Gempa Palu Sulawesi Tengah

Peneliti LIPI: Gempa Itu Tidak Acak, Manusia Bisa Menguak Polanya

Namun seperti dalam bidang lainnya, manusia mungkin bisa melawan keterbatasannya dalam memprediksi gempa.

Editor: Faisal Zamzami
Lumpur yang keluar dari perut bumi pasca-gempa bermagnitudo 7,4 menenggelamkan rumah-rumah di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah.(KOMPAS.com/ROSYID A AZHAR) 

“Angka itu kita belum tahu plus minusnya, bisa jadi lebih cepat 50 tahun bisa jadi lebih lambat ratusan tahun. Tapi yang kita tahu pasti terakhir terjadi tahun 1909 dan kejadian gempa bumi tua lainnya,” kata Mudrik.

Ke depannya ia berharap dapat melakukan penelitian untuk dapat mendapatkan rentang waktu yang lebih sempit dari plus dan minusnya gempa terjadi.

Di sini, Mudrik menekankan perlunya riset sejarah gempa.

Menurutnya itu perlu karena dalam kondisi tak bisa memprediksi, manusia setidaknya dapat mengetahui polanya sehingga bisa dijadikan modal tambahan dalam menghadapi bencana.

“Harapannya penelitian akan lebih banyak lagi, di-support dengan sistem yang lebih solid, fasilitas dan sumber daya manusia yang lebih serius untuk menyelesaikan puzzle bencana gempa bumi di Indonesia untuk mengetahui lebih rinci karakteristik sehingga bisa diberikan prediksi yang lebih baik lagi,” pungkas Mudrik.(*)

Baca: Kisah Pramugari Garuda Selamatkan Diri dari Tsunami Palu, Air Sempat Surut Tapi Kembali Naik

Baca: Banda Aceh Resmi Terima 273 CPNS, Ini Jadwal Seleksinya

Baca: Asrama Ponco bukan Milik Pemerintah Aceh, Begini Penjelasan Juru Bicara

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "LIPI: Gempa Itu Tidak Acak, Manusia Bisa Menguak Polanya"

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved