Jumat, 24 April 2026

Malam Pergantian Tahun Sepi

Di Aceh, malam pergantian tahun dari 2017 ke 2018 berlangsung sepi. Tak terlihat euforia muda-mudi membunyikan

Editor: bakri
Suasana Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh saat pergantian tahun 2018. Biasanya bundaran ini setiap tahunnya ramai dari muda-mudi untuk memperingati pergantian tahun. Foto direkam, Senin (1/1) 

* Dari Sabang hingga Aceh Jaya

BANDA ACEH - Di Aceh, malam pergantian tahun dari 2017 ke 2018 berlangsung sepi. Tak terlihat euforia muda-mudi membunyikan terompet, mercon, ataupun menyalakan kembang api.

Imbauan umara dan ulama kepada muslimin/muslimat Aceh agar tak ikut-ikutan merayakan pergantian tahun baru Masehi tampaknya dipatuhi umat.

Suasana sepi pada malam pergantian tahun itu terpantau mulai dari Kota Sabang, Banda Aceh, Aceh Besar, hingga Aceh Jaya. Hanya di Aceh Tenggara (Agara) ada beberapa warga yang nekat menyalakan mercon, meski sudah dilarang pemerintah dan ulama setempat.

Pantauan Serambi di beberapa lokasi di Banda Aceh, mulai dari seputaran Masjid Raya Baiturrahman, Bundaran Simpang Lima hingga kawasan Ulee Lheue, pada Minggu (31/12) malam hingga Senin (1/1) dini hari, tidak terlihat konsentrasi massa di kawasan itu.

Dulu, ketiga kawasan ini pernah dijadikan titik kumpul oleh para muda-mudi untuk menyalakan petasan maupun kembang api saat merayakan pergantian tahun di Banda Aceh. Tapi pada awal tahun ini hal itu tak lagi terlihat. Pemko Banda Aceh setiap tahun mengeluarkan larangan bersama untuk tidak merayakan pergantian tahun baru berdasarkan kalender Masehi di Banda Aceh. Tapi khusus tahun ini, Pemko Banda Aceh memperbolehkan warung kopi dan kafe dibuka pada malam tahun baru.

Maka seperti biasanya keramaian hanya terlihat di warung-warung kopi dan kafe. Ada juga sebagian warga yang menggunakan kendaraan roda dua dan empat untuk berkeliling di seputaran Simpang Surabaya, Simpang Lima, Simpang Jam hingga menuju Ulee Lheue, Banda Aceh.

Tim gabungan dari personel Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Banda Aceh serta Satpol PP dan WH Provinsi Aceh yang dibantu personel TNI/Polri melakukan patroli dan pengamanan di titik-titik lokasi yang dianggap rawan pelanggaran perayaan tahun baru di Banda Aceh.

“Ada sepuluh lokasi yang dijaga ketat oleh tim gabungan. Yakni, Simpang Lima, Jembatan flay over Simpang Surabaya, Taman Sari/Babussalatin, Blangpadang, Lampulo, Ulee Lheue, dan Jembatan Lamnyong, Taman Ratu Safiatuddin, Simpang Mesra, serta Jembatan Pango,” ungkap Kasi Penegakan Syariat Islam Satpol PP & WH Kota Banda Aceh, Effendi A Latief menjawab Serambi.

Malam pergantian tahun 2018 di Banda Aceh tak terasa spesial, terlebih karena pada malam itu hujan sempat mengguyur. Dingin yang menusuk membuat warga malas ke luar rumah. Kaum muda pun seperti enggan berbasah-basah oleh guyuran hujan pada malam pergantian tahun itu.

Di Sabang, ribuan turis baik lokal maupun mancanegara memadati kota wisata itu selama libur tahun baru Masehi. Mereka mengunjungi sejumlah objek wisata favorit yang ada di Pulau Weh. Namun, detik-detik malam pergantian tahun dari 2017 ke 2018 dilewati tanpa ada acara perayaan atau pesta.

Amatan Serambi sejak Minggu (31/12) hingga Senin (1/1), ribuan wisatawan terkonsentrasi di beberapa objek wisata populer di Sabang, seperti Pantai Iboih, Pulau Rubiah, Tugu Kilometer Nol, Pantai Gapang, hingga Gua Sarang. Namun, Iboih dan Pulau Rubiah menjadi dua lokasi yang paling banyak dikunjungi wisatawan selama musim libur kali ini. Sebab, selain di sini bisa menikmati suasana pantai, pengunjung pun dapat ber-snorkeling hingga menyelam (diving) di lokasi tersebut.

“Sebagian besar wisatawan memilih untuk menginap di kawasan Iboih selama liburan kali ini. Hampir semua penginapan di Sabang penuh. Selain di kota, wisatawan paling ramai di Iboih,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Sabang, Ali Taufik, kepada Serambi kemarin.

Taufik merincikan, saat ini di kawasan Iboih terdapat sekitar 50-an usaha penginapan, mulai dari bungalow hingga homestay.

Sedangkan pada malam pergantian tahun, suasana Kota Sabang awalnya sempat ramai, terutama di pinggir pantai kawasan Sabang Fair, serta pusat kuliner. Warga datang berkelompok, baik dengan rombongan pertemanan maupun keluarga. Bahkan puluhan petugas keamanan juga sudah bersiaga di sejumlah jalan protokol dalam kota.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved