Citizen Reporter
Keajaiban Tawaf yang tak Pernah Berhenti
ALHAMDULILLAH, tahun ini saya bersama keluarga berkesempatan melaksanakan umrah setelah 15 tahun silam pernah menunaikan rukun Islam kelima
H BASRI A. BAKAR, Ketua Umum Dewan Kemakmuran Masjid Aceh (DKMA),
melaporkan dari Mekkah Almukarramah, Arab Saudi
ALHAMDULILLAH, tahun ini saya bersama keluarga berkesempatan melaksanakan umrah setelah 15 tahun silam pernah menunaikan rukun Islam kelima, berhaji. Tentu saja banyak terdapat perbedaan, terutama suasana di sekitar Masjidil Haram yang secara besar-besaran direnovasi. Masjidil Haram yang di dalamnya terdapat Kakbah terlihat semakin megah dan agung.
Perjalanan umrah sekitar sepuluh hari dengan tujuan Madinah dan Mekkah menyimpan banyak kesan spiritual tiada tara. Selain dapat shalat berjamaah di Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram, jamaah juga dapat berziarah ke berbagai tempat di Madinah, seperti Raudhah, kuburan Rasulullah, Baqi’, Jabal Uhud, Khandak, Masjid Qiblatain, Masjid Quba, dan lain-lain. Sedangkan selama di Mekah, kami bisa ziarah ke Jabal Tsur, Jabal Nur, Jabal Rahmah, Arafah, dan Mina sebagai tempat-tempat prosesi ibadah haji.
Terus terang, bagi saya serangkaian agenda paket umrah yang sudah diatur pihak travel itu memberi kesan tersendiri sebagai tapak tilas perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan dakwah dan mengajak umat untuk menauhidkan Allah. Namun, yang lebih berkesan lagi adalah di saat setiap jamaah terutama yang baru pertama kali datang ke Tanah Suci pasti menangis manakala menatap keagungan Kakbah di mana manusia bertawaf tak pernah berhenti.
Layaknya planet yang mengitari matahari sebagai pusat sistem tata surya Bima Sakti, begitulah umat Islam dari seluruh penjuru dunia terus bergerak mengitari Kakbah. Tak kenal siang maupun malam, perputaran itu tak pernah berhenti, terus bergerak dengan kecepatan yang sama.
Berbagai suku bangsa dan negara, laki-laki dan perempuan, aneka profesi dan jabatan, serta strata sosial berbaur membentuk satu lingkaran sambil memuji dan mengagungkan asma Allah.
Saya menyaksikan hampir tak ada sesaat pun Masjidil Haram sepi dari jamaah shalat hingga ke pelataran luar masjid, termasuk yang melakukan tawaf. Tidak hanya tingkat dasar masjid yang langsung bersentuhan dengan Kakbah yang disesaki muthawwif, tetapi juga lantai dua dan tiga terutama bagi pemakai kursi roda dan orang-orang uzur. Tidak sedikit pula yang menggendong anak dan memanggul ibunya sebagai bakti kepada orang tua dalam melakukan tawaf.
Selain itu saya juga dapat merasakan bagaimana wujud persaudaraan sesama muslim di depan Kakbatullah meski dibedakan oleh warna kulit. Tidak pernah terjadi dorong-mendorong di saat padatnya orang-orang yang tawaf, namun mereka berjalan tertib dan sabar.
Kecuali di lokasi Hajarul Aswad, padatnya jamaah dan berdesakan tidak bisa dihindari karenaingin menyentuh dan mencium Hajarul Aswad. Beberapa orang sekitar areal padat tersebut sempat menawarkan jasa mencium Hajarul Aswad kepada jamaah termasuk saya, tapi secara halus saya tolak.
Saya berprinsip kesempatan mencium batu hitam yang dikisahkan berasal dari surga tersebut bukanlah rukun umrah atau haji sehingga tak perlu dipaksakan. Namun, di pihak lain berhasil tidaknya mencium Hajarul Aswad itu semata-mata karena kehendak Allah.
Ada teman pria satu rombongan dengan saya yang berkali-kali berusaha menciumnya, namun tak pernah berhasil karena terdorong sendiri ke belakang. Namun, ada wanita tua yang sekali mendekati berhasil dengan mudah mencium Hajarul Aswad. Memang suatu keajaiban yang tidak mampu dicerna dengan akal sehat.
Tawaf adalah salah satu rukun ibadah haji atau umrah yang pantas dikagumi. Betapa tidak,
tawaf adalah suatu kegiatan yang melibatkan jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia. Gerakan mengelilingi Kakbah tersebut tidak pernah berhenti, kecuali saat shalat wajib lima waktu.
Seusai shalat, Kakbah pun kembali dikitari manusia berlawanan dengan arah jarum jam. Anehnya lagi, di saat ikamah berkumandang pertanda shalat ditegakkan. Manusia yang tidak terhitung banyaknya serta merta berbaris rapi dalam saf yang menghadap Kakbah hanya dikomandoi oleh seorang muazin. Mungkin tidak ada pasukan militer mana pun yang mampu membentuk barisan rapi seperti itu dalam waktu hanya satu menit.
Thaaf melambangkan nilai-nilai tauhid. Dalam melakukan tawaf manusia diminta agar selalu mendekatkan diri kepada Allah. Bukan hanya sekali saja, tetapi berkali-kali bahkan setiap waktu, sebagaimana dilambangkan dalam ibadah tawaf yang dilakukan tujuh kali putaran. Ini bermakna agar manusia selalu mendekatkan diri kepada Allah selama tujuh hari dalam seminggu, setiap hari dan setiap saat dalam kehidupannya.
Itu sebabnya, tawaf mesti dilakukan dengan penuh penghayatan menghadirkan Allah dalam diri kita, berzikir, berdoa, dan memohon ampun kepada-Nya.
Jagat raya (makrokosmos) juga bertawaf mengelilingi pusat orbitnya masing-masing. Bulan bertawaf mengelilingi bumi. Bumi bertawaf mengelilingi matahari dan matahari bertawaf mengelilingi pusat galaksi. Prof Lawrence E Yoseph mengatakan, “Sungguh kita sudah berutang besar pada umat Islam.” Bahkan dalam Encyclopedia Americana ia menulis, “Seandainya beberapa orang Islam berhenti melakukan tawaf maupun shalat di muka bumi ini, pasti bakal terhentilah rotasi bumi kita, lantaran perputaran dari superkonduktor yang berpusat di Hajaral Aswad, tak akan memancarkan gelombang elektromagnetik.”
Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin menjelaskan, jika tidak ada lagi orang yang bertawaf, itu pertanda Kakbah akan diangkat dari muka bumi. Kalau itu yang terjadi, maka manusia akan bangun pada suatu hari dengan tak lagi melihat bekas apa pun yang ditinggalkan Kakbah.
Oleh karena itu semua makhluk yang ada di jagat raya ini juga harus bertawaf (taat) kepada Allah. Termasuk dalam skala mikro setiap elemen pemerintahan di Aceh harus bertawaf untuk menuju kesejahteraan rakyat, yakni bertawaf dalam satu arah. Jangan sampai bertawaf dalam arah yang berbeda sehingga menyalahi sunnatullah dan merugikan umat. Wallahu a’lam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/h-basri-a-bakar_20180331_145422.jpg)