Ramadhan Mubarak

Persiapan Menyambut Idul Fitri

SECARA arti bahasa, persiapan bermakna perlengkapan dan persediaan. Bila diletakkan dalam kontek

Editor: bakri
Prof. Eka Srimulyani, MA 

Oleh Prof. Eka Srimulyani, MA., Ph.D Dekan Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry. Email: ekasrimulyani@ar-raniry.ac.id

SECARA arti bahasa, persiapan bermakna perlengkapan dan persediaan. Bila diletakkan dalam kontek yang lebih luas lagi, persiapan juga melingkupi tahapan atau aktivitas yang dilakukan sebelum suatu momen atau kegiatan berlangsung. Persiapan Idul Fitri itu sendiri tidak bisa dipisahkan dari kegiatan yang dilakukan sebelum Idul Fitri tiba.

Idul fitri yang merupakan akhir dari perjalanan Ramadhan tidak bisa dipisahkan dari semangat dan kegiatan ibadah Ramadhan itu sendiri, baik dari sisi spiritual maupun sosial. Sudah dimaklumi secara luas bahwa Ramadhan adalah momen yang selalu dirindukan kehadirannya oleh umat Islam di berbagai belahan dunia.

Gambaran Ramadhan dengan beragam keistimewaannya terlihat dari ungkapan nama-nama yang dinisbahkan kepadanya seperti bulan ibadah, bulan tarbiyah, bulan penuh berkah, bulan ampunan, dan beragam namapenuh makna lainnya.

Perjalanan akhir dari Ramadhan yang bermuara di hari Idul Fitri, juga merupakan sebuah momen yang sangat special, sebagai sebuah ‘perayaan’ kemenangan pasca-tarbiyah (pendidikan) Ramadhan. Menjelang Idul Fitri, dan seiring berakhirnya Ramadhan, biasanya ada dua perasaan yang muncul di sanubari; kesedihan karena perpisahan dengan Ramadhan, dan perasaan bahagia karena menyambut hari kemenangan.

Ungkapan rasa syukur dan bahagia dalam menjalani Ramadhan dan menyambut Idul Fitri, terkadang muncul dalam beragam tradisi di berbagai masyarakat Muslim di dunia. Ramadhan adalah juga momen membangun empati, dan salah satu aksi yang wajib ditunaikan sebagai bagian dari rangkaian ibadah Ramadhan adalah membayar zakat fitrah, untuk menyempurnakan nilai ibadah puasa, dan juga untuk menyucikan jiwa.

Memaknai fitrah
Satu istilah yang paling sering kita dengar selama Ramadhan dan dalam suasana Idul Fitri adalah “fitrah”. Dalam Alquran, kata “fitrah” disebutkan sebanyak 20 kali, dan terdapat dalam 17 surat, dan dalam 19 ayat, serta muncul dalam berbagai bentuk derivasi kata.

Satu ayat Alquran yang sangat jelas mengungkapkan tentang fitrah adalah firman Allah Swt, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30).

Dalam kontek Ramadhan dan Idul Fitri, seringkali kita mendengar, fitrah seringkali diartikan sebagai “suci”, namun di sisi lain lain, sebenarnya kata fitrah memiliki makna yang beragam, yaitu suatu ketetapan, kejadian asal manusia, agama, dan beberapa makna lainnya.

Dalam beberapa pembahasan di kalangan para ulama, fitrah juga dipahami sebagai potensi. Imam al-Ghazali memaknai fitrah sebagai “dasar” yang diperoleh manusia sejak lahir dengan beberapa keistimewaan seperti kemampuan dan kesediaan untuk menerima kebaikan, dan dasar kemampuan untuk menerima pengajaran dan Pendidikan.

Di sisi ini, fitrah adalah sebuah potensi dasar manusia yang memiliki sifat kebaikan dan kesucian utuk menerima ransangan (pengaruh) dari luar dalam mencapai kebenaran dan kesempurnaan. Jika fitrah dipahami sebagai potensi seperti ini, maka satu tanggung jawab kita dalam hal ini adalah memastikan bahwa (kondisi) fitrah yang sudah diperoleh dari tarbiyah Ramadhan berkekalan, dan berkembang secara wajar serta maksimal setelahnya.

Namun di sisi lain, Idul Fitri yang sejatinya adalah sebuah momen spesial yang memerlukan persiapan spiritual, seringkali dimaknai dan didominasi oleh persiapan material. Gemuruh persiapan Idul Fitri dari sisi material terkadang lebih terasa, dibandingkan dengan persiapan spiritual.

Secara hakikat, seharusnya menjelang Ramadhan berakhir, semakin intensif pula ibadah yang dilakukan (salah satunya dalam bentuk i’tiqaf). Namun pada kenyataannya, justru jumlah jamaah masjid di beberapa tempat semakin berkurang menjelang Ramadhan berakhir.

Pada saat yang sama, pusat keramaian, khususnya pusat-pusat perbelanjaan yang semakin ramai dan padat.

Persiapan materi
Fokus persiapan menyambut Idul Fitri menjadi terbelah, dan sayangnya seringkali persiapan materi seperti berbelanja baju baru, dan hal-hal lainnya yang serba baru lebih mengemuka. Indikasi ini terlihat dari membludaknya pasar menjelang Idul Fitri, penjualan kendaraan dan mobil baru yang laris manis, pembelian perabotan dan aksesoris rumah tangga yang baru menjadi agenda di beberapa keluarga.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved