Breaking News:

Opini

Kejahatan Perang vs Kejahatan Media

SEJAK tersebarnya berita tentang kematian Razan Al-Najjar yang ditembak oleh penembak runduk (sniper) Israel pada 1 Juni 2018 lalu

Razan Najjar dan Tentara Israel 

Oleh Yelli Sustarina

SEJAK tersebarnya berita tentang kematian Razan Al-Najjar yang ditembak oleh penembak runduk (sniper) Israel pada 1 Juni 2018 lalu, topik ini menjadi viral di berbagai media. Pasalnya yang ditembak bukanlah tentara Palestina atau demonstran yang terlibat dalam protes, untuk menuntut hak warga Palestina yang diusir sejak 1948. Dia adalah perempuan yang bertugas sebagai tenaga medis untuk membantu para demonstran yang terluka.

Namun, naasnya perempun yang berusia 21 tahun itu menjadi sasaran tembak dari penembak jitu tentara Israel. Rompi pelindung berwarna putih yang menjadi tanda bahwa dia bukanlah lawan, tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Harusnya dengan rompi tersebut dan tas medis yang dibawanya, sudah cukup membuktikan bahwa dia orang yang tidak boleh disakiti, apalagi ditembak mati. Kenyataannya nyawa perempuan yang bertugas menyelamatkan nyawa orang lain itu, berakhir di negeri yang puluhan tahun sudah terlibat perang.

Kejahatan perang
Sebagai negara yang terlibat perang, tentu ada aturan perang yang berlaku seperti yang tertera dalam Hukum Humaniter Internasional (HHI). Hasil pertemuan Konvensi Jenewa sejak 1949 dan beberapa kali konvensi berikutnya, telah menetapkan protokol perlidungan hukum bagi orang-orang yang tidak telibat dalam perang. Pelanggaran serius terhadap HHI merupakan kejahatan perang. Lantas apakah penembakan Razan Al-Najjar bisa disebut sebagi kejahatan perang?

Perawat Palestina Razan Al-Najjar sudah sangat jelas bukanlah kombatan yang menjadi sasaran tembak. Prinsip pembeda ini harusnya dijalani oleh tentara Israel sebagaimana yang tercantum di HHI. Berdasarkan aturan HHI tentang pembedaan antara orang sipil dan kombatan adalah pihak-pihak yang berkonflik, hanya boleh melakukan penyerangan kepada kombatan. Sedangkan orang sipil yang bukan anggota angkatan bersenjata harus dilindungi dan dihormati haknya.

Apalagi Razan adalah masyarakat sipil yang berprofesi sebagai perawat untuk negerinya Palestina. Meninggalnya Razan sebagai warga sipil sekaligus tenaga medis karena ditembak sniper Israel, jelas merupakan kejahatan perang. Dia bukanlah ancaman bagi kedua kelompok yang berkonflik, justru penyelamat bagi siapa saja yang menjadi korban perang. Mestinya dia harus dihormati dan dilindungi dalam segala keadaan.

Boleh jadi Razan kehilangan perlindungan, bilamana melakuan tindakan yang mencelakakan pihak musuh di luar fungsi kemanusiaan yang diperankannya. Namun, saat detik-detik penembakan Razan menurut saksi mata yang berada di lokasi tersebut sempat mengangkat kedua tangan sebagai tanda dia bukanlah ancaman dari pihak tentara Israel.

Sayangnya prinsip pembeda itu tidak dimengerti oleh tentara Israel, sehingga peluru timah panas menghantam belakang Razan hingga tembus ke dada yang menyebabkannya meninggal dunia. Sebelumnya kejadian seperti ini sudah pernah dialami oleh tim medis yang menangani konflik di Palestina. Selain korban jiwa, korban luka dan kekerasan terhadap tim medis juga sering dilakukan oleh tentara Israel. Seolah dalam perang ini ketentuan yang disebutkan dalam HHI tidak berlaku sama sekali.

Meninggalnya Razan menimbulkan kecaman bagi masyarakat dunia. Banyak yang mengutuk perbuatan tentara Israel itu sebagai perbuatan yang tidak manusiawi. Reaksi dari emosi yang memuncak itu banyak ditumpahkan ke media sosial. Bahkan satu akun facebook atas nama Suhair Nafal membuat postingan dengan judul #GOOD_vs_EVIL. Dia membandingkan antara tentara Israel dengan Razan yang merupakan penolong bagi korban konflik. Yang dibandingkannya pun adalah seorang perempuan bernama Rebecca dengan fotonya berseragam tentara lengkap, sambil menyandang senjata M-16.

Lantas statusnya itu diangkat di laman facebook, Freedom for Gaza yang menyatakan Rebecca sebagai pembunuh Razan. Oleh warganet berita itu dipercayai secara mentah tanpa menyaring dan mencari kebenaran informasi tersebut. Sontak masyarakat yang mengecam pembunuh Razan tertuju kepada Rebbeca. Padahal menurut perempuan itu, dia sudah dua tahun lebih berhenti dari tentara Israel. Berbagai teror dan kebencian pun dilampiaskan kepada perempuan yang berasal dari Amerika Serikat ini.

Kejahatan media
Dua hari setelah viralnya berita Razan dan foto-fotonya sebagai perawat Palestina, foto Rebecca sebagai sniper Israel yang membunuh Razan pun kini menjadi viral. Akibatnya pemilik nama Rebecca ini sekarang menjadi sasaran tembak di media sosial dari orang-orang mengecam perbuatan tidak manusiawai itu. Dia tertuduh sebagai pembunuh yang belum jelas kebenarannya. Informasi yang tersebar itu jelas merupakan hoax yang dibuat oleh penjahat media yang menginginkan berita viral supaya websitenya banyak dikunjungi.

Namun, di lain sisi ada orang yang terzalimi karena kejahatan media yang diperbuat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Saya bisa merasakan bagaimana stress-nya Rebecca menghadapi kemarahan warga net atas perbuatan yang belum tentu dilakukannya. Sampai-sampai dia membuat video klarifikasi soal kabar hoax yang menyerang dirinya. Kalau benar dulunya dia pernah menjadi bagian dari tentara Israel, tapi yang menembak Razan bukanlah dirinya.

Sayangnya berita hoax itu telah tersebar di berbagai media dan dipercayai oleh masyarakat dunia. Jika Razan meninggal dunia karena kejahatan perang yang dilakukan oleh tentara Israel, Rebecca akan mengalami kertergoncangan jiwa atas tuduhan yang dibuat media.

Oleh karena itu, kita sebagai pembaca dan penonton yang tidak melihat langsung duduk perkaranya, harus jeli menyaring informasi yang ada. Menyudutkan dan menyebarluaskan informasi yang belum jelas kebenarannya ialah satu kejahatan media. Bila kita ikut terlibat dalam penyebaran informasi itu, berarti kita tak ubahnya seperti penjahat Israel yang menghabisi nyawa Razan dan masyarakat sipil Palestina yang tak berdosa.

Namun, untuk kasus Razan yang sudah jelas merupakan bagian kejahatan perang, kita serahkan ke tangan pengadilan nasional yang menyangkut kejahatan perang. Negara harus menyelidiki kejahatan perang yang dilakukan oleh kombatan yang tidak mematuhi aturan perang.

Tugas kita sebagai pengguna media sekaligus penikmat berita tidak boleh menyebarkan kebencian di antara kedua negara yang berperang. Jalan damai sangat diinginkan, sekalipun sulit dilakukan. Seperti yang pernah dikatakan Razan, “kami memiliki satu tujuan, yaitu menyelamatkan nyawa dan mengevakuasi orang. Dan mengirim pesan ke dunia bahwa tanpa senjata, kita bisa melakukan apa saja.”

Ns. Yelli Sustarina, S.Kep., alumnus Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), aktif di Forum Aceh Menulis (FAMe), Gam-Inong Blogger, dan Steemit Indonesia. Email: yellsaints.paris@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved