Jurnalisme Warga

Pendidikan Aceh: Sinergi dan Optimis Pascabencana

Aceh dengan 18 kabupaten/kota terdampak bencana melalui Keputusan Gubernur kembali memperpanjang masa tanggap darurat

Editor: mufti
for serambinews/IST
IWAN DOUMY, S.Pd., Guru SMA Negeri 1 Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh 

IWAN DOUMY, S.Pd., Guru SMA Negeri 1 Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

Telah hampir dua bulan sejak bencana hidrometeorologi melanda Sumatra, mencakup Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pada  akhir November lalu.

Aceh dengan 18 kabupaten/kota terdampak bencana melalui Keputusan Gubernur kembali memperpanjang masa tanggap darurat hingga 8 Januari 2026.

Berdasarkan data Pos KomandoTanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh tanggal 13 Januari 2026, jumlah korban terdampak mencapai 2,5 juta jiwa, dan 155.193 jiwa atau 40.800 di antaranya KK masih mengungsi. Jumlah yang meninggal dunia 544 jiwa dan hilang 31 jiwa.

Sebelumnya, pada 27 Desember lalu, mencapai 278.809 jiwa korban yang masih berada di 1.008 titik lokasi pengungsian di Aceh.

Bencana ini juga telah meluluhlantakkan fasilitas pendidikan sehingga proses belajar mengajar tidak bisa dilaksanakan.

Menurut data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) per 14 Desember 2025, sekolah terdampak bencana di tiga provinsi tersebut berjumlah 3.274 sekolah. Di Provinsi Aceh, data Pos Komando menyebutkan bahwa sekolah yang terdampak berjumlah 643 sekolah dan 669 pesantren.

Masih data dari Kemendikdasmen menyebut bahwa jumlah murid yang terdampak secara keseluruhan di tiga provinsi, semua jenjang, mencapai 276.249 jiwa.

Data di atas menggambarkan kondisi sektor pendidikan yang sangat memprihatinkan, mengingat pada 5 Januari 2026 lalu proses belajar-mengajar (PBM) semester genap sudah dimulai.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan bahwa 65 persen sekolah di Aceh siap untuk beroperasi pada 5 Januari 2026.

Walaupun demikian, kondisi pemulihan PBM menjadi normal tidak serta-merta bisa terwujud. Ketersediaan prasarana dan sarana belajar, kesiapan fisik guru dan murid yang mungkin masih di pengungsian, serta kesiapan mental/psikososial adalah di antara tantangan proses pemulihan PBM.

Perlambatan akademik

Dalam sebuah riset dampak gempa di Pakistan tahun 2005 oleh Tahir Andrabi, Benjamin Daniels, dan Jishnu Das dengan judul “Human Capital Accumulation and Disasters”  menemukan dampak bencana pada murid, di antaranya, nilai ujian yang terdampak gempa tertinggal 1,5 hingga 2 tahun dari teman-teman sebayanya di wilayah yang tidak terdampak gempa.

Gangguan (disrupsi) belajar yang dialami murid adalah konsekuensi logis dari penyelenggaraan PBM dalam situasi darurat dan pemulihan pascabencana.

Ruang kelas darurat sering kali tidak memenuhi standar kenyamanan sehingga berdampak pada guru dan murid untuk konsentrasi dalam PBM.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved