Berdoa di Atas Pusara tanpa Nisan
BONGKAHAN batu besar itu bertabur aneka bunga: seulanga, melati, asoka, dan jeumpa
Pada Sabtu 25 Desember 2004, kedua anaknya yang masih kuliah, Putri dan Ridha menginap di rumah kakaknya, Yulia di Blang Oi.
Sebelum gempa bumi terjadi pada Minggu pagi 26 Desember 2004, Putri sempat menelepon ibunya.Ternyata itulah percakapan terakhir mereka, dan setelah itu tsunami datang.
“Mereka ke luar dari rumah lari dan hilang disapu tsunami di jalan. Sedangkan rumah mereka tidak apa-apa dan banyak warga yang naik selamat,” ujarnya.
Selain tiga anaknya, Sri juga kehilangan ibunya. “Jasad ibu tak sempat kami ambil, padahal sudah kami jaga dan pantau, tapi sewaktu kami datang, tidak ada lagi sudah diambil para relawan,” ujarnya.
Bersama warga lain, Sri juga mengirim doa untuk keluarganya di kuburan massal Ulee Lheue. Ia juga mendatangi kuburan massal di Desa Siron, Aceh Besar. Sri beranggapan ibunya terkubur di sana.
Lain Sri, lain pula cerita Naumi bersama suaminya, T Maulidinsyah. Pasangan suami istri ini bersama dua anaknya sudah tiga kali pulang ke Aceh setiap tanggal 26 Desember untuk berziarah.
Naumi selama ini tinggal di Pekan Baru, Riau, ikut suaminya berdinas. Pasutri ini kehilangan keluarga besarnya. Mereka adalah mertua laki-laki, satu keluarga pamannya, dan dua sepupu dari ayahnya. Semua mereka tinggal di kawasan Pelabuhan Ulee Lheue.
“Saya masih berharap, mereka masih hidup. Kalau pun mereka sudah tidak ada lagi saya ikhlas,” tutur perempuan asal Blang Bintang, Aceh Besar ini.
Sampai azan zuhur berkumandang diiringi gerimis membasahi tanah Banda Aceh, para peziarah masih memadati Taman Makam Syuhada Tsunami di Ulee Lheue.
Di atas taman rumput tanpa pusara dan nisan itulah, bait-bait doa masih terdengar sayup-sayup...(ansari)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kuburan-massal-korban-tsunami-aceh-di-siron_20171227_141607.jpg)