Mengenal Prof Dr Teuku Jacob, Ilmuwan Manusia Purba Indonesia dari Aceh
“Beliau seorang ahli paleontropologi dari Aceh yang mendedikasikan ilmu dan umurnya untuk meneliti manusia purba,” kata Iwan Setiawan Bimas
Penulis: Yusmadi | Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM, SOLO – Kamis, (1/11/2018), rombongan peserta Tribun Editor Development Program (TEDP) 2018 Solo berkesempatan mengujungi Museum Manusia Purba Sangiran, di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Dalam rombongan termasuk Editor Serambinews.com, Yusmadi Yusuf.
Dari kantor Tribunnews.com, di Solo, rombongan TEDP 2018 menyusuri jalanan pedesaan sejauh sekitar 17 Km.
Baca: Lebih Dulu Nabi Adam atau Manusia Purba? Ini Jawaban Quraish Shihab
Lokasi situs Sangiran luasnya mencapai 59 Km2 yang mencakup Kecamatan Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh di Kabupaten Sragen.
Selain itu juga masuk Kecamatan Gondangrejo di Kabupaten Karanganyar.
Memasuki kawasan Situs Warisan Dunia UNESCO ini, hawa panas begitu memuncak. Sawah-sawah tadah hujan, dan pohon-pohon yang daunnya berguguran menghiasi jalanan menuju museum.
Rumah-rumah penduduk nan tampak berjejer di sepanjang jalan. Hawa sejuk baru terasa saat memasuki pintu gerbang museum.
Baca: Kerangka Manusia Purba di Anjungan Aceh Tengah
Kawasan itu memang bukan kawasan sejuk, karena Situs Sangiran berada di dalam kawasan Kubah Sangiran yang merupakan bagian dari depresi (penurunan permukaan tanah) Solo yang berada di kaki Gunung Lawu.
Kepala Seksi Pemanfaatan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Iwan Setiawan Bimas menyambut rombongan dalam ruangan khusus.
Ketua Rombongan, Krisna Sumargo memperkenalkan peserta rombongan dari seluruh Tribun di seluruh Indonesia.
Iwan Setiawan Bimas kemudian mempresentasikan sejarah dan kekayaan yang terkandung di Situs Manusia Purba Sangiran.
Baca: Ternyata Manusia Purba Hobi Gelantungan dan Panjat Pohon
Film singkat tentang sejarah manusia purba di Tanah Jawa diputar, sebelum memasuki sesi tanya jawab dengan para peserta TEDP.
Serambinews.com yang berkesempatan hadir mencoba menelusuri asal usul sebuah nama yang terpampang sebagai nama ruangan pertemuan para tamu museum.
Tertulis, Prof Dr Teuku Jacob.
Penasaran dengan nama yang identik dengan Aceh.
Baca: Gua Manusia Purba Ditemukan
Serambinews.com lantas menanyakan kepada Kepala Seksi Pemanfaatan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Iwan Setiawan Bimas.
Ternyata benar.
“Beliau seorang ahli paleontropologi dari Aceh yang mendedikasikan ilmu dan umurnya untuk meneliti manusia purba,” kata Iwan Setiawan Bimas.
“Beliau juga pernah memanggul senjata selama perang kemerdekaan di Kutaraja (Banda Aceh),” tambah Iwan.
Baca: Pasangan Manusia Purba Memeluk Batu
Menyusuri ke dalam museum, sebuah potret dan penjelasan singkat tentang Prof Dr Teuku Jacob terletak di sudut sebuah ruangan.
Ia disebut lahir di Peureulak, Aceh 6 Desember 1929.
Setelah lulus sekolah menengah, Jacob belajar ilmu kedokteran di Universitas Gadjah Mada yang diselesaikan pada tahun 1956.
Sejak itu ia tertarik mendalami manusia purba, dan menjadi pakar Indonesia pertama di bidang ini.
Baca: Peserta Ujian CAT SKD Minim yang Lulus, Ini Tanggapan Kepala BKN Aceh
Ia pernah belajar di University of Arizona dan Howard University di Amerika.
Selanjutnya, ia mendalami manusia purba di Rijksuniversiteit di bawah bimbingan dua tokoh paleontropologi dunia, G.H.Rvon Koeningswald W. Montaigne Cobb.
Penelitiannya antara lain, mencoba menelusuri hubungan antar berbagai manusia purba di Indonesia untuk melacak asal-usul bangsa ini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/museum-manusia-purba-sangiran-di-kabupaten-sragen-jawa-tengah_20181103_225947.jpg)