Minggu, 17 Mei 2026

Berdoa di Atas Pusara tanpa Nisan

BONGKAHAN batu besar itu bertabur aneka bunga: seulanga, melati, asoka, dan jeumpa

Tayang:
Editor: bakri
WARGA berziarah di kuburan massal korban tsunami Aceh, di Siron, Aceh Besar, Selasa (26/12). 

BONGKAHAN batu besar itu bertabur aneka bunga: seulanga, melati, asoka, dan jeumpa. Baunya menyeruap ke udara. Wanita dan laki-lagi bergantian membasuh muka di atasnya seraya berdoa. Sejak 13 tahun lalu beberapa batu besar di area rumput seluas 1 hektare itu selalu menjadi persinggahan terakhir beribu bait doa dari para peziarah.

Bongkahan batu itu seolah mewakili nisan bagi 14.000 korban tsunami yang terkubur di dalamnya. Di tengah suasana mendung menyelimuti Kota Banda Aceh, sejak Selasa pagi (26/12), area taman rumput yang dinamai Taman Makam Syuhada Tsunami itu dibanjiri peziarah.

Tampak wajah-wajah sendu menatap hampa. Di sudut lain, ada tangisan dan untaian doa terdengar sayup-sayup. Semuanya bersatu dalam kenangan dan kehilangan.

Kehilangan atas orang-orang yang mereka cintai setelah tragedi bencana mahadahsyat, tsunami yang meluluhlantakkan pesisir Aceh pada 26 Desember 2004.

Sekitar 250.000 jiwa rakyat Aceh meninggal dan hilang. Jasad para syuhada tsunami ini dikubur massal di Desa Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, dan Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

Setiap tahun kedua lokasi itu menjadi pusat para peziarah. Tak terkecuali hari ini, 26 Desember 2017, atau 13 tahun lalu bencana tsunami melanda Aceh, kompleks kuburan tsunami kembali ramai didatangi para peziarah berdoa dan membaca Alquran untuk mereka yang menjadi korban.

M Fuad adalah satu di antara banyak peziarah yang ditemui Serambinews.com di lokasi Taman Makan Syuhada Tsunami di Ulee Lheue.

Sejak tsunami menerjang Aceh, pemuda berusia 23 tahun ini tinggal sebatang kara. Ibu, ayah, dua kakak, dan dua adiknya hilang disapu tsunami.

Semua jasad mereka tak ditemukan. “Ketika itu saya disuruh lari orang tua, tapi di jalan saya digulung air, dibawa sejauh 600 meter. Saya tersangkut di pohon kelapa sampai air surut,” ujarnya.

Saat kejadian itu, M Fuad berusia 10 tahun dan tinggal di kawasan Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, bersama keluarga. Ia mengalami luka parah dan tertelan air, sehingga warga kampung membawanya ke rumah sakit di kawasan Kampus Unsyiah.

“Saya sempat mencari keluarga, tapi tak bertemu satu pun mereka,” ujar mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry ini ditemani rekan sekampusnya Indah Muliani kepada Serambinews.com.

Bersama para peziarah lainnya, M Fuad juga membaca Alquran dan memanjatkan doa untuk almarhum anggota keluarganya. Setelah 13 tahun tsunami, M Fuad masih kerap membayangkan wajah-wajah mereka yang telah pergi.

“Semoga Allah menerima amal ibadah dan mengampuni dosa mereka,” ujarnya. Kini ia berusaha tegar hidup sebatang kara dengan bekerja sebagai petugas warnet sambil melanjutkan kuliah.

Cerita pilu para peziarah di makam syuhada tsunami juga dituturkan Sri Sukartini. Ibu ini kehilangan tiga anaknya.

Semua mereka sewaktu kejadian berada di Desa Blang Oi Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Sedangkan Sri bersama suami dan dua anaknya tinggal di Jantho, Aceh Besar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved