Opini
Penganiyaan terhadap Anak
BARU-BARU ini kita dikejutkan dengan berita penganiayaan seorang siswa sekolah menengah atas (SMA) yang dibunuh
Oleh Yelli Sustarina
BARU-BARU ini kita dikejutkan dengan berita penganiayaan seorang siswa sekolah menengah atas (SMA) yang dibunuh oleh siswa sekolah menengah kejuruan (SMK). Berita tersebut sontak menggegarkan dunia pendidikan, karena keduanya tercatat sebagai pelajar yang masih dalam kategori anak usia remaja. Lantas mengapa hal ini bisa terjadi di lingkungan pendidikan yang di dalamnya terdapat guru dan orang tua?
Peranan guru dan orang tua, ada baiknya kita tinjau ulang karena tugas orang tua dan guru tidak sekadar mendidik, tapi juga memahami apa yang dibutuhkan anak. Terkadang kita lupa akan hak-hak anak, sehingga apa yang dibutuhkan anak terlewatkan begitu saja. Oleh karena itu, pada setiap 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional.
Hal ini merupakan bentuk kepedulian terhadap anak, baik itu orang tua, guru, dan juga pemerintah dalam memberikan hak-hak anak. Segala kebutuhan dan keperluannya juga menjadi tanggung jawab mereka. Namun, tak jarang anak mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari orang dewasa walaupun sudah ada Undang-undang Perlindungan Anak.
Saat orang tua tersebut tidak mampu dan belum siap menjadi seorang ibu atau ayah, maka anak sering menjadi sasaran tempat pelampiasan amarah dari orang tua.
Tiga faktor pendorong
Dalam mendidik dan membimbing anak, para orang tua sering disulitkan dengan tingkah dan ulah yang diperbuat anak, sehingga tak jarang para orang tua menghukum anak yang mengakibatkan trauma pada anak. Tanpa disadari tindakan tersebut merupakan tindakan yang salah pada anak, sehingga berujung ke penganiayaan terhadap anak. Penyebab dari penganiayaan anak belumlah diketahui pasti, tapi terdapat tiga faktor yang menjadi pendorong sehingga terjadinya penganiayaan fisik pada anak.
Pertama, karakteristik dari orang tua yang memiliki kecenderungan untuk melakukan penganiayaan. Kebanyakan dari mereka ialah orang yang pernah mengalami penganiayaan ketika kecil, ataupun pernah melihat bentuk penganiayaan yang dilakukan orang tua kepada saudara-saudaranya. Orang tua seperti ini berpotensi besar dalam melakukan penganiayaan karena mereka menjadikan tindakan kekerasan sebagai cara untuk melampiaskan emosi dan menghukum anak-anak mereka.
Kedua, karakteristik anak juga ikut andil dalam menyebabkan terjadinya situasi penganiayaan karena setiap anak tentu memiliki karakteristik yang berbeda. Anak yang bertempramen sulit memiliki risiko lebih besar terhadap penganiayaan dibandingkan anak yang bertempramen mudah. Ciri-ciri anak yang bertepramen sulit yaitu, hiperaktif, susah diatur, dan memiliki emosi mood yang negatif seperti menangis tanpa alasan yang jelas dan cenderung menarik diri. Perilaku anak seperti ini dapat memancing emosi orang tua yang berakibat pada penganiayaan pada anak.
Ketiga, karakteristik lingkungan. Penganiayaan anak dapat disebabkan oleh lingkungan yang tidak kondusif, seperti perceraian orang tua, kemiskinan, dan kondisi tempat tinggal. Orang dewasa di sekitar anak yang terlibat masalah dapat menjadi pelaku kekerasan pada anak, karena ketidakmampuan mereka dalam menyalurkan emosinya.
Kasus kekerasan pada anak diibaratkan seperti gunung es, hanya sebagian kecil yang tampak ke permukaan, tapi jika ditelusuri lebih dalam banyak kasus kekerasan yang terjadi pada anak, baik itu di kota maupun di desa.
Masih ingat kasus Diana yang diperkosa dan dibunuh oleh pamannya sendiri? Kasus Angeline, gadis kecil yang diduga dibunuh oleh pembantu dan ibu angkatnya? Dan kasus kekerasan yang terjadi di sekolah bertaraf internasional yaitu Jakarta Internasional School (JIS)?
Kasus kematian Diana, gadis enam tahun yang diperkosa dan di bunuh oleh pamannya, sempat menuang aksi simpati masyarakat Aceh di tahun 2013. Bagaimana tidak, kasus-kasus yang ditemukan bukan saja penganiayaan dari orang tua sebagai orang yang sering berinteraksi dengan anak, tapi juga mereka yang berada diluar rumah dan bukan anggota keluarga. Kalau dulu kita sering mendengar seorang ibu yang menyiramkan air panas pada bayinya, mengunci dan merendam anak di kamar mandi, tapi sekarang penganiayaan anak telah terjadi di luar rumah seperti sekolah.
Kekerasan pada anak
Kekerasan terhadap anak adalah tindak kekerasan yang dilakukan baik secara fisik, seksual, penganiyaan emosional, dan pengabaian terhadap anak. Pelaku kekerasan umumnya dilakukan oleh orang-orang terdekat anak, seperti orang tua, saudara, paman, kakek, tetangga, teman, dan lainnya. Tindakan kekerasan terjadi disebabkan oleh kurang sabarnya orang tua dalam mendidik anak dan adanya kesempatan bagi pelaku tindakan kekerasan.
Pada dasarnya terkadang anak sering membuat masalah yang memicu kekesalan pada orang tua. Hal ini merupakan suatu yang wajar karena mereka belum mampu menyeimbangkan emosi dan pemikirannya pun masih dalam proses pembelajaran. Maka dibutuhkan dampingan orang tua supaya anak bisa berprilaku baik.
Namun, jika cara pendampingan anak itu menggunakan kekerasan, maka anak akan mengalami ketakutan dan trauma pada dirinya. Ketakutan dan trauma tersebut menghantar mereka menjadi anak yang pendiam, sulit berinteraksi, mempunyai harga diri yang rendah, atau malah sebaliknya akan menjadi anak yang suka berkelahi, tauran, dan bisa melakukan tindakan kekerasan kepada orang lain.
Seperti halnya kasus kekerasan pada remaja yang dijelaskan di awal tulisan ini. Perlu dikaji lebih lanjut apa yang menjadi latar belakang pelaku sampai bisa menghabisi nyawa orang lain. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan anak, karena anak bukanlah miniaturnya orang dewasa yang bisa berpikir dan bertindak layaknya orang dewasa.
Saat anak melakukan kesalahan, bukan berarti dia harus dihukum, tapi ada bimbingan khusus agar anak mengerti benar dan salah atas perilakunya. Jangan sampai kesalahan yang diperbuat anak memperburuk perilakunya, karena hukuman yang tak sepantasnya.
Selamat Hari Anak Nasional 2018.
* Ns. Yelli Sustarina, S.Kep., alumnus Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, aktif di Forum Aceh Menulis (FAMe), Gam Inong Blogger, dan Steemit Indonesia. Email: yellsaints.paris@gmail.com