Opini
Teologi Bencana
SETIAP bencana ada saja pihak yang mencari sebab dan untuk siapa bencana ditujukan
Oleh Teuku Dadek
SETIAP bencana ada saja pihak yang mencari sebab dan untuk siapa bencana ditujukan? Ujungnya, Tuhanlah yang dijadikan pokok dan poros sebagai kekuatan yang menyebabkan bencana terjadi. Awal tsunami 2004, banyak pihak yang mencari jawaban mengapa Aceh ditimpa bencana? Mereka yang berasal dari luar Aceh melontarkan komentar menyakitkan di tengah masyarakat yang sedang linglung, bingung dan tak berdaya, yang baru keluar dari lubang maut gempa dan tsunami.
Beberapa waktu kemudian, bencana besar terutama gempa dan tsunami bukan hanya berkunjung ke Aceh, tetapi juga terjadi di Panggadaran, Yogja dan yang terakhir di Lombok. Adakah bencana itu ditujukan kepada kelompok tertentu, daerah tertentu? Ternyata tidak, siapa pun ia, dari mana pun asalnya, bencana tidak pandang bulu.
Tidak mudah menjawab penyebab bencana dengan jawaban teologis, sebab jawabanya akan saling kontradiktif, misalnya dengan mengatakan gempa dan tsunami Aceh disebabkan hukuman Tuhan karena meluasnya maksiat di Aceh, tentu sangat kontraproduktif dengan apa yang terjadi dengan Surabaya dan Jakarta lebih berhak ditimpa bencana karena semua maksiat melebihi kualitas dan kuantitas kemaksiatan di Aceh.
Tentu sebagaimana manusia biasa, pasti terguncang, salah pikir menyaksikan ribuan kematian, kesengsaraan yang ditimbulkan oleh bencana. Apalagi jika kita menyaksikan ribuan kematian mereka yang saleh, miskin, hidup penuh kedukaan sebagaimana gempa di Pakistan (Tempo; Catatan Pinggir, Gunawan Muhammad), maka Tuhanlah yang akan dipilih sebagai sandaran.
Tiga jawaban
Paling tidak ada tiga jawaban yang akan diberikan, jika bencana menimpa sebuah komunitas atau masyarakat. Pertama, aliran teology disaster prepecktive, yaitu wacana yang menjawab bahwa bencana itu diturunkan oleh Tuhan untuk mengazab korban bencana. Dengan kata lain, gempa dan tsunami di Aceh dan juga beberapa tempat lain adalah azab Tuhan kepada perilaku umat manusia yang sudah meluas dan mendalam terhadap kejahatan, baik politik, kultural dan personal sehinga bencana adalah obat pembersihnya.
Jadi bencana adalah remedial effort untuk mengembalikan etik dalam masyarakat. Aliran ini berpendapat bahwa bencana adalah setiap iradah Tuhan yang tersembunyi untuk membersihkan bumi dari para pengingkar dan Tuhan ingin manusia kembali ke jalannya.
Pandangan dan jawaban pertama ini menempatkan Tuhan dan korban bencana sebagai dua objek amatan dalam sebuah drama yang sangat dramatis (vision on conflic) sedangkan yang mengamati, memposisikan dirinya sebagai seorang yang benar, bersih dan Tuhan dianggap sayang pada dirinya dan sedang marah kepada korban bencana.
Apa yang menjadi dasar mereka memberikan jawaban seperti ini? Yang pertama mereka sangat terpengaruh dan salah memahami proses penghukuman dalam kitab suci, terutama dari agama samawi tentang azab. Sebab jika kita mengambil kisah kisah yang memberi pelajaran dalam peristiwa dramatis antara rasul-pengikut, Tuhan-kitab suci dan pengingkar-hujah bantahan, maka terminologi “bencana untuk azab” perlu kita selidiki pandangan kitab suci itu terhadap terminologi azab.
Dalam Alquran peristiwa yang paling awal adalah banjir Nuh yang sangat luas dan tidak diketahui sumber airnya; Sodom dan Gomorah dengan menjungkir-balikkan bumi; Kaum Tsamud dengan petir dan gempa bumi serta batu yang tidak diketahui asalnya; kaum Ad dengan angin yang dahsyat disertai bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir; Kaum Syuaib dengan hawa panas yang teramat sangat, kendati mereka berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas; Fir’un ditenggelamkan setelah laut dibelah; Kaum Sabbat menjadi kera dan kejadian kaum lainnya yang jenis bencananya tidak pernah dikenal masa itu, dan tidak pernah terjadi di kemudian hari.
Dengan demikian, bencana berupa azab dalam Alquran disertai dengan kondisi awal dan syarat. Pertama, sebelum Allah Swt mengazab satu kaum, maka terlebih dulu mengirimkan seorang pemberi peringatan (orang saleh, Nabi dan Rasul) untuk memberikan peringatan bahwa setiap penolakan terhadap kebenaran akan berujung kepada azab yang berat dan pedih. Dan, kedua, bencana berupa azab itu tidak dikenal dalam sejarah mereka dan tidak pernah dijatuhi Allah Swt sampai masa penutupan kenabian. Banjir Nuh tidak pernah terjadi sebelumnya dan sesudahnya, azab kaum Soddom dan Gomorah juga demikian.
Kedua, berpikir general. Dalam filsafat pemikiran berpikir general adalah sebuah bentuk awal dari kegilaan. Misalnya, Anda mengatakan bahwa semua anggota suatu kaum itu adalah penipu atau gila serta tidak dapat dipercaya hanya gara-gara Anda pernah ditipu oleh anggota grup tersebut adalah sebuah generalisasi yang menandakan Anda seorang pengambil keputusan dengan pramagtis dan cenderung mendekati kegilaan karena malas dalam berpikir sebab tidak semua anggota kelompok sebagaimana digambarkan, mungkin ada satu dua orang penipu yang lain bukan. Generalisasi inilah yang menyebabkan aliran ini beranggapan bahwa setiap bencana adalah azab Tuhan.
Aliran kedua adalah naturalogi disaster prepecktive dimana aliran ini memberi jawab bahwa bencana itu terjadi karena dua sebab pertama karena kita memang tinggal di atas bumi yang menyimpan potensi bencana seperti gempa dan tsunami, dan juga karena kita hidup dibawah langit yang menyimpan potensi meteor, badai dan lain sebagainya. Sedangkan sebab kedua adalah ulah tangan manusia yang telah menimbulkan banyak kerusakan di laut dan darat demikian Alquran (QS. Ar-Rum: 41).
Aliran kedua ini menempatkan bahwa alamlah yang besar berkontribusi terhadap bencana yang tidak bisa dicegah dan manusia hanya diberikan ruang untuk kesiapsiagaan saja. Bencana geologis, hydro seperti gempa, tsunami, topan, belum ada tehnlogi yang mampu mencegah bencana itu terjadi, yang ada manusia harus melakukan upaya mitigasi saja. Kemudian aliran ini mengangap kesalahan bencana yang terjadi karena ulah tangan manusia dan ini juga ditegaskan oleh Allah Swt dalam Alquran. Aliran ini juga berkeyakinan bahwa bencana itu bersifat sekuler.
Dan, ketiga, escatology disaster prepecktive adalah melihat bencana dalam pandangan kekinian dan jauh ke depan. Bencana terjadi karena faktor alam dan ulah tangan manusia, namun manusia dapat menunda terjadinya bencana yang tidak dapat dicegah dengan cara memafaatkan peluang yang disampaikan kitab suci, seperti melaksanakan secara kaffah perintah agama dan menjauhkan semua larangan-Nya (amar ma’ruf nahi munkar). Aliran ini memandang bahwa setiap bencana memberikan hikmah dan nikmat di balik pertiriswa yang ada.
Dalam perspektif Alquran dikatakan bahwa “jika engkau bersyukur maka kami akan menambah nikmat, jika engkau kufur maka azab Kami sangat pedih.” Ayat ini memberikan gambaran kepada kita bahwa azab ada kaitan erat dengan sikap individu dalam bersyukur dan berterima kasih, serta menikmati rahmat yang ada. Aliran ini yakin bahwa bencana bersifat natural dan sekuler, namun sekaligus bisa diminta campur tangan Tuhan untuk meredakan kondisi alam yang berpotensi bencana.
Ilustrasi yang paling sederhana dari alairan ini adalah shalat Istisqa (shalat minta hujan). Kemarau panjang menyebabkan kekurangan air, sedangkan masa penghujan melimpahnya air, sehingga dilakukanlah upaya menabung air di masa sulit untuk kepentingan menghadapi alam. Namun upaya menabung air ini pun tidak mampu merentang masa kemarau itu, maka Islam menawarkan shalat Istisqa. Banyak upaya dilakukan untuk mengurangi risiko bencana ini lewat doa bersama, meningkatkan kasih sayang sesama muslim, memakmurkan masjid, dan lain sebagainya.
Meningkatkan kesadaran
Karenanya, beda dalam memahami sebab bencana membuat masyarakat beda dalam meningkatkan kesadaran dan budaya bencananya. Aliran teologis akan membuat masyarakat tergantung dengan apa yang terjadi, sedikit upaya mereka untuk sadar bahwa mereka berada di bumi yang ada potensi di atasnya. Seharusnya mereka berupaya untuk menyikapi dengan sikap dan sudut kerja budaya kesiapsiagaan. Kejadian gempa dan tsunami 2004 lalu, belum cukup kuat untuk meningkatkan kesadaran dan budaya bencana masyarakat Aceh.
Aliran kedua natural memberikan kesadaran penuh bahwa peradaban manusia harus dibangun tangguh untuk menghadapi bencana, termasuk manusianya harus berperilaku sesuai dengan potensi bencana yang ada di sekelilingnya. Misalnya masyarakat Jepang, dengan bencana gempa dan tsunami yang sering mereka alami, membuat mereka lebih ulet, disiplin dan tangguh dalam menghadapi bencana yang ada.
Aliran eskatologis menjadikan masyarakat sadar akan potensi dan budaya bencana yang harus dilakukannya, namun mereka juga bergantung kuat kepada Allah Swt untuk menjauhkan bala bencana, dengan mempersiapkan diri sekaligus memohon perlindungan yang kuasa. Inilah yang dilakukan umat Islam pada masa Rasulullah saw. Kita masih ingat bagaimana Umar mengirim surat kepada Sungai Nil agar patuh pada perintahnya; ketika Umar memukul bumi memerintah gempa untuk berhenti; Rasullulah juga mampu berperang dengan pasukan yang sedikit dengan kesiapan mental yang kuat (mitigasi), dan berdoa kepada Allah Swt agar membantu pasukan yang sedikit itu dengan para malaikat.
* Teuku Dadek, Kepala Pelaksana Badan Penganggulangan Bencana Aceh (BPBA). Email: tadadek@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/gempa-pijay_20161207_180648.jpg)