Direktur RSUCND dan Direktur RS Montela di Meulaboh Jadi Tersangka, Ini Kasusnya

"Kasus dugaan pencemaran limbah medis sudah kita tingkatkan status dan sudah ditetapkan tersangka,”

Direktur RSUCND dan Direktur RS Montela di Meulaboh Jadi Tersangka, Ini Kasusnya
TRIBUNNEWS.COM
Ilustrasi 

Laporan Rizwan | Aceh Barat

SERAMBINEWS.COM, MEULABOH - Polres Aceh Barat menetapkan Direktur Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien (RSUCND) dr F dan Direktur Rumah Sakit (RS) Montela, S di Meulaboh Aceh Barat sebagai tersangka.

Keduanya ditetapkan menjadi tersangka setelah menjalani pemeriksaan di Mapolres pada Kamis (11/10/2018) dalam kasus dugaan pencemaran limbah medis di dua rumah sakit milik pemerintah dan swasta tersebut.

Sementara Direktur Rumah Sakit Harapan Sehat, dr TR yang dilaporkan pada Kamis juga akan diperiksa belum memenuhi panggilan penyidik Polres juga dalam kasus dugaan pencemaran limbah medis di rumah sakit swasta tersebut karena masih berada di luar Aceh.

Baca: Limbah Proyek Geotermal Jaboi Sabang Cemari Lingkungan, Sumber Air Bersih Pun Terkena Dampak

Penetapan tersangka terhadap Direktur RSUCND dan Direktur RS Montela disampaikan Kapolres Aceh Barat AKBP Raden Bobby Aria Prakasa SIK melalui Kasat Reskrim Iptu M Isral SIK didampingi KBO Reskrim Ipda P Pangabean kepada wartawan di Mapolres, Kamis (11/10/2018).

"Kasus dugaan pencemaran limbah medis sudah kita tingkatkan status dan sudah ditetapkan tersangka,” kata Pangabean.

Dikatakannya untuk Direktur RSUCND diperiksa pada siang hari dan Direktur RS Montela diperiksa pada pagi dan keduanya diperiksa sebagai tersangka setelah sebelumnya dilayangkan pemanggilan.

Baca: Limbah Rumah Sakit Diduga Meluap ke Jalan

“Setelah ditetapkan tersangka. Namun keduanya tidak ditahan karena ancaman hukuman di bawah 5 tahun penjara,” katanya.

Dikatakannya kasus tersebut ditingkatkan ke penyidikan karena dalam pengelolaan limbah medis di rumah sakit tidak sesuai aturan berlaku.

Serta adanya laporan masyarakat terkait limbah medis sehingga polisi dalam mengusut kasus tersebut selain memeriksa pihak-pihak terkait dalam kasus ini juga saksi ahli dari Universitas Sumatera Utara (USU).

Menurutnya kedua tersangka dijerat Pasal 59 Ayat 4 jo Pasal 102 dan atau Pasal 59 jo Pasal 103 Undang-undang (UU) Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 

Ancaman hukuman penjara dalam kasus tersebut selama 3 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 3 miliar dan paling sedikit Rp 1 miliar. (*)

Penulis: Rizwan
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved