Breaking News:

Pussy Riot yang Terobos Lapangan saat Final Piala Dunia Bukan Kelompok Punk Sembarangan

Tapi karena adanya kecaman dari dunia internasional, parlemen Rusia, Duma, akhirnya membebaskan mereka pada Desember 2013.

Independent
Kelompok punk Pussy Riot mengaku bertanggung jawab atas aksi masuk lapangan saat final Piala Dunia 2018 

Di sisi lain, Pussy Riot mendapat dukungan dari banyak pihak di dunia internasional.

Pejabat pemerintahan dari berbagai negara dan artis internasional mengkritik cara Pemerintah Rusia menangani Pussy Riot.

Mereka beranggapan Pemerintah Rusia kurang memiliki pengertian untuk seni dan kebebasan pendapat.

Dapat penghargaan internasional

Seperti disinggung di awal, karena aksi-aksinya, dunia internasional banyak yang melirik keberadaannya.

Pada November 2014 lalu, dua anggota Pussy Riot memenangkan Hannah Arendt Prize lantaran sikap politik mereka melawan pemerintahan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Hannah Arendt Prize sendiri merupakan ajang penghargaan yang dibuat untuk menghormati ilmuwan politik berdarah Yahudi, Hannah Arendt, yang lahir di Hanover, Jerman, pada awal abad ke-20.

Pada 2012, Nadezhda Tolokonnikova dan Maria Alyokhina dijatuhi hukuman kerja wajib di sebuah kamp penjara setelah melakukan pertunjukan di altar utama Katedral Kristus Juru Selamat, Moskow.

Baca: Gundukan Tanah Bertabur Bunga Muncul di Lapangan Bola, Saat Digali Ini Isinya

Pertunjukan yang mereka sebut sebagai “doa punk” itu bertepatan dengan kampanye kemenangan Vladimir Putin yang terpilih sebagai presiden Rusia.

Rencananya, keduanya akan dibebaskan pada 2014.

Halaman
1234
Editor: Fatimah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved