Jurnalisme Warga
Hikayat Hasan Husein, Genderang Perang Rakyat Barsela Saat Melawan Belanda
26 April 2026 pagi, saya pergi menuju Gampong Cot Buklat, Blang Bintang, Aceh Besar, untuk mengembalikan naskah asli Hikayat Hasan Husein
T.A. SAKTI, peminat naskah lama dan sastra Aceh, melaporkan dari Rumoh Teungoh, Gampong Ujong Blang, Mukim Bungong Taloe, Kecamatan Beutong, Nagan Raya
Ahad, 26 April 2026 pagi, saya pergi menuju Gampong Cot Buklat, Blang Bintang, Aceh Besar, untuk mengembalikan naskah asli Hikayat Hasan Husein kepada pemiliknya, Cek Medya Hus, seorang seniman Aceh terkenal.
Hikayat yang berhuruf Arab Melayu atau Jawi-Jawoe itu sudah lebih setahun saya pinjam dan baru pada bulan Ramadhan 1447 H yang lalu selesai saya salin ke aksara Latin.
Fakta hikayat
Saya mengira Hikayat Hasan Husen ini versi baru, yang telah menghapus bagian isi yang “membenci” Mu’awiyah dan Yazid, putranya, yang mengecap mereka sebagai kafir dan pembunuh bengis sadis terhadap cucu Nabi Muhammad saw.
Pada hikayat versi lama, cercaan kepada Mu’awiyah dan Yazid bertaburan sepanjang hikayat.
Di bagian kulit dalam, tertulis Hikayat Prang Sabi, yang merupakan judul hikayat.
Penamaan Hikayat Hasan Husein sebagai Hikayat Prang Sabi bagi daerah barat-selatan Aceh (Barsela) bukanlah mengada-ada. Sebab, dalam masa perang melawan Belanda yang hendak menjajah Aceh, Hikayat Hasan Husen-lah yang menjadi sumber untuk “mendidihkan semangat juang” bagi para muslimin Aceh ketika menyerang pasukan Marsose Belanda.
Menjelang berangkat menyerang Belanda, para pejuang Aceh mendengar dan membaca Hikayat Hasan Husein dengan serius.
Informasi ini saya peroleh ketika saya berobat patah selama setahun (April 1986– April 1987) di Rumoh Teungoh, Gampong Ujong Blang, Mukim Bungong Taloe, Kecamatan Beutong, Nagan Raya.
Masyarakat di sana hanya mengenal Hikayat Hasan Husein dan tidak mengetahui adanya Hikayat Prang Sabi (Hikayat Perang Sabil).
Sengaja dirombak
Setelah semakin banyak saya telaah, ternyata hikayat ini sengaja dikemas oleh penulisnya sebagai bacaan pembangkit semangat jihad masyarakat agar lebih gigih berperang melawan Belanda yang sedang bergerak ke kawasan Barsela.
Saya yakin bahwa isi Hikayat Hasan Husein ini berbeda “semangatnya” dengan Hikayat Hasan Husein di wilayah Aceh bagian pesisir utara dan timur.
Kalau di bagian pesisir utara-timur, semangat jihad yang dikandungnya berupa paparan sejarah Islam masa lalu, yaitu sejarah pada tahun 61 H abad ke-7 Masehi. Sedangkan pada Hikayat Hasan Husein yang saya salin ke huruf Latin ini, semangat jihad yang pada masa lalu itu sudah ditarik/diangkat ke masa depan, yaitu saat masyarakat Aceh di Barsela sedang berperang melawan Belanda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TA-Sakti-879809.jpg)