Kamis, 11 Juni 2026

Opini

Cut Nyak Dhien

PADA 6 November 2018 lalu, genap 110 tahun wafatnya pahlawan Nasional, Cut Nyak Dhien (1848-1908). Beliau adalah satu dari sekian banyak perempuan Ace

Tayang:
Editor: hasyim
Foto/Mayor Inf Aris NL Kodam III/Siliwangi
Mahasiswa dari delapan perguruan tinggi dan akademi swasta se Jawa Barat, berkunjung ke makam pahlawan Nasional asal Aceh Cut Nyak Dhien, di Gunung Puyuh, Desa Suka Jaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Minggu (5/2/2017). Makam pahlawan Aceh tersebut merupakan salah satu situs wisata sejarah. 

 (Inspirasi bagi Perempuan Aceh)

Oleh Murni

PADA 6 November 2018 lalu, genap 110 tahun wafatnya pahlawan Nasional, Cut Nyak Dhien (1848-1908). Beliau adalah satu dari sekian banyak perempuan Aceh yang perkasa yang sudah dikenal dunia, baik nama, foto asli, bahkan film yang dirilis oleh Sutradara Eros Djarot pada 1988 silam. Ia adalah The Queen of Aceh Battle (Ratu Perang Aceh), yang berjuang mati-matian melawan Belanda pada masa Perang Aceh, hingga menghembuskan nafas terakhir pada 6 November 1908, di daerah pengasingan yang jauh dari tanah kelahirannya dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.

Perang Aceh (1873-1904) telah melahirkan perempuan-perempuan perkasa berhati baja, tidak hanya diakui oleh bangsanya, tapi juga musuhnya. Belanda menyebutnya sebagai Grandes Dames (Wanita-wanita besar) yang perannya melebihi kaum pria. Beberapa sejarawan Belanda mengutarakan seperti Van der Pol dalam satu kalimat, Een der merkwaardigste vrouwen in Nederlandsche Indie (Seorang wanita yang ajaib di Hindia Belanda).

H.C. Zentgraff, penulis Belanda dalam buku Atjeh menyebut perempuan-perempuan perkasa itu sebagai De leidster van het verzet, para pemimpin perlawanan yang memegang peranan besar dalam perpolitikan dan peperangan. Zentgraaf menulis, “Keberanian wanita Aceh dalam mempertahankan cita-cita bangsa dan agamanya. Ia rela hidup dalam perang dan melahirkan putra-putrinya di situ. Ia berperang bersama suaminya, kadang-kadang di samping, di hadapan, atau di tangannya yang kecil dan halus, kelewang dan rencong dapat menjadi senjata yang berbahaya.”

Cut Nyak Dhien lahir pada 1848 di Lampadang, Aceh Besar, merupakan putri seorang bangsawan dan ayahnya bernama Teuku Nanta Setia, yang menjabat sebagai Uleebalang VI Mukim. Cut Nyak Dhien memperoleh pendidikan agama Islam yang kuat sejak kecil dan juga didukung oleh suasana lingkungannya. Ia mendapat pengajaran khususnya pendidikan agama Islam dari ulama-ulama di wilayah kekuasaan ayahnya. Maka tidak heran jika ia mahir menghafal Alquran, dan juga cerdas dalam strategi perang.

Di samping itu, orang tuanya mengajarkan ia bagaimana menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik. Mulai dari memasak, mengurus suami, serta melakukan hal-hal kecil lainnya, terkait kehidupan rumah tangganya. Cut Nyak Dhien dikarunia oleh Allah Swt dengan paras wajah yang cantik, sehingga banyak pemuda terpikat dan ingin melamarnya kala itu. Yang lebih mengagumkan lagi, Cut Nyak Dhien benar-benar memiliki tingkat kedisiplinan yang luar biasa, serta idealisme pantang menyerah.

Sehingga tidak heran pada saat dewasa benar-benar, ia telah membuktikan dirinya menjadi seorang wanita yang tabah, tangguh, teguh pendirian, tawakkal, ibu rumah tangga yang baik, panglima perang dan memiliki keimanan yang tinggi. Walaupun di usianya yang sudah tua, mata buta, penyakit lainnya yang ia derita, kekurangan makanan dan kehabisan harta akan tetapi tetap memiliki mental baja dan semangat beragama yang tetap menggelora di dalam dada hingga akhir hayatnya.

Membicarakan sosok Cut Nyak Dhien beserta kiprahnya demi agama dan bangsa yang sangat dicintainya seperti tidak pernah habis-habisnya. Apabila melihat kondisi kaum hawa di Aceh saat ini, sepertinya sulit mencari sosok yang sepadan dengannya. Namun paling tidak kaum remaja putri di Aceh bisa menjadikan Cut Nyak Dhien sebagai contoh teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Patut diteladani
Ada beberapa hal yang patut dijadikan teladan dan inspirasi bagi kaum remaja putri di Aceh, yaitu: Pertama, memperdalan ilmu agama Islam. Walaupun Cut Nyak Dhien berasal dari keturunan bangsawan dan terhormat namun, Ia tetap memiliki semangat yang tinggi dalam mempelajari ilmu Agama Islam dan mahir menghafal Alquran sejak dari kecil. Kedua, menjadi ibu rumah tangga yang baik. Hal ini haruslah ditanamkan dalam diri kita hingga menginjak usia yang sudah mapan. Jika dilihat, masih kurang kepedulian dan kesadaran remaja putri saat ini untuk melakukan apa yang telah dilakukan oleh Cut Nyak Dhien.

Ketiga, membentuk jiwa patriot dan Menegakkan Agama Allah. Cut Nyak Dhien dibesarkan dalam suasana memburuknya hubungan antara kerajaan Aceh dengan Belanda hingga terjadi perang terlama dalam catatan sejarah telah membentuk dan mempertebal jiwa patriotnya. Perjuangan berlanjut dengan meenggunakan taktik perang Gerilya. Selain mengusir penjajah juga upaya untuk menegakkan agama Allah yang dinamakan fi’sabililah yaitu perang di jalan Allah melawan kafir Belanda.

Keempat, guru para wanita dalam masa perang. Perjuangan Cut Nyak Dhien melawan Belanda hadir dalam bentuk upaya mengajar para wanita dalam hal mendidik bayi dan menanamkan semangat kepahlawanan melalui syair-syair hikayat perang Sabi yang menanam semangat jihad kepada anak-anak mereka.

Kelima, guru mengaji anak-anak di hutan belantara. Pada saat memasuki usia senja sepeninggal Teuku Umar antara 1900-1905 perang Gerilya yang diterapkan, di sekitar hutan Beutong dan kawasan hutan lainnya Cut Nyak Dhien dengan kondisi fisik sudah mulai melemah, sakit-sakitan, kekurangan obat-obatan, kekurangan makanan, sering kurang tidur, pindah dari tempat satu ke tempat lainnya masih sempat mengajarkan pengajian bagi anak-anak walaupun dengan lampu penerangan seadanya dan beralaskan tikar lusuh dan kertas plastik sebagai atap agar tidak ditimpa matahari dan hujan.

Keenam, teguh pendirian dalam pengorbanan. Dalam film Cut Nyak Dhien yang berdurasi 2 jam 7 menit 28 detik, kita bisa menyaksikan pada saat Cut Nyak Dhien sudah terkepung dan hendak ditangkap beliau masih sempat mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda. Pasukan Belanda yang begitu banyak akhirnya berhasil menangkap tangannya. Lalu Ia ditawan dan dibawa ke Banda Aceh. Sampai di dalam jeruji penjara bahkan sampai akhir hayatnya Cut Nyak Dhien tidak pernah menyerah terhadap Belanda.

Dan, ketujuh, menjadi guru pengajian di tempat pengasingan, di Sumedang, Jawa Barat. Di sini, warga setempat mengetahui bahwa kesehatan Cut Nyak Dhien yang sangat buruk dan nyaris tidak pernah keluar rumah. Kegiatan Cut Nyak Dhien terbatas hanya berzikir atau mengajari mengaji ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang berkunjung. Sesekali mereka membawakannya pakaian atau sekadar makanan pada perempuan santun, yang juga menguasai ilmu-ilmu agama Islam itu. Mereka memanggil Cut Nyak Dhien dengan sebutan Ibu Perbu (Ibu Ratu).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved