 jenis binatang sebagai cermin hilangnya batas dalam diri manusia.
Pertanyaannya sederhana—dan menampar: kita masih memahami, atau hanya memikul seperti keledai (himar)? Kita bertindak dengan nilai, atau mengikuti nafsu seperti anjing (kalbun)?
Dan akhirnya—yang paling jujur: di balik peran yang kita banggakan, kita ini masih manusia… atau sudah berubah menjadi apa?
Tulisan ini tidak menunjuk siapa—hanya mengajak bercermin. Kalau terasa menyentil, mungkin bukan karena kalimatnya terlalu tajam… tapi karena kita terlalu lama menganggapnya biasa, hingga kehilangan rasa untuk menyadari bahwa yang tidak wajar telah kita terima sebagai hal yang wajar.
Birokrat dan Pejabat Khinzir
Di lingkar kekuasaan, pola itu berulang: sudah memiliki segalanya—tetap mengambil.
Kasus terbuka, respons kian datar. Masalahnya bukan kekurangan, tetapi hilangnya batas—yang dulu memalukan kini biasa.
Rasa malu memudar, rasa cukup lenyap. Di titik itu, birokrat dan pejabat tak lagi dipandu nilai, tetapi dorongan—seperti babi (khinzir) yang menelan tanpa batas (QS. Al-Ma’idah: 3) dan anjing (kalbun) yang tak pernah puas (QS. Al-A‘raf: 176).
Harta naik, kuasa menguat, tetapi batas dalam diri runtuh.
Birokrasi tampak rapi, namun runtuh di hadapan manusia: prosedur berjalan, warga diabaikan—pasien diminta berkas, bantuan tertahan, izin tersendat.
Tidak ada yang melanggar—dan justru di situlah masalahnya. Ini bukan kegagalan sistem, tetapi kegagalan rasa.
Mereka bergerak seperti ternak tanpa arah (QS. Al-Baqarah: 67), memikul seperti keledai tanpa makna (QS. Al-Jumu’ah: 5), menenun rapuh seperti laba-laba (QS. Al-Ankabut: 41), dan sesekali meniru tanpa memahami—seperti monyet yang hanya pandai menyalin, tetapi asing dari makna (QS. Al-A‘raf: 166). Semua berjalan—tanpa hidup.
Akademisi Himar
kupi beungoh
M Shabri Abd Majid
Opini Shabri Abd Majid
birokrat
pejabat
Akademisi
Politisi
pemimpin
Pebisnis
Influencer
Eksklusif
multiangle
Meaningful
| Menyikapi Ancaman El-Nino Godzilla |
|
|---|
| Tak Terdata, Tak Terlihat: Realitas Sosial di Balik Angka JKA |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 10, Keberlangsungan Peradaban Keamanan Manusia, Stop War |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-M-Shabri-Abd-Majid-Prof-Bidang-Ilmu-Ekonomi-USK-Banda-Aceh.jpg)