13 Tahun MoU Helsinki, Kisah Apa Karya dan Pasukan GAM Menunggu Utusan CMI di Belantara Aceh
Pria yang akrab disapa Apa Karya ini ditugaskan mengumpulkan minimal satu kompi (100 orang) personel GAM yang dilengkapi dengan seragam dan senjata
Penulis: Zainal Arifin M Nur | Editor: Muhammad Hadi
Jika saat itu Apa Karya tidak bisa menunjukkan satu kompi pasukan GAM bersenjata lengkap kepada utusan yang dikirim oleh CMI, maka dipastikan MoU Damai itu tidak akan pernah terwujud.
Baca: 12 Tahun Damai, Apa Karya: Taharap Keu Pageu, Keubeu Dipajoh Pade

“Saat itu, naskah MoU belum ditandatangani. Pak SBY dan Pak Kalla (Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla) memerintahkan kepada delegasi Indonesia, jangan teken dulu. Harus ada yang pergi ke Aceh, apakah benar GAM punya pasukan bersenjata lengkap. Jumpai mereka, pastikan mereka tahu tentang ini,” ungkap Apa Karya, saat dihubungi Serambinews.com, Rabu (15/8/2018).
Hari itu, tanggal 14 Agustus 2005, kata Apa Karya, dirinya yang sedang berada di belantara Aceh, mengumpulkan satu kompi (100 personel) GAM wilayah Pidie, untuk menuju ke titik yang telah ditentukan.
“Titik itu adalah puncak tertinggi gunung di wilayah Pidie,” ungkap Apa Karya.
Baca: VIDEO Apa Karya Bertanya ke Zaini, Kenapa Keseringan Ganti Pejabat?
Ia menyebutkan, di antara petinggi pasukan GAM yang ikut bersamanya adalah, Kamaruddin Abubakar (Abu Razak) kini Wakil Ketua Komisi Peralihan Aceh (KPA), Ilyas Kumis alias Ilyas Keumala, dan Husen Brimob alias Husen Mob.
Saat itu, lanjut Apa Karya, dia bersama sekompi pasukan GAM diliputi kecemasan dan ketakutan, karena bisa saja masuk perangkap pemerintah Indonesia.
“Waktu itu Kopassus sangat banyak dan mereka sangat ahli dalam menjebak musuh,” ujarnya.
Baca: Peringati 12 Tahun MoU Helsinki, Ini Kegiatan Mantan GAM di Aceh Barat
Namun, keyakinan dan keinginan untuk melahirkan perdamaian di Aceh membuat Apa Karya menyingkirkan jauh-jauh pikiran negatif dari pasukan yang dibawanya.
Setiba di lokasi yang disepakati melalui telepon dengan pemimpin GAM yang sedang berunding di Helsinki, Finlandia, Apa Karya dan personel GAM membersihkan semak belukar serta memasang bendera GAM, untuk menunggu kedatangan tim yang dijanjikan oleh para perunding di Helsinki.
Kenapa Apa Karya hanya membawa pasukan Pidie? Apa Karya menyebut ini karena faktor keamanan.
Baca: Kisah Tercecer 11 Tahun MoU Helsinki
Saat itu pasukan wilayah lain tetap berada di posisi masing-masing.
Tidak mungkin dikumpulkan semuanya, karena pertimbangan keamanan dan stategi perang.
Bahkan, lanjut Apa Karya, pasukan di Pidie pun tidak semuanya ikut, tapi hanya satu kompi, di mana Abu Razak (Kamaruddin Abubakar) yang kala itu menjabat Komandan Operasi GAM ikut serta bersamanya.
“Bak tapike jitren awak barat (utusan CMI) meu jitren teuk Kopassus, abeh teuh bandum (Berharap yang datang utusan CMI, ternyata yang tiba adalah pasukan Kopassus, hancurlah semuanya),” kata Apa Karya sambil tertawa, mengenang masa-masa kritis tersebut.
Baca: Ini Kisah Mengharukan, Akhir Perjalanan Hidup Sang Deklarator GAM Hasan Tiro
Sesuai janji, lanjut Apa Karya, pada pukul 09.00 WIB, sebuah helikopter mendarat di titik yang dijanjikan.
Helikopter itu membawa tiga utusan dari CMI, yaitu Pieter Feith, Jaakko Oksanen, dan Juha Cristensen (ketiganya kemudian menjadi bagian penting dalam Aceh Monitoring Mission).