Selasa, 2 Juni 2026

Milisi Muslim Moro Pelajari Damai Aceh

Delegasi kelompok muslim bersenjata Filipina atau yang lebih dikenal dengan Moro Islamic Liberation Front

Tayang:
Editor: bakri
WALI Nanggroe, Tgk Malik Mahmud Alhaythar mendengar sambutan sekaligus perkenalan dari Pimpinan Moro Islamic Liberation Front (MILF) Filipina, Al Haj Murad Ebrahim (kiri) saat mereka berkunjung ke kompleks Meuligoe Wali Nanggroe di Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Senin (29/1). 

BANDA ACEH - Delegasi kelompok muslim bersenjata Filipina atau yang lebih dikenal dengan Moro Islamic Liberation Front (MILF), berkunjung ke Aceh sejak Minggu (28/1). Kedatangan mereka untuk mempelajari proses perdamaian Aceh yang terwujud 13 tahun silam. Para milisi muslim Moro ini akan berada di Aceh hingga hari ini, Selasa.

Kemarin, mereka melakukan pertemuan dengan Wali Nanggroe Aceh, Tgk Malik Mahmud Al-Haythar, di Kompleks Meuligoe Wali Nanggroe, Jalan Seokarno-Hatta kawasan Lampeuneurut, Aceh Besar. Siangnya, pimpinan dan beberapa anggota Front Pembebasan Islam Moro ini juga dijamu Wakil Gubernur (Wagub) Aceh, Nova Iriansyah MT di Pendapa Wagub di Banda Aceh.

Pantauan Serambi, delegasi MILF tiba di Meuligoe Wali Nanggroe sekira pukul 11.20 WIB, disambut Wali Nanggroe Tgk Malik Mahmud didampingi Katibul Wali, Drs Syaiba Ibrahim, Staf Khusus, Dr M Rafiq, mantan anggota DPRA, Drs Adnan Beuransyah, dan Kabag Humas Wali Nanggroe, Drs Sufyan M Said. Turut hadir, Ketua Umum DPA Partai Aceh, Muzakir Manaf beserta wakilnya, Abu Razak, dan Juru Bicara Partai Aceh, Suadi Sulaiman (Adi Laweung).

Rombongan delegasi MILF dipimpin langsung oleh pemimpin tertinggi mereka, yakni Al Haj Murad Ebrahim.

Dalam pertemuan itu, Murad Ebrahim dan anggota terlibat diskusi dengan Malik Mahmud seputar jalan panjang menuju damai Aceh. Dibicarakan mulai tahap demi tahap menuju meja perundingan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) hingga berujung pada kesepakatan mengakhiri konflik senjata dan mewujudkan perdamaian di Aceh.

Pimpinan Front Pembebasan Islam Moro, Al Haj Murad Ebrahim yang diwawancarai awak media mengatakan, kedatangan pihaknya ke Aceh, secara umum untuk membangun hubungan dan berkoordinasi dengan tokoh-tokoh di Aceh yang pernah terlibat dalam konflik Aceh dan perundingan untuk mewujudkan perdamaian.

“Kami ingin berbagi pengalaman dengan Aceh, karena kita memiliki perjuangan yang sama dalam proses perdamaian dengan pemerintah dan implementasinya. Jadi, kami membutuhkan pengalaman yang dipunyai Aceh untuk diterapkan pada persoalan kami,” kata Ebrahim.

Ia juga mengatakan, model perundingan dan cara-cara yang ditempuh pihaknya dengan Filipina untuk mewujudkan perdamaian hampir sama. “Ya, hampir sama, karena kami memulainya dengan hal yang sama. Aceh bisa mencapai kesepakatan, kami pun ingin melakukan hal yang sama,” kata Ebrahim.

Ia tambahkan, saat ini kondisi keamanan di Moro relatif aman walaupun ada tantangan lain seperti kehadiran kelompok ekstrem lainnya, seperti yang terjadi di Marawi dan juga kelompok Islamic State Iraq and Syria (ISIS).

Sementara itu, Wali Nanggroe Tgk Malik Mahmud dalam kesempatan itu memberi masukan kepada milisi Moro dan juga pimpinan Filipina untuk segera menuntaskan persoalan Moro dengan Filipina saat ini.

“Kami sharing, kita punya pengalaman menyelesaikan konflik antara Aceh dengan Indonesia. Saya memberi masukan kepada beliau, supaya masalah Moro dan Filipina diselesaikan seperti apa yang kita lakukan di Aceh dengan Indonesia,” pungkas Malik Mahmud kepada wartawan.

Terpisah, saat dijamu Wakil Gubernur Aceh, El Haj Murad Ebrahim mengatakan, Bangsamoro yang berkonflik dengan pemerintahan resmi di Filipina, sebenarnya telah menjajaki perjanjian perdamaian jauh sebelum hal tersebut dilakukan di Aceh.

Sejak tahun 1995, mereka telah berunding. Selama tiga tahun berturut, prosesi itu terus ditempuh. “Tapi tidak pernah berhasil, bahkan kemudian terjadi darurat militer,” ujar Murad. Proses serupa hampir sama dengan apa yang terjadi di Aceh. Murad berharap Bangsamoro bisa segera berdamai lewat perjanjian komprehensif di tahun 2017. “Kita berharap perjanjian terakhir berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang sama-sama kita inginkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Wagub Nova Iriansyah mengatakan, Pemerintah Aceh sangat mendukung upaya dan usaha yang ditempuh Bangsamoro untuk merajut perdamaian dengan Pemerintah Filipina. Apa yang dilakukan mereka, ujar Nova, telah pernah dilalui juga oleh masyarakat dan para pejuang di Aceh.

“Kami sangat mendukung proses damai di Filipina. Semoga dialog yang kita bangun ini menjadi langkah awal untuk menyebarkan semangat damai Aceh di wilayah Asean,” ujar Nova di Pendapa Wakil Gubernur Aceh.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved